Macam-macam puasa sunah

Macam-macam puasa sunah

Pahala dan keutamaan puasa sangatlah luar biasa. Karena itu selain berpuasa wajib, banyak ulama yang menganjurkan agar kita juga berpuasa sunnah. Nabi Muhammad Rasulullah saw bersabda "Bagi segala sesuatu itu ada zakatnya. Dan zakat tubuh itu adalah berpuasa." (HR. Ibnu Majah)

Berikut ini beberapa macam puasa sunnah (tathowu') yang bisa kita laksanakan :
1. Puasa pada hari Senin dan Kamis
Usamah bin Zaid ra mengungkapkan bahwa Rasulullah saw sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Lalu seorang sahabat bertanya tentang itu. Maka beliau menjawab, "Sungguh, amal perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada hari Senin dan Kamis." (HR. Abu Dawud)

2. Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, dan 15, Bulan Qomariyah)
Abu Dzar Al-Ghifari ra mengungkapkan, Rasulullah saw bersabda : "Wahai Abu Dzar, jika engkau hendak berpuasa sunnah setiap bulannya, maka laksanakanlahpada tanggal 13, 14, dan 15. " (HR. Tirmidzi) Hadits senada juga diriwayatkan oleh Nasa'i dan Ibnu Hibban dengan redaksi yang berbeda.

3. Puasa Hari 'Asyuro (Tanggal 10 Muharrom)
Puasa sunnah Hari 'Asyuro ini bertujuan memuliakan Nabi Musa as. Ibnu Abbas menceritakan, ketika Rasulullah saw. belum lama sampai di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi berpuasa hari Asyuro. Lalu mereka ditanya alasan yang menyebabkan puasa pada hari itu. Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Isroil atas Fir'aun. Karena itu kami berpuasa pada hari ini untuk menghormati Musa." Maka Rasulullah saw. bersabda : "Kami lebih pantas memuliakan Musa daripada kalian." Lalu beliau perintahkan kamum Muslimin agar berpuasa pada hari 'Asyuro (HR. Muslim)

Agar tradisi puasa 'Asyuro umat Islam berbeda dengan kaum Yahudi, maka Rasulullah saw. menganjurkan agar kita memulainya pada hari kesembilan. Ibnu Abbas ra. mengungkapkan Nabi saw. berpuasa pada hari 'Asyuro dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa pada hari itu. Sahabat memprotes "Wahai Rasulullah, sungguh hari 'Asyuro itu merupakan hari yang diagung-agungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Rasulullah saw. bersabda "(kalau begitu) Tahun depan nanti, Insyaa Allah kita akan puasa pada hari kesembilannya juga." Tetapi belum sampai hari 'Asyuro tahun depan (yang dijanjikan itu) Nabi saw. telah wafat. (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Pahala puasa Hari 'Asyuro cukup besar. Rasulullah saw. bersabda : "Puasa hari Asyuro dapat menghilangkan dosa selama satu tahun yang lalu." (HR. Muslim)

4. Puasa Bulan Sya'ban
Nabi Muhammad saw. banyak berpuasa sunnah pada bulan Sya'ban. 'Aisyah ra. menuturkan, "Aku tidak melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku belum pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam sebulan seperti bulan Sya'ban. Beliau selalu mempuasainya kecuali hanya sedikit (hari yang tidak beliau puasai), bahkan adakalanya beliau mempuasainya seluruhnya." (HR. Empat ahli hadits) Ummu Salamah ra. mengungkapkan, "Aku belum pernah melihat Nabi saw. mengerjakan puasa dua bulan berturut-turut terkecuali bulan Sya'ban dan bulan Ramadhan." (HR. Tirmidzi)

Rahmad Allah SWT turun pada malam Nishfu Sya'ban. Ali ra. menyatakan, Rasulullah saw. bersabda "Apabila malam nishfu sya'ban tiba, dirikanlah malam harinya (dengan mengerjakan sholat sunnah) dan berpuasanya siang harinya. Sungguh sejak matahari tenggelam pada malam itu rahmat Allah turun dari langit paling bawah. Lalu Allah berfirman : "Apakah ada orang yang meminta ampun? Niscaya akan Kuampuni. Apakah ada orang yang meminta rezeki? Niscaya dia akan Kuberi rezeki. Adakah orang yang tertimpa musibah? Niscaya Aku akan membebaskannya. Adakah demikian, dan adakah demikian?" (hal itu berlangsung hingga terbit fajar" (HR.Ibnu Majah) Nishfu Sya'ban artinya pertengahan bulan Sya'ban. Jadi yang dimaksud dengan malam nishfu Sya'ban adalah malam kelima belasnya.

5. Puasa 6 Hari pada bulan Syawal.
Puasa pada bulan Syawal itu tentu saja haram dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri. Jadi pelaksanaannya minimal satu hari setelah merayakan Idul Fitri.

Pahala berpuasa selama enam hari dalam bulan Syawal sangat besar. Abu Ayyub ra. menginformasikan Rasulullah saw. bersabda "Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka nilainya sama dengan puasa sepanjang tahun." (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi) Ibnu Umar ra. mengabarkan, Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia keluar dari dosanya bagaikan ia baru lahir dari perut ibunya." (HR. Thobroni)  

6. Puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah), kecuali bagi orang yang sedang mengerjakan haji tidak disunnahkan.

Nabi Muhammad saw. bersabda : "Puasa pada hari Arofah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yakni satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang". (HR. Muslim)
namun bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dilarang melaksanakannya. Abu Hurairoh memberitahukan, "Sungguh Rasulullah saw. melarang puasa Arofah bagi orang-orang yang berada di Arofah". (HR. Abu Dawud dan Nasa'i). Larangan ini berlaku bagi orang-orang yang sedang melaksanakan haji, supaya mereka kuat untuk berdoa di Arofah. Namun Qotadah menyatakan, "Tidaklah salah melakukan puasa Arofah selagi tidak membuatnya lemah untuk melakukan doa." Sedangkan Ahmad berkata "Apabila ia sanggup berpuasa, maka boleh berpuasa. Namun jika tidak kuat, hendaklah ia berbuka (tidak berpuasa)".

7. Puasa Nabi Dawud
Apabila saudara ingin berpuasa secara terus-menerus, maka berpuasalah sunnah yang terbaik. Nabi Muhammad saw. bersabda,"Puasa sunnah yang terbaik adalah puasa sunnah yang dilakukan NabiDawud as. sehari ia berpuasa dan sehari berikutnya tidak." (HR. Bukhori Muslim)  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer