Hadits shahih bukhari muslim : ULAMA PENYUSUN ENAM KITAB HADITS
Berikut kami ketengahkan para ulama yang menyusun enam peringkat kitab hadits (Kutubus Sittah), ialah Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasal, dan Imam Ibnu Majah
1. Imam Bukhori (194-256 H / 810 — 870 M)
Nama lengkap Imam Bukhori adalah Abu Abdullah Muhammact bin Ismail bin Ibrohim bin al-Mughiroh bin Bardizbahal al-Bukhori. Ia lahir di Bukhoro, dari keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya yang meninggal sewaktu Bukhori masih kecil, adalah seorang yang 'alim dan taqwa.
Sejak kecil Bukhori sudah menampakkan kepribadian yang mulia, serta memiliki kecerdasan dan daya hafalan yang luar biasa. Ia sudah mempelajari hadits sebelum genap berusia sepuluh tahun. Pada usia sebelas tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan sanad hadits. Ketika berusia lima belas tahun, ia sudah hafal kitab Ibnu Mubarok dan Waqi, serta mampu memahami pendapat ahlu ro'yi (rasionalis), ushul dan mazhab mereka. Dan pada usia delapan belas tahun, ia telah menulis kitab Qoda ya as-Sahabat wa at-Tabi'in
Untuk memperluas dan memperdalam pengetahuannya tentang hadits, Bukhori melawat ke berbagai negeri seperti Irak, Syiria, Mesir, Kuffah, Basroh, Khurasan, dan lain sebagainya. Di negeri-negeri tersebut ia menuntut ilmu pada banyak ulama hadits terkemuka, di antaranya ialah 'Ali bin al-Madini, Ahmad, bin Hambal, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin Ibrohim al-Balkhi, dan Ibnu Rowaih. Dalam pengembaraannya ia selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Bahkan ia sempat menghafal 100000 hadits shohih dan 200000 hadits tidak shohih.
Imam Bukhori telah menulis sejumlah buku, antara lain: 1) al-Qiro'ah Kholfal Imam; 2) al-Musnad al-Kabir; 3) at-Tafsir al-Kabir; 4) at-Tarikh as-Saqir; 5) at-Tarikh al-Awsat; 6) Kitabul l'Ial; 7) Adabul Mufrod; 8) Kitab ad-Dhuafa'. Satu di antara karyanya yang terbesar dan terpopuler sampai kini hanya al-Jami' as-Shohih yang menduduki peringkat pertama dalam Kutubus Sittah.
Keluasan pengetahuan Imam Bukhori sebagai ulama hadits terbukti dari pengakuan dan pujian guru-gurunya, kawankawannya, dan 'ulama hadits sesudahnya. Abu Hatim ar-Rozi berkata, "Khurasan belum pernah melahirkan seorang ulama yang melebihi Bukhori. Di Irak pun belum ada yang menandinginya." Kemudian diceritakan oleh al-Hakim bahwa suatu hari Imam Muslim datang kepadanya dan memohon, "Biarkanlah aku mencium kedua kakiamu wahai guru dari segala guru hadits."
2. Imam Muslim (202-261 H / 817-875)
Nama lengkap Imam Muslim ialah Abdul Husain bin alHajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Pria kelahiran Naisabur ini mempelajari hadits sejak kecil, tepatnya pada awal usia belasan tahun. Demi menimba ilmu hadits, ia merantau ke berbagai negeri. 'Ulama-'ulama hadits terkemuka yang menjadi gurunya, antara lain Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rohawaih (keduanya 'ulama Khurasan), Muhammad bin Mahron dan Abu Ansan (di Ray), Ahmad bin Hanbal, dan Abdullah bin Maslamah (Irak), Sa'id bin Mansyur, dan Abu Mas'ab (Hijaz), 'Amar bin Sawad, dan Harmalah bin Yahya (Mesir) serta Imam Bukhori di Baghdad.
Imam Muslim merupakan orang kedua setelah Imam Bukhori baik dalam hal kedudukan, keluasan pengetahuan haditsnya dan keistimewaan-keistimewaannya. Hal ini terjadi, mungkin karena ia murid dari Imam Bukhori. Kedalaman ilmunya, terutama di bidang hadits yang menyebabkan para ulama pada masanya berguru kepadanya. Kedalaman ilmunya pula yang mendatangkan pujian dari para 'ulama semasanya dan sesudahnya. Al-Khotib al-Baghdadi memberikan kesaksian, "Muslim telah meneruskan langkah Bukhori, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jejaknya."
Abu Quraisy menyatakan, "Di dunia ini orang yang benarbenar ahli hadits hanya empat orang, di antaranya ialah Muslim." Maksudnya adalah ahli hadits yang terkemuka pada masa Abu Quraisy.
3. Imam Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
Nama lengkap Imam Abu Dawud ialah Sulaiman bin alAsy'as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi. Ia lahir di perkampungan Sijistan dekat Basroh. Sejak kecil ia sud menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan bergaul deigan para 'ulama di daerahnya. Setelah menginiaf dewasa, untuk memperluas pengetahuannya ia melanglar- buana ke Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan Khurasan. Ia berhasil menimba ilmu dari beberapa 'ulama penghafal hadits, antara lain: Achmad bin Hanbal, Ahmad bin Roja', Abdul Walid atTayalisi, Abu Amar ad-Darir, dan Al-Qon'abi.
Setelah menjadi ulama besar, atas permintaan penguasa Basroh —Kholifah al-Muwafaq, Abu Dawud menetap di Basroh. Ia menjadi guru dan menyebar-luaskan ilmunya di sana sampai akhir hayatnya. Dan ia termasuk ulama yang mencapai derajat tinggi dalam kesucian diri, kesalehan, dan beribadah. Al Hafiz Musa bin Haris memujinya, "Abu Dawud diciptakan untuk hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia." Ibrohim al-Harbi, seorang 'ulama hadits berkomentar: "Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi telah dilunakkan bagi Nabi Dawud." Perumpamaan Ibrohim ini menunjukkan keistimewaan Abu Dawud, sebab dia telah mempermudah yang rumit.
Abu Dawud telah menulis sejumlah kitab, antara lain: 1) Kitab al-Marosil; 2) Kitab al-Qodar; 3) an-Nasikh wal Mansukh; 4) Fadhoilul A'mal; 5) Ibtida'ul Wahyu; dan 6) az-Zuhud. Dan kitabnya yang masih dijadikan rujukan oleh masyarakat luas sampai kini adalah Sunan Abu Dawud
4. Imam Tirmidzi (209-279 H / 824-892 M)
Nama lengkap Imam Tirmidzi ialah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Sauroh bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami al-Bugi. Ia lahir di kota Tirmiz, Tadjikistan. Sebagaimana para ahli hadits yang lain, sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu hadits. Guna memperluas ilmu yang ditekuninya, ia pun merantau ke berbagai negeri antara lain: Hijaz, Irak, dan Khurasan. Ia menimba ilmu hadits dari beberapa ulama besar, antar lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Mahmud bin Ghoilan, Sa'id bin Abdurrohman, Muhammad bin Basysyar, 'Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, dan Muhammad bin al-Musanna.
Sebagai ulama hadits, ia terkenal saleh, takwa, jujur, sangat teliti, dan kuat hafalannya. Kemuliaan clan keluasan ilmunya ini mendapat pujian dari al-Hakim Abu Abdullah, "Saya mendengar 'Umar bin 'Ak berkata: 'Imam Bukhori wafat dan tidak meninggalkan 'ulama penggantinya di Khurasan seperti Abu Isa at-Tirmizi dalam bidang ilmu, kekuatan hafalannya, waro', dan kezuhudannya."
Kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Tirmizi, adalah: 1) al-Illat; 2) at-Tarikh; 3) as-Syama'il an-Nabawiyah; 4) az-Zuhud; 5) al-Asma wal Kuna dan 6) al Jami' yang disebut Sunan at-Tirmizi yang paling popular hingga saat ini. Dalam kitab ini Imam Tirmidzi tidak hanya meriwayatkan hadits-hadits shohih saja, melainkan juga hadits hasan, ghorib, dan mu'allaq dengan menerangkan kelemahannya.
5. Imam Ibnu Majah (209-273 H / 824-887 M)
Nama lengkap Imam Ibnu Majah ialah Abu 'Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Robi'i al-Qozwini. Lelaki kelahiran Qozwin ini seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama tentang hadits dan periwayatnya. Ia pun menjelajah beberapa negeri untuk menimba ilmu hadits, antara lain: Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kuffah, dan Basroh.
Imam Ibnu Majah berguru dan meriwayatkan hadits dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Namir, Hisyam bin Ammar, Muhammad bin Rum, Ahmad bin al-Azhar, Basyir bin Adam. Tentang kehebatannya bisa disimak dari pujian Ibnu Katsir, seorang ahli hadits, "Ibnu Majah adalah seorang penulis kitab Sunan yang masyhur. Kitab itu bukti dari amal data ilmunya yang luas."
Karya-karya Imam Ibnu Majah, antara lain: 1) Tafsir al-Quran 2) at-Tarikh yang berisi sejarah sejak masa sahabat sampai Ibnu Majah; dan 3) as-Sunan yang terdiri dari 32 jilid, dan 1500 bab.
Kitab as-Sunan itulah karya Imam Ibnu Majah terbesar yang masih beredar sampai sekarang. Kitab yang menghimpun 4000 hadits ini disusun berdasarkan sistematika fiqih. Penyajiannva dimulai dengan bab "Mengikuti Sunnah Rosulullah saw." yang membahas hadits tentang kekuatan sunnah, dan kewajiban untuk mengikuti sekaligus mengamalkannya.
6. Imam Nasai (215-303 H / 830-915 M)
Nama lengkap Imam Nasa'i ialah Ahmad bin Syu'aib bin 'Ali bin Sinan bin Bahar al-Khurasani al-Qodi. Ia lahir dan dibesarkan di Nasa'. Sejak dini ia belajar menghafalkan al-Qur-an dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dari guru-guru madrasah di negerinya. Selain itu ia senang mengembara untuk menuntut ilmu hadits. Usianya belum genap lima belas tahun ketika ia pergi ke Hijaz, Irak, dan Mesir. Di sanalah ia menimba ilmu hadits dari 'ulama-'ulama terkenal saat itu. Guru-gurunya antara lain Qutaibah, Ishaq bin Rohawaih, al-Harits bin Miskin, 'Ali bin Khosrom, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi.
An-Nasa'i dikenal berpendirian teguh, pantang menyerah dalam membela sunnah, dan taat menjalankan ibadah baik siang maupun malam hari. Ia juga menjalankan puasa Nabi Dawud as., yakni sehari puasa sehari berbuka demikian seterusnya sampai akhir hayatnya.
An-Nasa'i adalah ulama hadits terkemuka pada masanya. Ia menetapkan syarat sangat ketat dalam menerima hadits dan sangat hati-hati dalam mengkritik para perawi. Itu tercermin dari pujian Abu 'Ali Naisaburi, "Yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh 'ulama, ialah Abdurrohman an-Nasa'i. Syarat yang dipakai Nasa'i lebih ketat dibandingkan syarat yang digunakan oleh Muslim al-Hajj."
Selain seorang 'ulama ahli hadits, Imam Nasa'i juga ahli fiqih dalam mazhab Syafi'i. Itu bisa disimak dari pengakuan Daruquthni, "Di Mesir, Nasa'i adalah orang yang paling ahli di bidang fiqih pada masanya, dan paling mengetahui tentang hadits berikut para perawinya. Tentan mazhab fiqih yang dianut oleh Nasa'i bisa disimak dari pengakuan Ibnu Asir al-Jazairi yang menulis dalam pembukaan Jami'ul Ushulnya, "Nasa'i bermazhab Syafi'i dan mempunyai kitab manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Syafi'i."
Karya-karya an-Nasa'i antara lain: 1) as-Sunnatul Kubro; 2) as-Sunanus Sughro (terkenal dengan nama Mujtaba); 3) al-Khosa'is; 4) Fada'ilus Sahabah; dan 6) al-Manasik
Tampilkan postingan dengan label kumpulan hadist shahih bukhari muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan hadist shahih bukhari muslim. Tampilkan semua postingan
Pengertian Al Hadits
Pengertian Al Hadits
Hadits menurut ulama ahli hadits (muhadditsin) adalah segala ucapan, perbuatan, taqrir (peneguhan/mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan), dan sifat-sifat Nabi Muhammad Rosulullah saw. Namun ulama ushul fiqih mendefinisikan hadits lebih sempit lagi, yaitu terbatas pada ucapan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw. yang berkaitan dengan hukum.
1. Ucapan, yakni semua ucapan Nabi Muhammad Rosulullah saw. tentang berbagai bidang seperti aqidah, akhlak, pendidikan, hukum, muamalah, dan sebagainya. Berikut kami berikan beberapa contohnya:
# tentang akhlak: 'Abdullah bin 'Amr ra. menyatakan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya orang-orang pilihan di antara kamu, adalah yang paling indah budi pekerti (akhlak)nya". (HR. Muslim) Yang dimaksud "indah" dalam hadits tersebut adalah menyenangkan orang lain, namun tidak bertentangan dengan hukum agama. Jadi perbuatan yang menyenangkan orang lain, tetapi melanggar norma-norma agama, tidak dapat dikatakan indah.
# soal pendidikan: Jabir ra. menuturkan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Tidak pantas bagi orang bodoh mendiamkan kebodohannya. Juga tidak pantas orang yang berilmu itu bendiamkan ilmunya." (HR. Thobroni, Ibnu Sunni dan Abu Nu'aim)
# mengenai muamalah (hubungan antar sesama manusia),Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tidak berimanseseorang di antara kalian sebelum ia mencintai saudaranya seperti kecintaannya terhadap dirinya sendiri". (HR. Bukhori)
# perihal pinjam-meminjam, Nabi Muhammad Rosulullah saw.bersabda, "Pinjaman wajib dikembalikan, dan orang yang pinjam sesuatu wajib membayarnya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Perbuatan, yakni pengamalan atau penjelasan praktis yang dilakukan oleh Muhammad Rosulullah saw. terhadap syariat (hukum) yang masih samar pelaksanaannya. Berikut beberapa contohnya:
# soal menghilangkan najis mugholladhoh, Abu Huroiroh ra. mengabarkan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Apabila bejana (wadah) salah seorang di antara kalian dijilat anjing, maka buanglah isinya, dan cucilah dengan air sebanyak tujuh kali". (HR. Bukhori)
# mengenai wudhu, Utsman bin Affan ra. pernah meminta bejana (berisi air), lalu ia menuangkan ke atas kedua telapak tangannya tiga kali setelah itu membasuhnya. Kemudian ia menciduk air dengan telapak tangan kanannya untuk berkumur, lalu menghisap air dengan hidung dan menyemburkannya.
Sesudah itu ia membasuh mukanya tiga kali, lantas kedua tangan sampai sikusikunya tiga kali, lalu mengusap kepalanya. Terakhir ia membasuh kedua kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, "Aku melihat Rosulullah saw. berwudhu seperti wudhuku ini. Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian sholat dua roka'at, dan hatinya tidak membisikkan sesuatu dalam dua roka'at itu, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Ahmad, Bukhori, dan Muslim)
# tentang dzikir bersama usai sholat, Ibnu Abbas ra. mengutarakan, "Sesungguhnya dzikir dengan mengeraskan suara setelah usai sholat wajib, pernah dilakukan pada zaman Nabi saw". (H.R. Muslim)
Yang dimaksud dzikir dengan suara keras di sini adalahdzikir bersama-sama. Hal ini boleh dilakukan jika:
a) kalimat-kalimat dzikir yang diucapkan oleh imam dan makmum dari awal sampai akhir adalah sama. Oleh karena itu dalam komunitas muslim tertentu, misalnya pesantren biasanya melafadzkan dzikir secara bersama-sama. Sebab dzikir yang mereka (ialah imam dan para santrinya) baca mulai dari A sampai Z sama. Dan pada umumnya setiap pesantren mempunyai irama dzikir sendiri-sendiri yang enak didengar dan menyentuh perasaan; dan
b) untuk proses pembelajaran bagi yang belum bisa dan juga belum terbiasa berdzikir. Jelaslah bahwa dzikir bersama itu bukan bid'ah.
3. Taqrir (peneguhan atau mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan) Nabi Muhammad Rosulullah saw. terhadap ucapan atau perbuatan sahabat di hadapan beliau. Contohnya tentang dibolehkannya makan daging biawak. Suatu ketika seorang sahabat menghidangkan daging biawak yang dibakar kepada Nabi Muhammad saw., namun beliau tidak memakannya. "Apakah biawak itu haram?" Tanya salah seorang sahabat.Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tidak. Tetapi binatang itu tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku jijik karenanya." (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits juga disebut sunnah, atsar, dan kabar. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda dengan hadits. Berikut definisi masing-masing rnenurut sebagian ulama:
# sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan dengan hadits. Sebab sunnah tidak terbatas pada ucapan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad Rosulullah saw., melainkan juga meliputi sifat kelakuan, dan perjalanan hidup beliau baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi Rosulullah (utusan Allah SWT)
# atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi ucapan sahabat Nabi Muhammad Rosulullah saw.
# kabar (berita) lazimnya selain disandarkan pada sahabat juga disandarkan kepada tabi'in (generasi setelah sahabat). Jadi kabar lebih umum dari hadits, karena di dalamnya termasuk semua riwayat yang bukan dari Nabi Muhammad Rosulullah saw.
Perbedaan pengertian tentang hadits, sunnah, atsar, dan kabar terjadi karena perbedaan sudut pandang para ulama dalam melihat Nabi Muhammad Rosulullah saw. Ulama ushul fiqih memandangnya sebagai pengatur undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk berijtihad. Para ahli fiqih melihat beliau sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya menunjuk kepada hukum Islam. Sedangkan ulama hadits memandangnya sebagai panutan umat manusia.
Hadits menurut ulama ahli hadits (muhadditsin) adalah segala ucapan, perbuatan, taqrir (peneguhan/mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan), dan sifat-sifat Nabi Muhammad Rosulullah saw. Namun ulama ushul fiqih mendefinisikan hadits lebih sempit lagi, yaitu terbatas pada ucapan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw. yang berkaitan dengan hukum.
1. Ucapan, yakni semua ucapan Nabi Muhammad Rosulullah saw. tentang berbagai bidang seperti aqidah, akhlak, pendidikan, hukum, muamalah, dan sebagainya. Berikut kami berikan beberapa contohnya:
# tentang akhlak: 'Abdullah bin 'Amr ra. menyatakan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya orang-orang pilihan di antara kamu, adalah yang paling indah budi pekerti (akhlak)nya". (HR. Muslim) Yang dimaksud "indah" dalam hadits tersebut adalah menyenangkan orang lain, namun tidak bertentangan dengan hukum agama. Jadi perbuatan yang menyenangkan orang lain, tetapi melanggar norma-norma agama, tidak dapat dikatakan indah.
# soal pendidikan: Jabir ra. menuturkan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Tidak pantas bagi orang bodoh mendiamkan kebodohannya. Juga tidak pantas orang yang berilmu itu bendiamkan ilmunya." (HR. Thobroni, Ibnu Sunni dan Abu Nu'aim)
# mengenai muamalah (hubungan antar sesama manusia),Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tidak berimanseseorang di antara kalian sebelum ia mencintai saudaranya seperti kecintaannya terhadap dirinya sendiri". (HR. Bukhori)
# perihal pinjam-meminjam, Nabi Muhammad Rosulullah saw.bersabda, "Pinjaman wajib dikembalikan, dan orang yang pinjam sesuatu wajib membayarnya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Perbuatan, yakni pengamalan atau penjelasan praktis yang dilakukan oleh Muhammad Rosulullah saw. terhadap syariat (hukum) yang masih samar pelaksanaannya. Berikut beberapa contohnya:
# soal menghilangkan najis mugholladhoh, Abu Huroiroh ra. mengabarkan, Muhammad Rosulullah saw. bersabda: "Apabila bejana (wadah) salah seorang di antara kalian dijilat anjing, maka buanglah isinya, dan cucilah dengan air sebanyak tujuh kali". (HR. Bukhori)
# mengenai wudhu, Utsman bin Affan ra. pernah meminta bejana (berisi air), lalu ia menuangkan ke atas kedua telapak tangannya tiga kali setelah itu membasuhnya. Kemudian ia menciduk air dengan telapak tangan kanannya untuk berkumur, lalu menghisap air dengan hidung dan menyemburkannya.
Sesudah itu ia membasuh mukanya tiga kali, lantas kedua tangan sampai sikusikunya tiga kali, lalu mengusap kepalanya. Terakhir ia membasuh kedua kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, "Aku melihat Rosulullah saw. berwudhu seperti wudhuku ini. Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian sholat dua roka'at, dan hatinya tidak membisikkan sesuatu dalam dua roka'at itu, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu." (HR. Ahmad, Bukhori, dan Muslim)
# tentang dzikir bersama usai sholat, Ibnu Abbas ra. mengutarakan, "Sesungguhnya dzikir dengan mengeraskan suara setelah usai sholat wajib, pernah dilakukan pada zaman Nabi saw". (H.R. Muslim)
Yang dimaksud dzikir dengan suara keras di sini adalahdzikir bersama-sama. Hal ini boleh dilakukan jika:
a) kalimat-kalimat dzikir yang diucapkan oleh imam dan makmum dari awal sampai akhir adalah sama. Oleh karena itu dalam komunitas muslim tertentu, misalnya pesantren biasanya melafadzkan dzikir secara bersama-sama. Sebab dzikir yang mereka (ialah imam dan para santrinya) baca mulai dari A sampai Z sama. Dan pada umumnya setiap pesantren mempunyai irama dzikir sendiri-sendiri yang enak didengar dan menyentuh perasaan; dan
b) untuk proses pembelajaran bagi yang belum bisa dan juga belum terbiasa berdzikir. Jelaslah bahwa dzikir bersama itu bukan bid'ah.
3. Taqrir (peneguhan atau mendiamkan sebagai tanda membolehkan atau persetujuan) Nabi Muhammad Rosulullah saw. terhadap ucapan atau perbuatan sahabat di hadapan beliau. Contohnya tentang dibolehkannya makan daging biawak. Suatu ketika seorang sahabat menghidangkan daging biawak yang dibakar kepada Nabi Muhammad saw., namun beliau tidak memakannya. "Apakah biawak itu haram?" Tanya salah seorang sahabat.Nabi Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Tidak. Tetapi binatang itu tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku jijik karenanya." (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits juga disebut sunnah, atsar, dan kabar. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda dengan hadits. Berikut definisi masing-masing rnenurut sebagian ulama:
# sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan dengan hadits. Sebab sunnah tidak terbatas pada ucapan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad Rosulullah saw., melainkan juga meliputi sifat kelakuan, dan perjalanan hidup beliau baik sebelum maupun setelah diangkat menjadi Rosulullah (utusan Allah SWT)
# atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi ucapan sahabat Nabi Muhammad Rosulullah saw.
# kabar (berita) lazimnya selain disandarkan pada sahabat juga disandarkan kepada tabi'in (generasi setelah sahabat). Jadi kabar lebih umum dari hadits, karena di dalamnya termasuk semua riwayat yang bukan dari Nabi Muhammad Rosulullah saw.
Perbedaan pengertian tentang hadits, sunnah, atsar, dan kabar terjadi karena perbedaan sudut pandang para ulama dalam melihat Nabi Muhammad Rosulullah saw. Ulama ushul fiqih memandangnya sebagai pengatur undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk berijtihad. Para ahli fiqih melihat beliau sebagai pribadi yang seluruh perkataan dan perbuatannya menunjuk kepada hukum Islam. Sedangkan ulama hadits memandangnya sebagai panutan umat manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)
Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer
-
ILMU HADITS RIWAYAH DAN DIRAYAH MASALAH LAIN yang perlu kita pahami dalam mempelajari hadits, adalah kajian mengenai hadits yang disebut ...
-
Isi Kitab Zabur Kitab Zabur adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Dawud as. "Dan sungguh, Kami telah memberi...
-
Sejarah Kitab Injil Injil adalah kitab yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Isa as. (Yesus Kristus), putra dar...
-
Pengertian Syariat Islam - Syariat artinya jalan yang sesuai dengan undang-undang (peraturan) Allah SWT. Allah menurunkan agama Islam kep...
-
Macam-macam puasa wajib Sesungguhnya puasa wajib itu ada empat, yaitu : 1. Puasa Ramadhan yaitu puasa yang dilaksanakan selama bualn R...
-
Kisah 25 Nabi dan Rasul Lengkap Berikut kami sajika sekelumit kisah 25 (dua puluh lima) nabi dan rosul yang harus diyakini oleh Umat Isl...
-
Dalam sebagian redaksi dengan menggunakan bahasa, “hukum dan permasalahan yang terkait dengan nikah.” وَفِيْ بَعْضِ النّ...
-
Contoh Dakwah Islam - ISLAM adalah agama yang berasal dari Allah SWT yang diturunkan melalui utusanya Muhammad saw. Ajaran-ajaran Islam t...
-
Pengertian Ijtihad Ijtihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan nalar untuk menyelidiki dan menetapkan h...
-
Asmaul Husna dan Artinya Asmaul Husna berasal dari kata ismi (nama) husna (baik). Artinya nama-nama yang terbaik . Nama-nama tersebut han...

