Surat Dalam AlQuran

Surat Dalam AlQuran 
Surat-surat dalam Al-Qur'an tersebut terbagi dalam dua kelompok.

1. Surat Makkiyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Mekah (sebelum Nabi Muhammad hijrah). Jumlahnya 86 surat atau 19/ 30 dari isi Al-Qur'an. Ciri-ciri suratnya:

# ayat-ayatnya pendek-pendek;

# kebanyakan diawali dengan seruan "yaa ayyuhannas" (wahai manusia);

# umumnya menerangkan masalah keimanan, perintah, ancaman, pahala, dan kisah-kisah umat terdahulu agar dijadikan contoh bagi umat Muhammad saw.

2. Surat Madaniyyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Madinah (setelah Nabi Muhammad hijrah). Jumlahnya 28 surat atau 11/30 dari isi Al-Qur'an. Ciri-cirinya:

# ayat-ayatnya panjang-panjang;

# kebanyakan diawali dengan seruan "yaa ayyuhalladzina aamanu" (wahai orang-orang yang beriman), dan

# pada umumnya menerangkan tentang peraturan bermasyarakat, ketatanegaraan, serta masalah-masalah keduniawian lainnya.

Al-Qur'an berisi 114 surat, dan terdiri dari 6236 ayat. Sebagian ulama mengatakan, jumlah ayat Al-Qur'an 6666. Jumlah kalimatnya menurut hitungan sebagian para ahli tercatat 74.437 dan hurufnya sebanyak 325.345.

Ditinjau dari panjang-pendeknya, surat-surat dalam Al-Qur'an dapat dikelompokkan menjadi empat bagian:

1. Assab'uththiwaal, yakni tujuh surat yang sangat panjang. Terdiri dari Al Baqoroh, Ali Imron, An-Nisa', Al-'Arof, Al-An'am, Al Maidah dan Yunus.

2. Al-Miuun, yakni surat-surat yang panjangnya lebih dari seratus ayat, seperti Hud, Yusuf, Mu'min, dan sebagainya.

3. Al-Matsani, yakni surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat, seperti Al-Anfal, Al-Hijr, dan sebagainya.

4. Al-Mufashshol, yakni surat-surat pendek, seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nas, dan sebagainya.

114 surat yang terdapat dalam Al-Qur'an, sebagai beriktu:

1. Al-Fatihah atau ummul Qur'an, surat Makiyyah, 7 ayat.
Penamaan "Al-Fatihah" (pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al-Qur'an.
Dinamakan juga "Ummul Qur'an" (induk Al-Qur'an) atau "Ummul Kitab" (induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al-Qur'an, serta menjadi inti sari bagi kandungan Al-Qur'an, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sholat. Disebut pula "As-Sab'ul matsany" (tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat.

2. Al-Baqoroh (sapi betina), surat Madaniyah, 286 ayat.
Penamaan Al-Baqoroh karena di dalamnya terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai juga "Futshothul-Quran" (puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat lain. Disebut juga "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

3. Ali 'Imron (keluarga Imron), surat Madaniyah, 200 ayat.
Penamaan Ali 'Imron karena memuat kisah keluarga 'Imron yang di dalamnya disebutkan tentang kelahiran Isa as., persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam as., kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam, putri 'Imron, ibu nabi Isa as.
Surat Al-Baqoroh dan Ali 'Imron dinamakan "Az-Zahrowani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa as., kedatangan Nabi Muhammad saw. dan sebagainya.

4. An-Nisa' (wanita-wanita), surat Madaniyah, 176 ayat.
Penamaan An-Nisa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain. Surat lain yang banyak juga membicarakan tentang wanita adalah surat Ath-Tholaq. Dalam kaitan ini surat An Nisa' biasa disebut "Surat An-Nisa' AlKubro" (surat An-Nisa' yang besar), sedang surat Ath-Tholaq disebut "Surat An-Nisa' Ash-Shugro" (surat An-Nisa' yang kecil).

5. Al-Maidah (hidangan), surat Madaniyah, 120 ayat.
Penamaan Al-Maidah, karena memuat kisah para pengikut setia Nabi Isa as. yang meminta kepada beliau agar Allah SWT menurunkan untuk mereka Al-Maidah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112). Dinamakan juga "Al-uqub" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji setia terhadap Allah dan semua perjanjian yang mereka buat dengan sesamanya.

6. Al-An'am (binatang ternak), surat Makkiyah, 165 ayat
Penamaan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An-'am" dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

7. Al-'Arof (tempat tertinggi), surat Makkiyah, 206 ayat
Penamaan Al-'Arof karena perkataan "Al-'Arof" terdapat dalam ayat 46 yang mengemukan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al- 'Arof yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

8. Al-Anfal (rampasan perang), surat Madaniyah, 75 ayat.
Penamaan Al-Anfal karena selain kata "Al-Anfal" terdapat pada awal surat ini dan pokok persoalan yang dibahas juga tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat Ibnu Abbas ra. surat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar Kubro yang terjadi pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena perang itulah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam. Pada waktu umat Islam dengan kekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan perlengkapan yang cukup. Dan dalam peperangan ini umat Islam memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

9. At-Taubah (pengampunan), surat Madaniyah, 129 ayat
Penamaan At-Taubah karena kata "At-Taubah" berulang kali disebut dalam surat ini. Dinamakan juga dengan Baro'ah yang berarti berlepas diri. Maksudnya adalah pernyataan pemutusan hubungan, sebab kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

10. Yunus (nama nabi), surat Makkiyah, 109 ayat
Dinamakan Yunus karena sebagian besar isi surat ini menceritakan kisah Nabi Yunus as. dan para pengikutnya yang teguh imannya.

11. Huud (nama nabi), surat Makkiyah, 123 ayat
Penamaan Hud karena berkaitan dengan adanya kisah Nabi Hud as. dan kaumnya. Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh as., Sholeh as., Ibrohim as., Luth as., Syu'aib as., dan Musa as.

12. Yusuf (nama nabi), surat Makkiyah, 111 ayat
Surat ini dinamakan Yusuf karena titik berat dan isinya mengenai riwayat Nabi Yusuf as. Riwayat tersebut salah satu di antara cerita-cerita gaib yang diWahyukan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai mukjizat bagi beliau, sedang beliau sebelum diturunkan surat ini tidak mengetahuinya.

Menurut riwayat Al-Baihaqi dalam kitab "Ad-Dalail" bahwa segolongan orang Yahudi masuk agama Islam sesudah mereka mendengar cerita Yusuf as. ini. Karena sesuai dengan cerita-cerita yang mereka ketahui.

13. Ar Ro'du (petir/guruh), surat Makkiyah, 43 ayat
Penamaan Ar-Ro'du karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya", menunjukan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah SWT. Dan lagi sesuai dengan sifat Al-Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia. Isi yang terpenting dari surat ini adalah bahwa bimbingan Allah kepada mahluk-Nya berkaitan erat dengan hukum sebab akibat.

Bagi Allah SWT tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman. Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

14. Ibrohim (nama nabi), surat Makkiyah, 52 ayat
Penamaan Ibrohim, karena surat ini memuat do'a Nabi Ibrohim as., (ayat 35 s/d 41). Do'anya antara lain: pemohonan agar keturunannya mendirikan sholat, dijauhkan dari menyembah berhala serta agar Mekah dan sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Do'a Nabi Ibrohim as. ini diperkenankan oleh Allah SWT sebagaimana telah terbukti kota Mekah dan sekitarnya aman sejak dahulu sampai sekarang . Do'a tersebut beliau panjatkan ke hadirat Allah SWT usai membangun Ka'bah bersama puteranya Ismail as., di dataran tanah Mekah yang tandus.

15. Al-Hijr (batu gunung/nama sebuah pegunungan), surat Makkiyah, 99 ayat
Nama surat ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya, yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai 84. Mereka telah dimusnahkan Allah SWT karena mendustakan Nabi Sholeh as. dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah kaum lainnya yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth as. dan kaum Syu'aib as. Dari semua kisah itu dapat diambil pelajaran bahwa orang-orang yang menentang ajaran para rosul akan mengalami kehancuran.

16. An-Nahl (lebah), surat makkiyah, 128 ayat
Penamaan An-Nahl karena dalam ayat 68 terdapat firman Allah SWT, yang artinya: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".

Lebah adalah mahluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al-Qur'anul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat dari bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al-Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat (lihat QS. 10/Yunus: 57 dan QS. 17/Al-Isro': 82). Surat ini dinamakan juga An-Ni'am (nikmat-nikmat) karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hambaNya.

17. Al-Isro' (memperjalankan di malam hari), surat Makkiyah, 111 ayat
Penamaan Al-Isro berkaitan dengan peristiwa Isro' Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis tercantum pada ayat pertamanya. Penuturan cerita Isro' pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad saw. beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" (keturunan Israil) berhubung dalam ayat 2 sampai 8 dan akhir surat ini ayat 101 sampai 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah SWT. Dihubungkannya kisah "Isro" dengan riwayat Bani Israil pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

18. Al-Kahfi (gua), surat Makkiyah, 110 ayat
Nama Al-Kahfi dan "Ashhabul Kahfi" (penghuni-penghuni gua) diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini, (ayat 9 - 26), tentang beberapa orang yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, dalam surat ini terdapat pula beberapa kisah yang kesemuanya mengandung l'tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Banyak hadits Rosulullah saw. yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

19. Maryam (ibu Nabi Isa), surat Makkiyah, 98 ayat
Penamaan Maryam karena dalam surat ini terdapat kisah Maryam, Ibu Nabi Isa as. yang serba ajaib. Yakni melahirkan putra Isa as., tanpa pernah "bercampur" dengan lelaki manapun sebelumnya. Kelahiran Isa as. tanpa bapak merupakan suatu bukti kekuasaan Allah SWT. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu terkabulnya doa nabi Zakaria as. agar beliau dianugerahi seorang putra sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita. Padahal usia beliau kala itu sudah sangat tua dan istri beliau seorang yang mandul, yang menurut ilmu biologi tidak mungkin dapat mengandung.

20. Thoha, surat Makkiyah, 135 ayat
Nama Thoha diambil dari kata serupa pada ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, dimana huruf-huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukan hal-hal yang sangat penting diketahui. Demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf "thoha" dalam surat ini. Allah mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, pencipta semesta alam. Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa orang nabi akibat-akibat yang akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkariNya, baik di dunia maupun di akhirat.

21. Al-Anbiya' (nabi-nabi), surat Makkiyah, 112 ayat
Penamaan Al-Anbiya (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al-Anbiya' menegaskan bahwa manusia lalai dalam mengahadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa nabi Muhammad saw. Karena itu Allah menegaskan kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa tetapi mereka adalah manusia pembawa wahyu yang pokok ajarannya adalah Tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah, Tuhan Penciptanya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Kemudian dikemukan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Nabi

Muhammad saw. supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat terdahulu.

22. Al-Hajj (haji), surat Madaniyah, 78 ayat
Penamaankarena surat ini mengemukan hal-halyang berhubungan dengan ibadah haji seperti ihrom, thowaf, sa'i, wuquf di Arofah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji. Ditegaskan pula bahwa ibadah haji telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrohim as. dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrohim as. bersama puteranya Ismail as.

23. Al-Mu'minun (orang-orang yang beriman), surat Makkiyah, 118 ayat
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketentraman jiwa mereka di dunia.

24. An-Nur (cahaya), surat Madaniyah, 64 ayat
Nama An-Nur, diambil dari kata "An-Nur" yang terdapat pada ayat 35. Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang-benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

25. Al-Furqon (pembeda), surat Makkiyah, 77 ayat
Nama Al-Furgon, diambil dari kata "Al-Furqon" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud dengan Al-Furgon dalam ayat ini ialah Al-Qur'an, karena membedakan antara yang haq dengan yang batil. Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esa-an Allah SWT dengan kebatilan kepercayaan syirik.

26. Asy-Syu'aro' (para penyair), surat Makkiyah, 227 ayat
Nama Asy-Syu'aro diambil dari kata "Asy-Syu'aro" yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, dikala Allah SWT secara khusus menyebutkan kedudukan penyair-penyair. Para penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rosul. Mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat. Mereka suka memutar-balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian. Selain itu perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah terdapat pada rosul-rosul.

27. An-Naml (semut), surat Makkiyah, 93 ayat
Penamaan An Naml, diambil dari kata "An Naml" (semut) pada ayat 18 dan 19, di mana raja semut menyuruh anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya tidak terinjak Nabi Sulaiman,,as. dan tentaranya yang akan melewati tempat itu. Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan takjub atas keteraturan kerajaan semut itu. Beliau juga mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung, dan sebagainya. Nabi Sulaiman as. yang telah diberi Allah nikmat yang besar itu tidak takabur dan sombong. Dan sebagai seorang hamba Allah, ia memohon agar Allah memasukkannya kepada golongan orang-orang yang saleh.

Allah SWT menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu. Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat lobang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin. Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, dinyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terinjak oleh Nabi Sulaiman as. dan tentaranya, setelah mendapat peringatan dari rajanya. Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan sebagainya. Rakyat semut memiliki organisasi dan kerja sama yang baik pula.

28. Al-Qoshosh (cerita), surat Makkiyah, 88 ayat
Nama Al-Qoshosh, diambil dari kata "Al-Qoshosh" pada ayat 25, yang berarti "cerita". Ayat ini menerangkan, setelah Nabi Musa as. bertemu dengan Nabi Syu'aib as. ia mengisahkan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, yakni pengalamannya dengan Fir'aun karena membunuh seorang dari bangsa Qibti tanpa disengaja. Syu'aib as. menjawab bahwa Musa as. telah selamat dari pengejaran orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad saw. dan para sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayatini menunjukkan bahwa barang siapa yang berhijrah (berpindah) dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam perjuangannya menghadapi musuh-musuh agama. Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung isyarat bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.

Surat Al-Qoshosh ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa as., sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai pula surat Musa.

29. Al-'Ankabut (laba-laba), surat Makkiyah, 69 ayat
Nama Al-'Ankabut diambil dari kata "Al-'Ankabut" yang terdapat pada ayat 41, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala itu, dengan laba-laba yang percaya pada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat menjerat mangsanya. Padahal kalau dihembus angin dan ditimpa oleh sesuatu yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sesembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka inginkan, padahal sesembahan mereka itu tidak mampu sedikit pun menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sesembahan mereka pasti tidak bisa melindungi mereka.

30. Ar-Rum (bangsa Romawi), surat Makkiyah, 60 ayat
Dinamakan Ar-Rum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2,3, dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Romawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia.

Ini adalah salah satu mukjizat Al-Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemahnya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin. Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

31. Luqman, surat Makkiyak, 34 ayat
Dinamai Luqman karena pada ayat 12 disebutkan bahwa "Luqman" telah diberi oleh Allah nikmat dan ilmu pengetahuan Oleh sebab itu is bersyukur kepada-Nya. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya.

32. As-Sajdah (sujud), surat Makkiyah, 30 ayat
Dinamakan As-Sajdah berhubung pada surat ini terdapat ayat sajdah (ayat 15), Yang mana kita disunatkan bersujud setelah membacanya atau mendengarkannya. Sujud ini dinamakan sujud Tilawah.

33. Al-Ahzab (golongan-golongan), surat Madaniyah, 73 ayat
Dinamakan Al-Ahzab karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat (yakni ayat 9-27) yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab. Yakni peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik, dan orang-orang Musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah. Kala itu mereka mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian orang beriman putus asa dan menyangka bahwa mereka akan kalah.

Ini adalah suatu cobaan dari Allah SWT untuk menguji sampai di mana keteguhan iman mereka. Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacaubalau dan melarikan diri.

34. Saba' (suku Saba'), surat Makkiyah, 54 ayat
Dinamakan Saba' karena di dalamnya terdapat kisah Kaum Saba'. Saba' adalah nama suatu kabilah 'Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib. Mereka berhasil membangun suatu bendungan raksasa yang bernama "bendungan Ma'rib", sehingga negeri mereka subur dan makmur. Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka. Mereka juga mengingkari seruan para rosul. Karena keingkaran mereka, Allah menimpakan azab berupa "sailul 'arim" (banjir besar) akibat bobolnya bendungan Ma'rib. Setelah bendungan Ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

35. Fathir (pencipta), surat Makkiyah, 45 ayat
Nama Fathir (pencipta) diambil dari kata "Fathir" pada ayat pertama surat ini. Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah-lah Pencipta langit dan bumf, malaikat-malaikat, serta semesta alam sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamakan juga Malaikat karena dalam ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang memiliki beberapa sayap.

36. Ya-sin, surat Makkiyah, 83 ayat.
Dinamai Ya Sin karena dimulai dengan huruf "Ya Sin". Hanya Allah yang mengetahui makna kedua huruf tersebut.

37. Ash-Shoffat (yang bershof-shof), surat Makkiyah, 182 ayat.
Nama Ash-Shoffat diambil dari kata "Ash-Shoffat" pada permulaan surat ini. Ayat ini mengemukakan bagaimana para malaikat yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh setan, berbaris di hadapan Tuhannya.

38. Shod, surat Makkiyah, 88 ayat.
Dinamakan Shod karena surat ini diawali huruf "Shod". Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al-Qur'an untuk menunjukkan bahwa: 1) Al-Qur'an itu suatu kitab yang agung; 2) barang siapa mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat; dan 3) menunjukkan bahwa Al- Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw., yang mengatakan kebenarannya dan ketinggian ahlaknya.

39. Az-Zumar (rombongan-rombongan), surat Makkiyah, 75 ayat
Nama Az-Zumar diambil dari kata "Az-Zumar" yang terdapat pada ayat 71 dan 73 surat ini. Kedua ayat itu menerangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka dihisab, pada waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan, satu rombongan di bawa ke neraka dan satu rombongan lagi di bawa ke surga. Masing-masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dulu.
Surat ini dinamakan juga Al-Ghurof (kamar-kamar) berhubung perkataan ghitrof yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

40. Al-Mu'min (orang beriman), surat Makkiyah, 85 ayat.
Nama Al-Mu'min diambil dari kata "mu'min" yang terdapat pada ayat 28. Ayat itu menerangkan tentang salah seorang dari kaum Fir'aun yang telah beriman kepada Nabi Musa as. dengan menyembunyikan keimanannya. Setelah mendengar keterangan dan melihat mukjizat yang dikemukan oleh Nabi Musa as. hati kecil orang ini mencela Fir'aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa as. Padahal telah dikemukakan keterangan dan mukjizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula Ghofir (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat "Ghofir" yang ada pada ayat 3. Ayat itu mengingatkan bahwa "Maha Pengampun" dan "Maha Penerima Taubat" adalah sebagian dari sifat-sifat Allah. Oleh karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang terlanjur mereka lakukan. Semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

41. Fushshilat (yang dijelaskan), surat Makkiyah, 54 ayat.
Dinamakan Fushshilat karena ada hubungannya dengan kata "Fushshilat" yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti yang "dijelaskan". Maksudnya ayat-ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji, dan ancaman, budi pekerti, kisah, dan lain sebagainya.
Dinamakan juga dengan "Haa Mlim" dan "As Sajdah" karena surat ini dimulai dengan "Haa Miim" dan dalam surat ini terdapat ayat sajdah.

42. Asy-Syuro (musyawarah), surat Makkiyah, 53 ayat.
Dinamakan Asy-Syuro diambil dari kata "Syuro" yang terdapat pada ayat 38. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam, yaitu musyawarah.
Dinamai juga "Ha Mim 'ain sin qof' karena surat ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.

43. Az-Zukhruf (perhiasan), surat Makkiyah, 89 ayat.
Nama Az-Zukhruf diambil dari kata "Az-Zukhru' yang terdapat pada ayat 35. Orang-orang yang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seorang dari perhiasan dan harta bendanya. Menurut mereka, karena Muhammad saw. adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai rosul dan nabi. Pangkat rosul dan nabi itu harus diberikan kepada orang yang kaya. Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

44. Ad-Dukhoon (kabut), surat Makkiyah, 59 ayat.
Nama Ad-Dukhon diambil dari kata "Dukhon" yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
Menurut riwayat Bukhori, orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad saw. sudah melewati batas. Karena itu Nabi memohon agar Allah menurunkan azab, sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang durhaka masa Nabi Yusuf as. yaitu musim kemarau yang panjang. Doa Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir itu memakan tulang dan bangkai, karena kelaparan. Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah. Tetapi tidak satu pun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi Muhammad saw agar beliau memohon kepada Allah supaya menurunkan hujan. Setelah Allah mengabulkan do'a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula. Oleh sebab itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

45. Al-Jatsiyah (yang berlutut), surat makkiyah, 37 ayat.
Nama "Al-Jatsiyah" diambil dari kata "Jatsiyah" yang terdapat pada ayat 28. Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat. Saat seluruh makhluk berkumpul di Padang Mahsyar menunggu keputusan Allah SWT terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

46. Al-Ahqof (bukit-bukit pasir), surat Makkiyah, 35 ayat.
Nama "Al-Ahqof' diambil dari kata "Al-Ahqof' yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

47. Muhammad (Nabi Muhammad), surat Madaniyah, 29 ayat.
Surat ini dinamakan juga dengan "Al-Qibti" (peperangan), karena sebagian besar surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

48. Al-Fath (kemenangan), surat Madaniyah, 29 ayat.
Nama Al-Fath diambil dari kata "Fat-han" yang terdapat pada ayat pertama. Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad saw. dalam peperangan-peperangannya.

49. Al-Hujurot (kamar-kamar), surat Madaniyah, 18 ayat.
Nama "Al-Hujurot" diambil dari kata "Al-Hujurot" yang terdapat pada ayat 4 surat ini. Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad saw. yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil Nabi Muhammad dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketentraman beliau.

50. Qof, surat Makkiyah, 45 ayat.
Dinamai Qofkarena surat ini dimulai dengan huruf Hijaiyah"Qof"

51. Adz Dzaariyaat (angin yang menerbangkan), surat Makkiyah, 60 ayat.
Nama Adz-Dzariyat diambil dari kata "Adz-Dzariyat" yang terdapat pada ayat pertama. Allah bersumpah dengan angin, mega, bahtera, dan malaikat yang menjadi sumber kesejahteraan dan pembawa kemakmuran. Hal ini mengisyaratkan inayat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

52. Ath-Thur (gunung), surat Makkiyah, 49 ayat.
Nama Ath-Thur diambil dari kata "Ath-Thur" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud "gunung" di sini adalah gunung Thursina yang terletak di Semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa as. menerima wahyu secara langsung dari Allah SWT.

53. An-Najm (bintang), surat Makkiyah, 62 ayat.
Nama An-Najm diambil dari kata "An-Najm" yang terdapat pada ayat pertama. Allah bersumpah dengan "An-Najm" (bintang) karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam itu amat besar manfaatnya bagi manusia sebagai pedoman bagi manusia dalain melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim, dan sebagainya.

54. Al-Qomar (bulan), surat Makkiyah, 55 ayat.
Nama Al-Qomar diambil dari kata "Al-Qomar" yang terdapat pada ayat yang pertama. Pada ayat ini diterangkan tentang terbelahnya bulan sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.

55. Ar-Rohman (Yang Maha Pemurah), surat Makkiyah, 78 ayat.
Nama Ar-Rohman diambil dari kata "Ar-Rohman" yang terdapat pada ayat pertama. Ar-Rohman adalah salah satu dari nama Allah. Sebagian besar dari surat ini menerangkan kepemurahan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 96 ayat.
Nama Al-Waqi'ah diambil dari kata "Al-Waqi'ah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

57. Al-Hadid (besi), surat Madaniyah, 29 ayat.
Namadiambil dari kata "Al-Hadid" yang terdapatpada ayat 25 surat ini.

58. Al-Mujadilah (wanita yang mengajukan gugatan), surat Madaniyah, 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa'labah, terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya. Hal ini diajukan kepada Nabi Muhammad Rosulullah saw. dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu. Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti "perbantahan"

59. Al-Hasyr (pengusiran), surat Madaniyah, 24 ayat.
Nama Al-Hasyr diambil dari kata "Al-Hasyr" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran salah satu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

60. Al-Mumtahanah (perempuan yang diuji), surat Madaniyah, 13 ayat.
Nama Al-Mumtahanah diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujian mereka", yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

61. Ash-Shof (barisan), surat Madaniyah, 14 ayat.
Dinamakan Ash-Shof karena pada ayat 4 surat ini terdapat kisah "Shoffan" yang berarti "satu barisan". Ayat ini menerangkan apa yang diridhoi Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata tetapi tidak melaksanakan ucapannya. Dan ayat 4 menerangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah pada satu barisan.

62. Al-Jumu'ah (Hari Jum'at), surat Madaniyah, 11 ayat.
Nama surat Al-Jumu'ah diambil dari kata "Al-Jumu'ah" yang terdapat pada ayat 9.

63. Al Munafikun (orang-orang munafik), surat Madaniyah, 11 ayat. Surat ini dinamai Al-Munafiqun yang artinya orang-orang munafiq, karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang munafik.

64. At-Taghobun (hari dinampakkan kesalahan-kesalahan), surat Madaniyah, 18 ayat.
Nama At-Taghobun diambil dari kata "at-taghobun" yang terdapat pada ayat ke 9.

65. At-Tholaq (talak/cerai), surat Madaniyah, 12 ayat.
Dinamakan surat At-Tholaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak, dan persoalan lain yang berhubungan dengan masalah itu

66. At-Tahrim (mengharamkan), surat Madaniyah, 12 ayat.
Dinamakan surat At-Tahrim karena pada awal surat ini terdapat kata "tuharrim" yang berasal dari kata At-tahrim yang berarti "mengharamkan".

67. Al Mulk (kerajaan), surat Makkiyah, 30 ayat.
Nama Al-Mulk diambil dari kata "Al-Mulk" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan. Surat ini disebut juga dengan "Tabaarok" (Maha Suci).

68. Al-Qolam (Pena/firman), surat Makkiyah, 52 ayat.
Nama Al-Qolam diambil dari kata Al-Qolam yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini dinamai pula dengan surat "Nun" (huruf "nun").

69. Al-Haqqoh (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 52 ayat.
Nama "Al-Haaqqoh" diambil dari kata "Al-Haaqqoh" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "hari kiamat".

70. Al-Ma'arij (tempat-tempat naik), surat Makkiyah, 44 ayat.
Kata Al-Ma'arij yang menjadi nama surat ini adalah bentuk jamak dari "Mi'raj" yting terdapat pada ayat 3, artinya "tempat naik". Sedang para ahli tafsir memberi arti bermacam-macam, di antaranya adalah "langit", nikmat karunia, dan derajat, atau tingkatan yang diberikan Allah SWT. kepada ahli surga.

71. Nuh (nabi Nuh), surat Makkiyah, 28 ayat.
Dinamakan surat Nuh karena seluruh surat ini menjelaskan tentang dakwah dan do'a Nabi Nuh as.

72. AI Jin (jin), surat Makkiyah, 28 ayat.
Nama Al-Jin diambil dari kata "Al-jin" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa jin sebagai mahluk halus telah mendengar pembacaan Al-Qur'an dan mereka mengikuti ajaran Al-Qur'an tersebut.

73. Al-Muzzammil (yang berselimut), surat Makkiyah, 20 ayat.
Nama Al-Muzzammil diambil dari kata "Al-Muzzammil" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud dengan "orang yang berselimut" ialah Nabi Muhammad saw.

74. Al-Muddatstsir (yang berselubung), surat Makkiyah, 56 ayat.
Nama Al-Muddatstsir diambil dari kata "Al-Muddatstsir" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

75. Al-Qiyaamah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 40 ayat.
Nama Al-Qiyamah diambil dari kata "Al-Qiyamah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

76. Al-Insan (manusia), surat Madaniyah, 31 ayat.
Nama Al-Insan diambil dari kata "Al-Insan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

77. Al-Mursalat (Malaikat-malaikat yang diutus), surat Makkiyah, 50 ayat.
Nama Al-Mursalat diambil dari kata "Al-Mursalat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

78. An-Naba' (berita besar), surat Makkiyah, 40 ayat.
Nama An-Naba diambil dari kata "An-kaba'" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Dinamakan juga "Amma yatasaa aluun" (Tentang apakah mereka saling bertanya?) yang diambil dari kalimat yang sama pada ayat 1.

79. An-Nazi'at (Malaikat-malaikat yang beralih cepat), surat Makkiyah, 46 ayat.
Nama An-Naazi'at diambil dari kata "An-Naazi'at" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Dinamakan pula "AsSahiroh" yang diambil dari ayat 14, dan disebut juga "AthThommah" diambil dari ayat 34.

80. 'Abasa (bermuka masam), surat Makkiyah, 42 ayat.
Nama 'Abasa diambil dari kata 'Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Menurut riwayat, suatu ketika Rosulullah saw. berbicara dengan para pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar masuk Islam. Pada waktu itu datanglah Ibnu Ummu Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rosulullah saw. membacakan kepadanya ayat Al-Qur'an yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rosulullah saw. bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummu Maktum yang buta itu. Maka Allah SWT menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap beliau terhadap Ummu Maktum.

81. At-Takwir (menggulung), surat Makkiyah, 29 ayat.
Nama At-Takwir adalah kata asal (mushdar) dari kata kerja "kuwwirot" (digulung) yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

82. Al-Infithor (terbelah), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama surat ini berasal dari kata "unfathorot" (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama.
83. Al-Muthoffifin (orang-orang yang curang), surat Makkiyah, 36 ayat.
Nama surat ini diambil dari kata "Al-Muthoffifin" yang terdapat pada ayat pertama.

84. Al-Insyiqoq (terbelah), surat Makkiyah, 25 ayat.
Nama Al-Insyiqoq diambil dari kata "Insyiqooq" yang terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah "insyiqooq".

85. Al-Buruuj (bintang-bintang), surat Makkiyah, 22 ayat.
Nama Al-Buruj diambil dari kata "Al-Buruj" yang terdapat pada ayat 1.

86. At-Thoriq (yang datang di malam hari), surat Makkiyah, 17 ayat.
Nama Ath-Thoriq diambil dari kata "Ath-Thoriq" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

87. Al-'Alaa (yang paling tinggi), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama Al-'Ala diambil dari kata "Al-'Ala" yang terdapat pada ayat pertama.

88. Al-Ghosyiyah (kejadian yang dahsyat), surat Makkiyah, 26 ayat.
Nama Ghosyiyah diambil dari kata "Al-Ghosyiyah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya peristiwa yang dahsyat, tapi yang dimaksud adalah hari kiamat

89. Al Fajr (fajar), surat Makkiyah, 30 ayat.
Nama Al-Fajr diambil dari kata "Al-Fajr" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "fajar".

90. Al-Balad (negeri), surat Makkiyah, 20 ayat.
Nama Al-Balad diambil dari kata "Al-Balad" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah kota Mekah.

91. Asy-Syams (matahari), surat Makkiyah, 15 ayat.
Nama Asy-Syams diambil dari kata "Asy-Syams" yang terdapat pada ayat permulaan surat ini.

92. Al-Lail (malam), surat Makkiyah, 21 ayat.
Namadiambil dari kata "Al-Lail" yang terdapat padaayat pertama surat ini.

93. Adh Dhuha (waktu matahari naik sepenggalan), surat Makkiyah, 11 ayat.
Nama Adh-Dhuha diambil dari kata "Adh-Dhuha" yang terdapat pada ayat pertama.

94. Al Insyiroh (kelapangan), surat Makkiyah 8 ayat.
Surat ini dinamakan juga Alam-Nasyroli (Bukankah Kami telah melapangkan), diambil dari kata "Alam Nasyroh" yang terdapat pada ayat pertama.

95. At-Tin (buah tin), surat Makkiyah, 8 ayat.
Nama At-Tin diambil dari kata "At-Tin" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya buah tin.

96. Al-Alaq (segumpal darah), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama Alaq (segumpal darah), diambil dari kata "Alaq" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan "Iqro" atau "Al-Qolam".

97. Al Qodr (kemuliaan), surat Makkiyah, 5 ayat.

98. Al-Bayyinah (bukti yang nyata), surat Makkiyah, 8 ayat.

99. Az Zalzalah (kegoncangan), surat Madaniyah, 8 ayat.

100. Al-'Adiyat (kuda perang yang berlari kencang), surat Makkiyah, 11 ayat.

101. Al-Qori'ah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 11 ayat.

102. At-Takatsur (bermegah-megah), surat Makkiyah, 8 ayat.

103. Al-'Ashr (masa), surat Makkiyah, 3 ayat.

104. Al-Humazah (pengumpat), surat Makkiyah, 9 ayat.

105. Al-Fil (gajah), surat Makkiyah, 5 ayat.

106. Al-Quraisy (suku Quraisy), surat Makkiyah, 4 ayat.

107. Al-Ma'un (barang-barang yang berguna), surat Makkiyah, 7 ayat.

108. Al-Kautsar (nikmat yang banyak), surat Makkiyah, 3 ayat.

109. Al-Kafirun (orang-orang kafir), surat Makkiyah, 6 ayat.

110. An-Nashr (pertolongan), surat Madaniyah, 3 ayat.

111. Al-Lahab (gejolak api), surat makkiyah, 5 ayat.

112. Al-Ikhlash (keesaan Allah), surat Makkiyah, 4 ayat.

113. Al-Falaq (waktu subuh), surat Makkiyah, 5 ayat.

114. An-Nas (manusia), surat Makkiyah, 6 ayat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer