Hadits shahih bukhari muslim : ULAMA PENYUSUN ENAM KITAB HADITS

Hadits shahih bukhari muslim : ULAMA PENYUSUN ENAM KITAB HADITS

Berikut kami ketengahkan para ulama yang menyusun enam peringkat kitab hadits (Kutubus Sittah), ialah Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasal, dan Imam Ibnu Majah

1. Imam Bukhori (194-256 H / 810 — 870 M)
Nama lengkap Imam Bukhori adalah Abu Abdullah Muhammact bin Ismail bin Ibrohim bin al-Mughiroh bin Bardizbahal al-Bukhori. Ia lahir di Bukhoro, dari keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya yang meninggal sewaktu Bukhori masih kecil, adalah seorang yang 'alim dan taqwa.

Sejak kecil Bukhori sudah menampakkan kepribadian yang mulia, serta memiliki kecerdasan dan daya hafalan yang luar biasa. Ia sudah mempelajari hadits sebelum genap berusia sepuluh tahun. Pada usia sebelas tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan sanad hadits. Ketika berusia lima belas tahun, ia sudah hafal kitab Ibnu Mubarok dan Waqi, serta mampu memahami pendapat ahlu ro'yi (rasionalis), ushul dan mazhab mereka. Dan pada usia delapan belas tahun, ia telah menulis kitab Qoda ya as-Sahabat wa at-Tabi'in

Untuk memperluas dan memperdalam pengetahuannya tentang hadits, Bukhori melawat ke berbagai negeri seperti Irak, Syiria, Mesir, Kuffah, Basroh, Khurasan, dan lain sebagainya. Di negeri-negeri tersebut ia menuntut ilmu pada banyak ulama hadits terkemuka, di antaranya ialah 'Ali bin al-Madini, Ahmad, bin Hambal, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin Ibrohim al-Balkhi, dan Ibnu Rowaih. Dalam pengembaraannya ia selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Bahkan ia sempat menghafal 100000 hadits shohih dan 200000 hadits tidak shohih.

Imam Bukhori telah menulis sejumlah buku, antara lain: 1) al-Qiro'ah Kholfal Imam; 2) al-Musnad al-Kabir; 3) at-Tafsir al-Kabir; 4) at-Tarikh as-Saqir; 5) at-Tarikh al-Awsat; 6) Kitabul l'Ial; 7) Adabul Mufrod; 8) Kitab ad-Dhuafa'. Satu di antara karyanya yang terbesar dan terpopuler sampai kini hanya al-Jami' as-Shohih yang menduduki peringkat pertama dalam Kutubus Sittah.

Keluasan pengetahuan Imam Bukhori sebagai ulama hadits terbukti dari pengakuan dan pujian guru-gurunya, kawankawannya, dan 'ulama hadits sesudahnya. Abu Hatim ar-Rozi berkata, "Khurasan belum pernah melahirkan seorang ulama yang melebihi Bukhori. Di Irak pun belum ada yang menandinginya." Kemudian diceritakan oleh al-Hakim bahwa suatu hari Imam Muslim datang kepadanya dan memohon, "Biarkanlah aku mencium kedua kakiamu wahai guru dari segala guru hadits."

2. Imam Muslim (202-261 H / 817-875)
Nama lengkap Imam Muslim ialah Abdul Husain bin alHajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Pria kelahiran Naisabur ini mempelajari hadits sejak kecil, tepatnya pada awal usia belasan tahun. Demi menimba ilmu hadits, ia merantau ke berbagai negeri. 'Ulama-'ulama hadits terkemuka yang menjadi gurunya, antara lain Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rohawaih (keduanya 'ulama Khurasan), Muhammad bin Mahron dan Abu Ansan (di Ray), Ahmad bin Hanbal, dan Abdullah bin Maslamah (Irak), Sa'id bin Mansyur, dan Abu Mas'ab (Hijaz), 'Amar bin Sawad, dan Harmalah bin Yahya (Mesir) serta Imam Bukhori di Baghdad.

Imam Muslim merupakan orang kedua setelah Imam Bukhori baik dalam hal kedudukan, keluasan pengetahuan haditsnya dan keistimewaan-keistimewaannya. Hal ini terjadi, mungkin karena ia murid dari Imam Bukhori. Kedalaman ilmunya, terutama di bidang hadits yang menyebabkan para ulama pada masanya berguru kepadanya. Kedalaman ilmunya pula yang mendatangkan pujian dari para 'ulama semasanya dan sesudahnya. Al-Khotib al-Baghdadi memberikan kesaksian, "Muslim telah meneruskan langkah Bukhori, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jejaknya."

Abu Quraisy menyatakan, "Di dunia ini orang yang benarbenar ahli hadits hanya empat orang, di antaranya ialah Muslim." Maksudnya adalah ahli hadits yang terkemuka pada masa Abu Quraisy.

3. Imam Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
Nama lengkap Imam Abu Dawud ialah Sulaiman bin alAsy'as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi. Ia lahir di perkampungan Sijistan dekat Basroh. Sejak kecil ia sud menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan bergaul deigan para 'ulama di daerahnya. Setelah menginiaf dewasa, untuk memperluas pengetahuannya ia melanglar- buana ke Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan Khurasan. Ia berhasil menimba ilmu dari beberapa 'ulama penghafal hadits, antara lain: Achmad bin Hanbal, Ahmad bin Roja', Abdul Walid atTayalisi, Abu Amar ad-Darir, dan Al-Qon'abi.

Setelah menjadi ulama besar, atas permintaan penguasa Basroh —Kholifah al-Muwafaq, Abu Dawud menetap di Basroh. Ia menjadi guru dan menyebar-luaskan ilmunya di sana sampai akhir hayatnya. Dan ia termasuk ulama yang mencapai derajat tinggi dalam kesucian diri, kesalehan, dan beribadah. Al Hafiz Musa bin Haris memujinya, "Abu Dawud diciptakan untuk hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia." Ibrohim al-Harbi, seorang 'ulama hadits berkomentar: "Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi telah dilunakkan bagi Nabi Dawud." Perumpamaan Ibrohim ini menunjukkan keistimewaan Abu Dawud, sebab dia telah mempermudah yang rumit.

Abu Dawud telah menulis sejumlah kitab, antara lain: 1) Kitab al-Marosil; 2) Kitab al-Qodar; 3) an-Nasikh wal Mansukh; 4) Fadhoilul A'mal; 5) Ibtida'ul Wahyu; dan 6) az-Zuhud. Dan kitabnya yang masih dijadikan rujukan oleh masyarakat luas sampai kini adalah Sunan Abu Dawud

4. Imam Tirmidzi (209-279 H / 824-892 M)
Nama lengkap Imam Tirmidzi ialah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Sauroh bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami al-Bugi. Ia lahir di kota Tirmiz, Tadjikistan. Sebagaimana para ahli hadits yang lain, sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu hadits. Guna memperluas ilmu yang ditekuninya, ia pun merantau ke berbagai negeri antara lain: Hijaz, Irak, dan Khurasan. Ia menimba ilmu hadits dari beberapa ulama besar, antar lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Mahmud bin Ghoilan, Sa'id bin Abdurrohman, Muhammad bin Basysyar, 'Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, dan Muhammad bin al-Musanna.

Sebagai ulama hadits, ia terkenal saleh, takwa, jujur, sangat teliti, dan kuat hafalannya. Kemuliaan clan keluasan ilmunya ini mendapat pujian dari al-Hakim Abu Abdullah, "Saya mendengar 'Umar bin 'Ak berkata: 'Imam Bukhori wafat dan tidak meninggalkan 'ulama penggantinya di Khurasan seperti Abu Isa at-Tirmizi dalam bidang ilmu, kekuatan hafalannya, waro', dan kezuhudannya."

Kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Tirmizi, adalah: 1) al-Illat; 2) at-Tarikh; 3) as-Syama'il an-Nabawiyah; 4) az-Zuhud; 5) al-Asma wal Kuna dan 6) al Jami' yang disebut Sunan at-Tirmizi yang paling popular hingga saat ini. Dalam kitab ini Imam Tirmidzi tidak hanya meriwayatkan hadits-hadits shohih saja, melainkan juga hadits hasan, ghorib, dan mu'allaq dengan menerangkan kelemahannya.

5. Imam Ibnu Majah (209-273 H / 824-887 M)
Nama lengkap Imam Ibnu Majah ialah Abu 'Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Robi'i al-Qozwini. Lelaki kelahiran Qozwin ini seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama tentang hadits dan periwayatnya. Ia pun menjelajah beberapa negeri untuk menimba ilmu hadits, antara lain: Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kuffah, dan Basroh.

Imam Ibnu Majah berguru dan meriwayatkan hadits dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Namir, Hisyam bin Ammar, Muhammad bin Rum, Ahmad bin al-Azhar, Basyir bin Adam. Tentang kehebatannya bisa disimak dari pujian Ibnu Katsir, seorang ahli hadits, "Ibnu Majah adalah seorang penulis kitab Sunan yang masyhur. Kitab itu bukti dari amal data ilmunya yang luas."

Karya-karya Imam Ibnu Majah, antara lain: 1) Tafsir al-Quran 2) at-Tarikh yang berisi sejarah sejak masa sahabat sampai Ibnu Majah; dan 3) as-Sunan yang terdiri dari 32 jilid, dan 1500 bab.

Kitab as-Sunan itulah karya Imam Ibnu Majah terbesar yang masih beredar sampai sekarang. Kitab yang menghimpun 4000 hadits ini disusun berdasarkan sistematika fiqih. Penyajiannva dimulai dengan bab "Mengikuti Sunnah Rosulullah saw." yang membahas hadits tentang kekuatan sunnah, dan kewajiban untuk mengikuti sekaligus mengamalkannya.

6. Imam Nasai (215-303 H / 830-915 M)
Nama lengkap Imam Nasa'i ialah Ahmad bin Syu'aib bin 'Ali bin Sinan bin Bahar al-Khurasani al-Qodi. Ia lahir dan dibesarkan di Nasa'. Sejak dini ia belajar menghafalkan al-Qur-an dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dari guru-guru madrasah di negerinya. Selain itu ia senang mengembara untuk menuntut ilmu hadits. Usianya belum genap lima belas tahun ketika ia pergi ke Hijaz, Irak, dan Mesir. Di sanalah ia menimba ilmu hadits dari 'ulama-'ulama terkenal saat itu. Guru-gurunya antara lain Qutaibah, Ishaq bin Rohawaih, al-Harits bin Miskin, 'Ali bin Khosrom, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi.

An-Nasa'i dikenal berpendirian teguh, pantang menyerah dalam membela sunnah, dan taat menjalankan ibadah baik siang maupun malam hari. Ia juga menjalankan puasa Nabi Dawud as., yakni sehari puasa sehari berbuka demikian seterusnya sampai akhir hayatnya.

An-Nasa'i adalah ulama hadits terkemuka pada masanya. Ia menetapkan syarat sangat ketat dalam menerima hadits dan sangat hati-hati dalam mengkritik para perawi. Itu tercermin dari pujian Abu 'Ali Naisaburi, "Yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh 'ulama, ialah Abdurrohman an-Nasa'i. Syarat yang dipakai Nasa'i lebih ketat dibandingkan syarat yang digunakan oleh Muslim al-Hajj."

Selain seorang 'ulama ahli hadits, Imam Nasa'i juga ahli fiqih dalam mazhab Syafi'i. Itu bisa disimak dari pengakuan Daruquthni, "Di Mesir, Nasa'i adalah orang yang paling ahli di bidang fiqih pada masanya, dan paling mengetahui tentang hadits berikut para perawinya. Tentan mazhab fiqih yang dianut oleh Nasa'i bisa disimak dari pengakuan Ibnu Asir al-Jazairi yang menulis dalam pembukaan Jami'ul Ushulnya, "Nasa'i bermazhab Syafi'i dan mempunyai kitab manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Syafi'i."
Karya-karya an-Nasa'i antara lain: 1) as-Sunnatul Kubro; 2) as-Sunanus Sughro (terkenal dengan nama Mujtaba); 3) al-Khosa'is; 4) Fada'ilus Sahabah; dan 6) al-Manasik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer