Kewajiban-Kewajiban Atas Suami Dan Istri

Bagi suami maka harus tidak berlebihan dan menggunakan etika di dalam dua belas perkara, yaitu saat walimah, bergaul, bercanda, mengatur rumah tangga, cemburu, nafkah, mengajar, menggilir diantara istri, mengajar saat istri nusuz, jima’, memiliki anak dan saat bercerai.

    Etika pertama adalah walimah ursy. Hukum walimah ursy adalah sunnah.

    Sahabat Anas Ra berkata, “suatu ketika Rosulullah Saw pernah melihat bekas wewangian berwarna kuning di badan Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau Nabi bertanya, ‘apakah ini?,’ Abdurrahman menjawab, ‘saya telah menikahi seorang wanita dengan mas kawin emas seberat biji kurma’. ‘semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walaupun hanya dengan memotong satu kambing’, lanjut baginda Nabi Saw.”

    Saat menikah dengan dewi Shofiyah, baginda Nabi Saw mengadakan walimah dengan  hindangan kurma dan jenang sawiq.

    Bagi orang yang bertemu dengan mempelai pria, maka di sunnahkan mengucapkan selamat kepadanya dengan mengucapkan,
" بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ "
“ semoga Allah memberkahimu dan memberi berkah atas mu serta mengumpulkan kalian berdua di dalam kebaikan ”

    Di sunnahkan untuk mengadakan pernikahan secara terang-terangan. Baginda Nabi Muhammad Saw bersabda,
فَصْلُ مَا بَيْنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ الدَّفُّ وَالصَّوْتُ
 “sesuatu yang memisahkan antara perkara yang halal dan haram adalah bunyi rebana dan mengeraskan suara.”

    Etika kedua adalah bersikap baik dengan para istri dan menahan rasa sakit dari mereka karena sikap belaskasih pada mereka. Allah Swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 19 :

Artinya : “ dan bergaullah dengan mereka secara patut ”.

    Di dalam menjelaskan betapa besarnya hak istri atas suaminya, Allah Swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 21 :

Artinya : “ bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat ”.

    Allah Swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 36 ;

Artinya : “ dan teman dekat ”.

    Ada yang mengatakan bahwa yang di maksud adalah istri.

    Etika baik bersama istri bukan hanya tidak menyakitinya, akan tetapi juga memaafkan kesalahannya, sabar saat istri rewel dan marah, karena mengikuti Rosulullah Saw. sesungguhnya perkataan beliau juga pernah di bantah oleh para istri beliau. ada juga salah satu istri beliau yang tidak meyapa beliau hingga malam hari.

    Etika ketiga, di samping seorang suami harus memaafkan kesalahan istri, dia juga hendaknya bercanda, bergurau dan memuji istrinya, karena hal itu bisa membuat hati seorang istri bahagia. Sesungguhnya Rosulullah Saw bercanda dengan para istri beliau dengan menyesuaikan derajat akal mereka di dalam amal dan akhlak. Beliau pernah mengajak sayyidah ‘Aisyah menonton permainan orang-orang Habasyah. Sayyidah ‘Aisyah menonton cukup lama hingga beliau Nabi Saw berkata padanya, “apakah sudah cukup!”.

    Baginda Nabi Muhammad Saw bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
 “sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya, dan aku adalah yang paling baik kepada istriku.”

    Sahabat Umar Ra berkata, “hendaknya seorang suami bergaul dengan istrinya seperti gayanya anak kecil.”

    Nabi saw bersabda pada sahabat Jabir,
هَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبْهَا وَتُلَاعِبْكَ
“ kenapa kamu tidak menikah dengan perawan sehingga kau bisa bercanda dengannya dan dia bisa bercanda denganmu!.”

    Ada seorang wanita A’robi yang mensifati suaminya yang telah tiada. Dia berkata, “demi Allah, sesungguhnya suamiku adalah orang yang suka bercanda saat berada di rumah, pendiam saat di luar rumah, memakan makanan yang ada dan tidak meminta makanan yang tidak ada.”

    Empat, tidak berlebihan saat bercanda dengan istri, bersikap baik dan tidak menuruti hawa nafsu istri hingga pada batas yang bisa membuat sikap istrinya tidak baik, dan bisa menjatuhkan wibawa suami secara total di mata istri. Akan tetapi hendaknya seorang suami melakukan semua itu secukupnya dan sewajarnya, tidak meninggalkan sikap wibawa dan tegas jika melihat kemungkaran. Sama sekali tidak membuka pintu pertolongan untuk melakukan kemungkaran. Bahkan setiap melihat sesuatu yang bertentangan dengan syareat dan harga diri, maka dia langsung menegor dan memarahinya.

    Dengan keadilanlah, langit dan bumi menjadi tentram. Setiap sesuatu yang melampaui batas maka akan menjadi ke balik-negatif-. Hendaknya tidak berlebihan di dalam menentang dan menuruti istri. Mengikuti kebenaran dalam semua itu agar dia selamat dari kejelekan para istrinya, karena biasanya para wanita itu memiliki sikap yang kurang baik. Sikap para wanita tidak akan baik kecuali di rubah dengan halus di sertai taktik / siasat. Bagi suami hendaknya melihat akhlak istrinya pertama dengan mencobanya, kemudian menggaulinya dengan sikap yang bisa membuat istrinya baik sesuai dengan keadaan sang istri.

    Lima, tidak berlebihan ketika cemburu. Yang di kehendaki dengan tidak berlebihan saat cemburu, yaitu tidak lalai –ceroboh- dengan permulaan hal-hal yang di khawatirkan akan menimbulkan dampak negatif, namun tidak berlebihan hingga su’udzon, mempersulit atau meneliti hingga terlalu dalam. Sesungguhnya baginda Nabi Muhammad Saw melarang untuk meneliti keburukan-keburukan istri.

Dalam satu riwayat beliau melarang untuk mendatangi para istri secara tiba-tiba hingga mengejutkan.

    Ketika baginda Rosul Saw datang dari bepergian, maka sebelum masuk Madinah, beliau bersabda,
لَا تَطْرُقُوْا النَّسَاءَ لَيْلًا
 “kalian jangan mengetuk pintu rumah di malam hari -saat istri tertidur-.”

Namun ada dua orang yang tidak menuruti perintah beliau ini, sehingga saat masuk rumah, mereka melihat sesuatu yang tidak mereka suka.

    Dalam sebuah hadits di sebutkan,
إِنَّ مِنَ الْغِيْرَةِ غِيْرَةً يُبْغِضُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهِيَ غِيْرَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ مِنْ غَيْرِ رَيْبَةٍ لِأَنَّ ذَلِكَ مِنْ سُوْءِ الظَّنِّ الَّذِيْ نُهِيْنَا عَنْهُ
 “diantara bentuk cemburu yang di benci oleh Allah Swt adalah kecemburuan seorang suami pada istri tanpa sebab yang jelas, karena hal ini termasuk bentuk su’udzon yang di larang bagi kita.”

    Sedangkan cemburu yang sesuai tempatnya -yaitu dengan sebab yang jelas-, maka termasuk hal yang terpuji.

    Sesungguhnya baginda Nabi Muhammad Saw memberi izin pada para istri beliau untuk datang ke masjid, terlebih ketika hari raya. Maka keluar rumah hukumnya mubah bagi wanita yang bisa menjaga diri dengan izin suaminya, akan tetapi berada di rumah itu lebih bisa selamat. Hendaknya seorang wanita tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang penting. Sesungguhnya keluar rumah untuk refresing dan hal-hal yang tidak penting itu bisa menjatuhkan harga diri, bahkan terkadang akan menimbulkan dampak negatif.

    Ketika seorang wanita keluar rumah, maka hendaknya menutup mata dari laki-laki. Bukan berarti saya mengatakan bahwa wajah lelaki itu adalah aurat bagi wanita sebagaimana wajah wanita adalah aurat bagi lelaki, akan tetapi wajah lelaki bagi wanita seperti wajahnya amrad bagi orang laki-laki dewasa, yaitu melihatnya hanya haram ketika khawatir terjadi fitnah, dan jika tidak khawatir maka tidak haram. karena sepanjang masa wajah laki-laki itu akan selalu terbuka, berbeda dengan para wanita yang biasanya keluar rumah dengan menggunakan cadar. seandainya wajah kaum pria itu di hukumi aurat bagi kaum hawa, niscaya mereka di perintah untuk bercadar dan di larang keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat / terpaksa.

    Enam, tidak berlebihan di dalam memberi nafkah. Hendaknya tidak terlalu ngirit dan tidak terlalu boros, akan tetapi sewajarnya. Allah Swt berfirman dalam surat Al A’raf ayat 31 :
 
Artinya : “ Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

    Imam Ibn Sirin berkata, “bagi seorang suami hendaknya menyediakan manisan untuk kelurganya setiap hari Jum’at.”

    Hendaknya bagi suami menyuruh istrinya mensedekahkan sisa-sisa makanan dan perkara-perkara yang bisa membusuk jika di biarkan. Ini adalah minimal tingkatan kebaikan. Bagi seorang istri di perkenankan melakukan semua itu dengan melihat keadaan yang ada, walaupun suaminya tidak secara tegas memberi izin padanya.

    Hendaknya bagi seorang suami tidak memakan makanan yang enak-enak sendirian tanpa memberikannya pada keluarganya juga. Karena hal itu bisa membuat hati panas dan jauh dari bentuk mu’asyarah –bergaul- yang baik. Hendaknya tidak menyebutkan makanan-makanan di dekat keluarganya, jika tidak ingin untuk memberikan makanan tersebut pada mereka. Ketika makan, maka hendaknya dia mengajak keluarganya untuk makan. Sesuatu yang paling penting yang wajib dia lakukan adalah memberi nafkah keluarganya dengan barang halal. Tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan jelek demi istrinya, karena hal itu bisa mencelakakannya bukan menjaganya.

    Tujuh, bagi orang yang menikah maka harus belajar tentang haidl dan hukum-hukumnya, yaitu sesuatu yang bisa menjaga hal-hal yang wajib. Bagi seorang suami harus mengajari istrinya tentang hukum-hukum sholat. Menyuruhnya agar takut kepada Allah Swt jika teledor dan sembrono dalam urusan agama. Ketika seorang suami sudah bisa mengajar istrinya, maka bagi sang istri tidak di perkenankan keluar rumah untuk bertanya kepada para ulama’. Ketika seorang suami tidak mampu mengajar sendiri -karena keterbatasan ilmu-, akan tetapi dia berkenan pergi sendiri untuk bertanya kepada orang yang pintar dan menyampaikannya pada istrinya, maka bagi sang istri tidak di perkenankan keluar rumah. Namun jika semua hal di atas tidak terpenuhi, maka bagi istri di perkenankan keluar rumah untuk bertanya kepada para ulama’. Bahkan baginya wajib melakukannya dan berdosa bagi suami jika melarangnya.

    Delapan, jika dia memiliki beberapa istri, maka wajib berbuat adil diantara mereka, dan tidak hanya condong pada sebagiannya saja. Jika hendak bepergian dan ingin mengajak salah satunya, maka harus mengundi diantara mereka. Jika telah berbuat dhalim pada salah satu istrinya dengan tidak memenuhi gilirannya di waktu malam, maka wajib baginya untuk mengqodlo’inya. Bagi seorang suami hanya harus berbuat adil di dalam nafkah dan menginap diantara istri-istrinya. Sedangkan masalah cinta dan jima’ tidak harus sama rata, karena melakukan kedua hal ini secara sama diantara istrinya, itu diluar kemampuan manusia. Saat baginda Nabi Muhammad Saw sakit, maka beliau ditandu setiap hari -untuk menggilir istri-istrinya- dan menginap setiap malam di sisi setiap istrinya. Ketika salah satu istrinya memberikan gilirannya pada istri yang lain, maka dia berhak memilikinya.

    Sembilan, memperbaiki / mendidik istri yang nusyuz -tidak patuh pada suami-. Ketika terjadi perseteruan diantara suami istri dan keadaan sudah memburuk, maka jika peyebabnya dari kedua belah pihak atau dari pihak suami, dan istri tidak mampu menguasai dan memperbaiki suaminya, maka di cari hakamain -dua juru damai-. Satu dari pihak suami dan satu lagi dari pihal istri, agar mereka melihat keadaan sebenarnya kedua mempelai, dan berusaha mendamaikannya -jika kedua mempelai ingin berdamai niscaya Allah akan memberikan pertolongan-.

Sedangkan jika yang nusuz hanya dari pihak istri, maka bagi suami di perkenankan mendidik / memperbaikinya dan memaksanya agar kembali taat. Akan tetapi hendaknya bertahap dalam memperbaiki. Yaitu pertama menasehati dan menakut-nakuti. Jika tidak berpengaruh, maka memalingkan punggung saat di tempat tidur, atau tidur sendiri dan mendiamkannya selama tiga malam namun keduanya masih serumah. Jika tetap tidak mempan, maka di perkenankan memukul dengan pukulan yang tidak meyakitkan, dan tidak memukul wajah karena hal itu di larang oleh agama.

    Sepuluh, etika saat melakukan hubungan suami istri. Sunnah berbincang-bincang dan bercanda sebelum melakukan jima’. Bagi suami sunnah menutup kepala dan memelankan suara. Jika hajatnya sudah terpenuhi -keluar sperma-, maka sunnah baginya untuk menanti istrinya hingga hajatnya juga tercapai. Tidak menjima’ istrinya dalam keadaan haidl sampai suci. Namun baginya di perkenankan bersenang-senang dengan seluruh badan istrinya yang sedang haidl kecuali bagian farji. Dan tidak di pernakenankan menjima’ di selain vagina –dubur-. Sebab hukum haram menjima’ istri yang sedang haidl itu karena terdapat kotoran di badannya. Sedangkan kotoran yang berada di selain vagina –dubur- itu akan selalu ada, sehingga hukumnya lebih haram di banding menjima’ istri yang sedang haidl.

Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 223 :

Artinya : “ isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki ”.

Yaitu kapanpun kalian menghendaki. Bagi suami di perkenankan mengeluarkan sperma dengan tangan istrinya, dan bersenang-senang dengan seluruh badan istrinya selain jima’. Di perkenankan makan bersama istri dan berkumpul seranjang atau kegiatan-kegiatan yang lain. Bagi suami di perkenankan bersama istri saat makan, tidur dan aktifitas yang lain.

Diantara etika yang baik adalah bagi suami tidak melakukan ‘Ajl -mengeluarkan sperma di luar rahim-, sebab tidak ada makhluk hidup yang di takdirkan oleh Allah Swt untuk wujud kecuali pasti wujud. Jika suami melakukan ‘ajl, maka sebagian ulama’ menghukumi mubah dan sebagian lagi menghukumi halal jika di sertai kerelaan dari istri. Namun jika tidak rela, maka hukumnya haram sebab bisa menyakiti sang istri, sedangkan pendapat yang shohih adalah pendapat yang pertama.

Dalam Shohih Bukhari Muslim dari riwayat Jabir Ra di sebutkan, bahwa beliau berkata, “kita pernah melakukan ‘ajl di masa Rosulullah Saw, dan Al Qur’an masih di turunkan.” Dalam redaksi hadits yang lain di sebutkan, “kami pernah melakukan ajl dan hal itu sampai kepada Nabiyullah Saw, dan beliau tidak melarang kami.”

Terkadang motif untuk melakukan ajl adalah untuk mempertahankan kecantikan dan gemuknya istri karena agar kenikmatan berhubungan suami istri tetap terjaga. Terkadang karena untuk menyelamatkan nyawa istri, karena khawatir bahaya jika melahirkan. atau khawatir kesulitan jika banyak anak dan menghindar dari kesulitan untuk bekerja keras dan melakukan hal-hal negatif - jika banyak anak-. Karena ketika tidak terlalu kesulitan, maka dia akan lebih tertolong untuk melakukan hal-hal agamis.

Sebelas, etika saat istri melahirkan. Ada lima etika ketika istri melahirkan :

Pertama, tidak terlalu senang jika yang lahir bayi laki-laki dan tidak bersedih jika bayi perempuan. Sebab dia tidak tahu sebenarnya yang terbaik baginya itu bayi laki-laki atau perempuan. Banyak sekali orang yang memiliki bayi laki-laki namun dia berharap tidak memilikinya atau berharap memiliki bayi perempuan, bahkan pahala yang terdapat pada bayi perempuan itu lebih banyak.

Sahabat Anas Ra berkata, “Rosulullah Saw bersabda, ‘barang siapa memiliki dua putri atau dua saudara perempuan dan dia bergaul baik dengan keduanya, maka aku dan dia di sorga seperti kedua jari ini’.”

Dua, suami hendaknya mengumandangkan adzan di telinga bayi sesaat setelah di lahirkan. Tiga, memberi nama yang baik. Bagi orang yang memiliki nama yang jelek, maka sunnah untuk menggantinya. Empat, melaksanakan aqiqah dengan menyembelih dua domba jika bayi laki-laki, dan satu kambing jika bayi perempuan. Dan bersedekah emas atau perak seberat rambut bayi yang di cukur. Lima, mencetak bayi dengan kurma atau manisan, karena hal itu telah di riwayatkan dari apa yang telah di lakukan oleh baginda Nabi Muhammad Saw.

Dua belas tentang talak / perceraian. Perceraian adalah perbuatan mubah yang paling di benci oleh Allah Swt. Perceraian itu hukumnya mubah jika memang tidak terdapat unsur menyakiti secara batil. Ketika suami menceraikan istrinya, maka sesungguhnya dia telah menyakitinya, sehingga tidak di perkenankan melakukan hal lain yang bisa menyakiti kecuali karena akibat perbuatan istri atau suami terpaksa melakukannya. Allah Swt berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 34 :

artinya : “ kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar ”.

 Maksudnya jangan mencari-cari cara agar bisa bercerai.

Jika ayah suami tidak menyukai istrinya tanpa tujuan yang tidak benar, maka hendaknya dia menceraikan istrinya karena sebagai bentuk berbakti kepada orang tua. Ketika istri menyakiti suami atau keluarga suami, maka dia telah melakukan kesalahan. Begitu juga ketika etika istrinya tidak baik atau agamanya rusak.

Jika suami menyakiti sang istri, maka bagi istri di perkenankan menebus dirinya dengan meyerahkan harta -khulu’-. Dan bagi suami di makruhkan mengambil harta lebih banyak dari apa yang telah dia berikan kepada istrinya, sebab hal itu dianggap dhalim dan memberatkan kepada istri, serta seakan dia memperdagangakan vagina. Allah Swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 229 :
 
Artinya : “ jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya ”.

Maka meminta sesuai ukuran yang telah di ambil oleh istri -dari suami- atau sebawahnya itu layak di sebut dengan tebusan (fida’). Jika seorang istri meminta cerai tanpa kesalahan dari suami, maka dia adalah orang yang berdosa.

Kemudian bagi suami yang hendak menceraikan istrinya maka harus memperhatikan empat perkara :
Pertama, menjatuhkan talak saat istri dalam keadaan suci dan belum di jima’ -dalam masa suci tersebut-. Karena menjatuhkan talak saat istri haidl atau suci dan telah di jima’ pada masa suci tersebut, maka di sebut talak bid’I dan hukumnya haram walaupun talaknya tetap sah. Sebab menjatuhkan talak dalam keadaan demikian akan memperlama masa iddah istri. Kalau terlanjur di lakukan, maka hendaknya melakukan rujuk, hingga istri mengalami suci, haidl dan suci lagi. Kemudian terserah apakah mau menceraikan ataukah tidak.

Kedua, hanya menjatuhkan talak satu. Karena sesungguhnya dengan talak satu, maksud perceraian sudah tercapai dan bisa rujuk jika ternyata di masa iddah dia menyesal telah bercerai. Sedangkan jika menjatuhkan talak tiga kemudian menyesal, maka sang istri harus di nikahi oleh muhallil terlebih dahulu sehingga dia harus bersabar cukup lama. Sedangkan mensekenario muhallil hukumnya di larang jika yang melakukan adalah suaminya.

Ketiga, memberikan alasan secara halus kepada istri yang akan di cerai, dengan tanpa berbuat kasar dan menghina. Menghibur hati sang istri dengan memberikan hadiah sebagai bentuk pelipur lara sebab bercerai. Allah Swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 236 :

artinya : “ dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), Yaitu pemberian menurut yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Sayyidina Hasan bin Ali Ra pernah mengutus sebagian sahabatnya untuk menceraikan kedua istri beliau. Beliau berpesan, “katakan pada keduanya, ‘lakukanlah iddah’.” Beliau juga memerintahkan agar masing-masing dari keduanya di beri sepuluh ribu dirham.

Empat, bagi suami tidak di perkenankan menyebar luaskan rahasia istrinya, baik ketika bercerai atau saat akad nikah. Sebab ada ancaman yang sangat berat jika sampai menyebar luaskan rahasia istri.
(Sumber : BEKAL DAKWAH AL-GHOZALI jilid 1)

Baca juga artikel kami lainnya :  Perbedaan Nabi dan Rasul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer