KITAB UZLAH (MENYEPI) DAN MUKHALATHAH (BEKUMPUL DENGAN ORANG BANYAK)

Ketahuilah sesungguhnya sebagian ulama’ salaf ada yang lebih memilih melakukan uzlah (menyepi) karena untuk mendapatkan beberapa faedahnya, seperti untuk selalu melakukan ibadah, merenungkan kebesaran Allah Swt dan mengajar ilmu. Dan agar selamat dari melakukan larangan-larangan agama yang biasanya di lakukan seseorang sebab bergaul dengan orang lain, seperti riya’, ghibah (menggunjing), diam tidak memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran, terpengaruh dengan akhlak tercela dan perbuataan-perbuatan jelek dari teman-teman bergaul dan hal-hal jelek lainnya.

Sedangkan mayoritas ulama’ salaf berpendapat bahwa sunnah untuk bergaul dengan orang lain, memperbanyak kenalan dan teman, saling menjalin kasih sayang dengan orang-orang mukmin, dan saling tolong-menolong dalam urusan agama, yaitu saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa kepada Allah Swt. Sesungguhnya faedah-faedah uzlah yang telah di jelaskan di atas juga bisa di dapatkan saat bergaul dengan orang lain, yaitu dengan memerangi dan mengalahkan hawa nafsu.

    Secara umum, bergaul dengan orang lain memiliki banyak faedah yang tidak bisa di dapat dengan uzlah. Maka jika kau bertanya, “apakah faedah-faedah dan dasar yang menganjurkan untuk bergaul dengan orang lain?.” Jawabannya adalah, ketahuilah bahwa faedah bergaul adalah bisa mengajar, belajar, memberi manfaat kepada orang lain, mendapat manfaat dari orang lain, mengajar dan belajar sopan santun, terhibur dan menghibur orang lain, mendapat dan memberi pahala dengan melaksanakan dan memenuhi hak, membiasakan tawadlu’, mendapatkan pengalaman dari melihat keadaan sekeliling dan mengambil tauladan darinya.

    [ ilmu dan mengajar ] keduanya merupakan ibadah yang paling utama di dunia, dan tidak akan bisa di lakukan kecuali dengan bergaul. Orang yang butuh belajar ilmu fardlu a’in, maka dia akan berdosa dengan melakukan uzlah. Orang yang mampu mendapatkan ilmu syareat dan memiliki akal sehat, maka dia dianggap rugi sekali jika melakukan uzlah sebelum belajar. Oleh sebab itu imam An Nakho’I dan yang lain berkata, “belajarlah ilmu fiqh kemudian baru uzlahlah.”

 Orang yang uzlah sebelum mempunyai ilmu yang memadahi, maka dia akan mengahabiskan waktu dengan tidur dan menghayal yang tidak-tidak. Paling maksimal yang akan dia lakukan adalah menghabiskan waktu dengan wirid-wirid secara keseluruhan, sedangkan amal perbuatan badan dan hatinya sama sekali tidak terlepas dari bermacam tipu daya. Kebanyakkan amal perbuatannya akan menjadi bahan tertawaan syetan, namun dia merasa termasuk ahli ibadah.

Ilmu adalah pondasi agama. Sama sekali tidak ada kebaikan di dalam uzlahnya orang awam dan orang-orang bodoh yang tidak mengerti dengan agama. Adapun pahala yang terdapat dalam mengajar itu sangatlah besar jika memang niat pengajar dan siswanya benar dan baik.

    [mendapatkan kemanfaatan dari orang lain] kemanfaaat ini dapat di raih dengan bekerja dan bertransaksi, karena hal ini tidak akan bisa di raih kecuali bergaul dengan orang lain. Orang yang bekerja dan bersedekah dari hasil pekerjaannya itu lebih utama daripada orang yang uzlah dan mensibukkan diri dengan melakukan ibadah sunnah.

    [memberi manfaat pada orang lain ] yaitu memberi manfaat pada orang banyak dengan harta atau tenaga. Memenuhi kebutuhan mereka karena allah Swt. Bangkit untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin memiliki pahala besar yang tidak mungkin bisa di dapat kecuali berinteraksi dengan mereka. Orang yang mampu melakukan hal itu dengan menjaga batas-batas syareat, maka itu lebih utama daripada melakukan uzlah.

    [Mengajar sopan santun dengan menasihati orang lain dan belajar sopan santun] yang saya kehendaki dengan hal ini adalah berlatih menghadapi sikap kasar orang banyak dan berusaha menahan derita akibat perbuatan mereka, karena untuk mengalahkan nafsu dan menekan kesenangan-kesenangannya. Semua ini termasuk diantara faedah-faedah yang bisa di raih dengan bergaul dengan orang lain.

    [Terhibur dan menghibur] hal ini di sunnahkan ketika bertujuan untuk agama. Yaitu orang yang bisa menghibur dengan melihat keadaan dan ucapan-ucapannya di dalam agama. Karena terkadang hal ini berhubungan kesenangan nafsu saja. Mencari hiburan itu di sunnahkan ketika tujuannya menghibur hati agar bisa mendorong kesemangatan  melakukan ibadah, sebab ketika hati susah maka menjadi buta.
Nafsu tidak akan selalu senang melakukan kebaikan selama tidak semangat dan bahagia. Memaksakan untuk selalu melakukan kebaikan tanpa ada hiburan sama sekali itu akan menyebabkan bosan dan tidak lagi ingin melakukannya.

Sesungguhnya Ibn Abbas Ra berkata, “seandainya tidak ada kekhawatiran terhadap gangguan syetan (waswas), maka aku tidak akan pernah duduk-duduk bersama orang lain.”

Kalau demikian, maka orang yang uzlah akan membutuhkan teman yang bisa menghibur dengan melihat dan bercengkrama dengannya dalam satu waktu di siang dan malam hari. maka dia harus berusaha mencari orang yang tidak sampai merusak amal perbuatan yang telah di lakukannya dalam waktu yang lama hanya karena bersama orang tersebut dalam satu waktu saja.

Sesungguhnya baginda Nabi Muhammad Saw bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالَلُ
 “seseorang akan mengikuti agama kekasihnya, maka lihatlah orang yang akan kalian jadikan kekasih.”

 Saat bertemu dengan seorang teman, maka hendaknya yang dia suka adalah hanya berbicara tentang masalah agama dan hanya sebatas menetapi kebenaran. Maka semua ini sudah bisa menyenangkan hati dan memberi peluang yang luas bagi orang yang sibuk untuk memperbaiki dirinya.

[mendapatkan pahala] yaitu dengan menghadiri prosesi jenazah, menjenguk orang-orang sakit, juga menghadiri jama’ah dalam berbagai bentuk sholat, karena tidak ada toleransi untuk meninggalkan jama’ah kecuali karena ada kekhawatiran terjadi dampak negatif yang sebanding dengan fadilah sholat berjama’ah atau melebihinya, namun kekhawatiran semacam ini sangat jarang sekali terjadi. Begitu juga dengan menghadiri perkumpulan dan undangan-undangan, maka dia akan mendapatkan pahala sebab telah membuat hati orang islam bahagia.

[memberikan pahala] yaitu dengan memberi izin kepada orang lain untuk menjenguk dan ta’ziyah padanya saat terkena mushibah, serta ucapan selamat dari mereka atas nikmat-nikmat yang di dapat. Maka dengan melakukan semua itu mereka akan mendapatkan pahala.

Hendaknya dia membandingkan antara pahala pergaulan-pergaulan ini dengan dampak negatif pergaulan yang telah aku jelaskan. Ketika di bandingkan, maka terkadang yang lebih unggul adalah uzlah dan terkadang yang unggul adalah berinteraksi dengan orang lain.

    [rendah diri (tawadlu’)] tawadlu’ merupakan diantara derajat yang paling utama dan seseorang tidak akan mampu mencapainya dalam kesendirian. Terkadang rasa sombonglah yang menyebabkan orang lebih memilih melakukan uzlah. Atau khawatir tidak di muliakan saat berkumpul dengan orang banyak, khawatir tidak di posisikan di depan, atau merasa tidak layak bergaul dengan orang lain agar mereka memuliakan derajatnya dan berusaha menampakkan kepada orang banyak bahwa dirinya adalah ahli ibadah dan juhud.

    Tanda-tanda orang seperti ini adalah mereka senang di kunjungi dan tidak suka berkunjung, dan bahagia karena orang-orang awam dan para pejabat mendekat pada mereka.. Seandainya menyibukkan diri sendiri adalah peyebab dia tidak senang bergaul dengan orang lain dan tidak suka di kunjungi, niscaya dia tidak akan senang di kunjungi orang banyak, namun penyebab sebenarnya dia menyepi adalah karena sangat sibuk dengan orang banyak, karena sesungguhnya hatinya selalu ingin agar orang-orang memandangnya dengan pandangan memuliakan dan menghormati.

Uzlah yang di latar belakangi hal seperti ini merupakan kebodohan di tinjau dari beberapa aspek. Pertama, sesungguhnya tawadlu’ dan bergaul dengan orang lain tidak lebih baik dari derajat orang yang sombong dengan ilmu dan agamanya.

Kedua, sesungguhnya orang yang berusaha mencari keridloan orang banyak dan berusaha agar penilaian mereka padanya menjadi baik, maka dia adalah orang yang terbujuk (maghrur). Karena seandainya dia mengetaui Allah Swt dengan sebenar-benarnya, maka dia akan mengetahui bahwa seluruh makhluk sama sekali tidak akan mampu mencukupinya tanpa pertolongan Allah Swt, sesungguhnya bahaya dan manfaat atas dirinya semuanya dalam kekuasaan Allah Swt, bahkan mencari simpatik orang banyak adalah tujuan yang tidak akan bisa di capai. Maka ridlo Allah Swt lah yang lebih utama untuk di cari.

Oleh sebab itu imam Asy Syafi’i berkata kepada Yunus ibn Abdul A’la, “demi Allah, aku tidak akan mengatakan kecuali nasihat. Sesungguhnya tidak ada jalan selamat dari manusia. Renungkan sesuatu yang bisa membuat baik padamu, maka lakukanlah”.

Kalau demikian maka sesungguhnya orang yang menahan diri di rumah agar anggapan orang-orang baik padanya, sebenarnya dia dalam kesulitan yang nyata di dunia ini, dan sesungguhnya siksa akhirat itu lebih besar seandainya manusia mengetahuinya.

Secara global, maka tidak disunnahkan melakukan uzlah kecuali bagi orang yang menghabiskan waktunya untuk ilmu, sekira kalau bergaul dengan orang   banyak maka waktunya akan terbuang sia-sia atau banyak berdampak negatifnya.

    [pengalaman (tajarrub)] sesungguhnya pengalaman akan bisa di dapat dari pergaulan dengan orang lain dan melihat perjalanan keadaan serta sikap mereka. Akal saja tidak cukup untuk memahami kebaikan-kebaikan (masholih) dalam masalah agama dan duniawi. Pemahaman terhadap semua itu hanya bisa di dapat dari pengalaman dan percobaan. Tidak ada kebaikan sama sekali di dalam uzlahnya orang yang belum mempunyai pengalaman.

Ketika anak kecil melakukan uzlah, maka dia akan tetap menjadi orang yang bodoh, bahkan yang lebih baik dia sibuk belajar dan dalam masa belajar dia akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang di butuhkannya. Pengalaman-pengalaman yang lain akan di dapat dengan mendengarkan kejadian dan keadaan-keadaan di sekililingnya. Kebodohan akan menyebabkan banyak amal perbuatan yang musnah tidak berbekas. Dengan ilmu, maka amal perbuatan sedikit akan menjadi meningkat dan berkembang.
Seandainya tidak demikian, niscaya ilmu tidak akan lebih unggul di banding amal (tanpa ilmu).

Sedangkan syareat telah menetapkan bahwa orang yang alim lebih utama dari pada orang yang ahli ibadah, sehingga baginda Nabi Muhammad Saw bersabda,

فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِيْ عَلَى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِيْ
 “keutamaan orang alim di atas ‘abid (ahli ibadah) itu seperti keutamaanku di atas lelaki yang paling rendah derajatnya dari para sahabatku.”

    Ketika engkau sudah mengetahui faedah-faedah dan dampak negatif yang telah di jelaskan di depan, maka nampak jelas padamu mana yang lebih utama antara bergaul dengan orang lain atau uzlah. Dan sesungguhnya semua itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan orangnya.
(Sumber : BEKAL DAKWAH AL-GHOZALI jilid 1)

Baca juga artikel kami lainnya :  Kisah 25 Nabi dan Rasul Lengkap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer