Tampilkan postingan dengan label hadist 9 imam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadist 9 imam. Tampilkan semua postingan

Hadits shahih bukhari muslim : ULAMA PENYUSUN ENAM KITAB HADITS

Hadits shahih bukhari muslim : ULAMA PENYUSUN ENAM KITAB HADITS

Berikut kami ketengahkan para ulama yang menyusun enam peringkat kitab hadits (Kutubus Sittah), ialah Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasal, dan Imam Ibnu Majah

1. Imam Bukhori (194-256 H / 810 — 870 M)
Nama lengkap Imam Bukhori adalah Abu Abdullah Muhammact bin Ismail bin Ibrohim bin al-Mughiroh bin Bardizbahal al-Bukhori. Ia lahir di Bukhoro, dari keluarga kaya dan terhormat. Ayahnya yang meninggal sewaktu Bukhori masih kecil, adalah seorang yang 'alim dan taqwa.

Sejak kecil Bukhori sudah menampakkan kepribadian yang mulia, serta memiliki kecerdasan dan daya hafalan yang luar biasa. Ia sudah mempelajari hadits sebelum genap berusia sepuluh tahun. Pada usia sebelas tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan sanad hadits. Ketika berusia lima belas tahun, ia sudah hafal kitab Ibnu Mubarok dan Waqi, serta mampu memahami pendapat ahlu ro'yi (rasionalis), ushul dan mazhab mereka. Dan pada usia delapan belas tahun, ia telah menulis kitab Qoda ya as-Sahabat wa at-Tabi'in

Untuk memperluas dan memperdalam pengetahuannya tentang hadits, Bukhori melawat ke berbagai negeri seperti Irak, Syiria, Mesir, Kuffah, Basroh, Khurasan, dan lain sebagainya. Di negeri-negeri tersebut ia menuntut ilmu pada banyak ulama hadits terkemuka, di antaranya ialah 'Ali bin al-Madini, Ahmad, bin Hambal, Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin Ibrohim al-Balkhi, dan Ibnu Rowaih. Dalam pengembaraannya ia selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Bahkan ia sempat menghafal 100000 hadits shohih dan 200000 hadits tidak shohih.

Imam Bukhori telah menulis sejumlah buku, antara lain: 1) al-Qiro'ah Kholfal Imam; 2) al-Musnad al-Kabir; 3) at-Tafsir al-Kabir; 4) at-Tarikh as-Saqir; 5) at-Tarikh al-Awsat; 6) Kitabul l'Ial; 7) Adabul Mufrod; 8) Kitab ad-Dhuafa'. Satu di antara karyanya yang terbesar dan terpopuler sampai kini hanya al-Jami' as-Shohih yang menduduki peringkat pertama dalam Kutubus Sittah.

Keluasan pengetahuan Imam Bukhori sebagai ulama hadits terbukti dari pengakuan dan pujian guru-gurunya, kawankawannya, dan 'ulama hadits sesudahnya. Abu Hatim ar-Rozi berkata, "Khurasan belum pernah melahirkan seorang ulama yang melebihi Bukhori. Di Irak pun belum ada yang menandinginya." Kemudian diceritakan oleh al-Hakim bahwa suatu hari Imam Muslim datang kepadanya dan memohon, "Biarkanlah aku mencium kedua kakiamu wahai guru dari segala guru hadits."

2. Imam Muslim (202-261 H / 817-875)
Nama lengkap Imam Muslim ialah Abdul Husain bin alHajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Pria kelahiran Naisabur ini mempelajari hadits sejak kecil, tepatnya pada awal usia belasan tahun. Demi menimba ilmu hadits, ia merantau ke berbagai negeri. 'Ulama-'ulama hadits terkemuka yang menjadi gurunya, antara lain Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rohawaih (keduanya 'ulama Khurasan), Muhammad bin Mahron dan Abu Ansan (di Ray), Ahmad bin Hanbal, dan Abdullah bin Maslamah (Irak), Sa'id bin Mansyur, dan Abu Mas'ab (Hijaz), 'Amar bin Sawad, dan Harmalah bin Yahya (Mesir) serta Imam Bukhori di Baghdad.

Imam Muslim merupakan orang kedua setelah Imam Bukhori baik dalam hal kedudukan, keluasan pengetahuan haditsnya dan keistimewaan-keistimewaannya. Hal ini terjadi, mungkin karena ia murid dari Imam Bukhori. Kedalaman ilmunya, terutama di bidang hadits yang menyebabkan para ulama pada masanya berguru kepadanya. Kedalaman ilmunya pula yang mendatangkan pujian dari para 'ulama semasanya dan sesudahnya. Al-Khotib al-Baghdadi memberikan kesaksian, "Muslim telah meneruskan langkah Bukhori, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jejaknya."

Abu Quraisy menyatakan, "Di dunia ini orang yang benarbenar ahli hadits hanya empat orang, di antaranya ialah Muslim." Maksudnya adalah ahli hadits yang terkemuka pada masa Abu Quraisy.

3. Imam Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
Nama lengkap Imam Abu Dawud ialah Sulaiman bin alAsy'as bin Ishak bin Basyir bin Syidad bin Amar al-Azdi. Ia lahir di perkampungan Sijistan dekat Basroh. Sejak kecil ia sud menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan bergaul deigan para 'ulama di daerahnya. Setelah menginiaf dewasa, untuk memperluas pengetahuannya ia melanglar- buana ke Hijaz, Syam, Mesir, Irak, dan Khurasan. Ia berhasil menimba ilmu dari beberapa 'ulama penghafal hadits, antara lain: Achmad bin Hanbal, Ahmad bin Roja', Abdul Walid atTayalisi, Abu Amar ad-Darir, dan Al-Qon'abi.

Setelah menjadi ulama besar, atas permintaan penguasa Basroh —Kholifah al-Muwafaq, Abu Dawud menetap di Basroh. Ia menjadi guru dan menyebar-luaskan ilmunya di sana sampai akhir hayatnya. Dan ia termasuk ulama yang mencapai derajat tinggi dalam kesucian diri, kesalehan, dan beribadah. Al Hafiz Musa bin Haris memujinya, "Abu Dawud diciptakan untuk hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih utama dari dia." Ibrohim al-Harbi, seorang 'ulama hadits berkomentar: "Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi telah dilunakkan bagi Nabi Dawud." Perumpamaan Ibrohim ini menunjukkan keistimewaan Abu Dawud, sebab dia telah mempermudah yang rumit.

Abu Dawud telah menulis sejumlah kitab, antara lain: 1) Kitab al-Marosil; 2) Kitab al-Qodar; 3) an-Nasikh wal Mansukh; 4) Fadhoilul A'mal; 5) Ibtida'ul Wahyu; dan 6) az-Zuhud. Dan kitabnya yang masih dijadikan rujukan oleh masyarakat luas sampai kini adalah Sunan Abu Dawud

4. Imam Tirmidzi (209-279 H / 824-892 M)
Nama lengkap Imam Tirmidzi ialah Abu Isa Muhammad bin Isa bin Sauroh bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami al-Bugi. Ia lahir di kota Tirmiz, Tadjikistan. Sebagaimana para ahli hadits yang lain, sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu hadits. Guna memperluas ilmu yang ditekuninya, ia pun merantau ke berbagai negeri antara lain: Hijaz, Irak, dan Khurasan. Ia menimba ilmu hadits dari beberapa ulama besar, antar lain: Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Mahmud bin Ghoilan, Sa'id bin Abdurrohman, Muhammad bin Basysyar, 'Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni, dan Muhammad bin al-Musanna.

Sebagai ulama hadits, ia terkenal saleh, takwa, jujur, sangat teliti, dan kuat hafalannya. Kemuliaan clan keluasan ilmunya ini mendapat pujian dari al-Hakim Abu Abdullah, "Saya mendengar 'Umar bin 'Ak berkata: 'Imam Bukhori wafat dan tidak meninggalkan 'ulama penggantinya di Khurasan seperti Abu Isa at-Tirmizi dalam bidang ilmu, kekuatan hafalannya, waro', dan kezuhudannya."

Kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Tirmizi, adalah: 1) al-Illat; 2) at-Tarikh; 3) as-Syama'il an-Nabawiyah; 4) az-Zuhud; 5) al-Asma wal Kuna dan 6) al Jami' yang disebut Sunan at-Tirmizi yang paling popular hingga saat ini. Dalam kitab ini Imam Tirmidzi tidak hanya meriwayatkan hadits-hadits shohih saja, melainkan juga hadits hasan, ghorib, dan mu'allaq dengan menerangkan kelemahannya.

5. Imam Ibnu Majah (209-273 H / 824-887 M)
Nama lengkap Imam Ibnu Majah ialah Abu 'Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Robi'i al-Qozwini. Lelaki kelahiran Qozwin ini seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, terutama tentang hadits dan periwayatnya. Ia pun menjelajah beberapa negeri untuk menimba ilmu hadits, antara lain: Irak, Hijaz, Syam, Mesir, Kuffah, dan Basroh.

Imam Ibnu Majah berguru dan meriwayatkan hadits dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Namir, Hisyam bin Ammar, Muhammad bin Rum, Ahmad bin al-Azhar, Basyir bin Adam. Tentang kehebatannya bisa disimak dari pujian Ibnu Katsir, seorang ahli hadits, "Ibnu Majah adalah seorang penulis kitab Sunan yang masyhur. Kitab itu bukti dari amal data ilmunya yang luas."

Karya-karya Imam Ibnu Majah, antara lain: 1) Tafsir al-Quran 2) at-Tarikh yang berisi sejarah sejak masa sahabat sampai Ibnu Majah; dan 3) as-Sunan yang terdiri dari 32 jilid, dan 1500 bab.

Kitab as-Sunan itulah karya Imam Ibnu Majah terbesar yang masih beredar sampai sekarang. Kitab yang menghimpun 4000 hadits ini disusun berdasarkan sistematika fiqih. Penyajiannva dimulai dengan bab "Mengikuti Sunnah Rosulullah saw." yang membahas hadits tentang kekuatan sunnah, dan kewajiban untuk mengikuti sekaligus mengamalkannya.

6. Imam Nasai (215-303 H / 830-915 M)
Nama lengkap Imam Nasa'i ialah Ahmad bin Syu'aib bin 'Ali bin Sinan bin Bahar al-Khurasani al-Qodi. Ia lahir dan dibesarkan di Nasa'. Sejak dini ia belajar menghafalkan al-Qur-an dan mempelajari ilmu-ilmu dasar dari guru-guru madrasah di negerinya. Selain itu ia senang mengembara untuk menuntut ilmu hadits. Usianya belum genap lima belas tahun ketika ia pergi ke Hijaz, Irak, dan Mesir. Di sanalah ia menimba ilmu hadits dari 'ulama-'ulama terkenal saat itu. Guru-gurunya antara lain Qutaibah, Ishaq bin Rohawaih, al-Harits bin Miskin, 'Ali bin Khosrom, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi.

An-Nasa'i dikenal berpendirian teguh, pantang menyerah dalam membela sunnah, dan taat menjalankan ibadah baik siang maupun malam hari. Ia juga menjalankan puasa Nabi Dawud as., yakni sehari puasa sehari berbuka demikian seterusnya sampai akhir hayatnya.

An-Nasa'i adalah ulama hadits terkemuka pada masanya. Ia menetapkan syarat sangat ketat dalam menerima hadits dan sangat hati-hati dalam mengkritik para perawi. Itu tercermin dari pujian Abu 'Ali Naisaburi, "Yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah seorang imam hadits yang telah diakui oleh 'ulama, ialah Abdurrohman an-Nasa'i. Syarat yang dipakai Nasa'i lebih ketat dibandingkan syarat yang digunakan oleh Muslim al-Hajj."

Selain seorang 'ulama ahli hadits, Imam Nasa'i juga ahli fiqih dalam mazhab Syafi'i. Itu bisa disimak dari pengakuan Daruquthni, "Di Mesir, Nasa'i adalah orang yang paling ahli di bidang fiqih pada masanya, dan paling mengetahui tentang hadits berikut para perawinya. Tentan mazhab fiqih yang dianut oleh Nasa'i bisa disimak dari pengakuan Ibnu Asir al-Jazairi yang menulis dalam pembukaan Jami'ul Ushulnya, "Nasa'i bermazhab Syafi'i dan mempunyai kitab manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Syafi'i."
Karya-karya an-Nasa'i antara lain: 1) as-Sunnatul Kubro; 2) as-Sunanus Sughro (terkenal dengan nama Mujtaba); 3) al-Khosa'is; 4) Fada'ilus Sahabah; dan 6) al-Manasik

Hadits 9 imam : ENAM PERINGKAT KITAB HADITS

Hadits 9 imam : ENAM PERINGKAT KITAB HADITS

Sesungguhnya banyak kitab hadits karya ulama terkemuka yang cukup terkenal di masyarakat luas. Misalnya:

# al-Muwaththo' karya Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbachi atau lebih popular dengan sebutan Imam Malik (Madinah 94-179 H / 716-795 M) pendiri mazhab Maliki. Al-Muwaththo' adalah kitab hadits pertama yang disusun sebab periwayatan hadits pada masa sebelum Imam Malik terbatas pada hafalan. Al-Muwaththo' merupakan kitab yang menghimpun hadits-hadits berdasarkan tema-tema fiqih;

# al-Musnad karya Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i atau lebih popular dengan panggilan Imam Syafi'i (Gaza, Palestina 150 H/767 M — Kairo, Mesir 204 H/820 M), pendiri Mazhab Syafi'i. Kitab Al-Musnadnya berisi hadits-hadits Nabi Muhammad Rosulullah saw. yang dihimpun dalam Kitab Al-Umm, yakni kitab fikih yang komprehensif karya Imam Syafi'i sendiri;

# al-Musnad karya Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali (Baghdad, 164-241 H / 780-855 M) pendiri mazhab Hambali. Kitab ini berisi kumpulan hadits terutama yang berkaitan dengan persoalan fiqih dan diriwayatkan dari para perawi shiqot (kuat hafalannya serta dapat dipercaya)

Memang banyak kitab hadits yang disusun para ulama terkemuka, namun tidak semuanya diterima oleh masyarakat luas. Sebab para ulama telah memberi pengakuan hanya terhadap enam kitab hadits sebagai kitab standard, sekaligus menyusun peringkatnya. Penentuan peringkat ini berdasarkan pada semua aspek dalam masing-masing kitab itu, mulai dari nilai hadits, ketelitian, syarat-syarat yang ditetapkan, sampai sitematika penyusunannya.

Dengan demikian meskipun suatu kitab hadits dinyatakan peringkat pertama, namun tidak berarti semua hadits yang termuat di dalamnya dengan sendirinya menduduki peringkat pertama pula. Mengapa? Sebab bisa saja suatu hadits yang terdapat dalam kitab hadits peringkat kedua, tetapi nilai hadits yang dikandungnya malah di peringkat pertama.

Keenam peringkat kitab hadits yang telah ditetapkan para ulama itu disebut al-Kutub as-Sittah (masyarakat membacanya Kutubus Sittah). Keenam peringkat kitab hadits tersebut secara berturut-turut adalah: 1) Shohih Bukhori; 2) Shohih Muslim; 3) Sunan Abu Dawud; 4) Sunan Tirmidzi; 5) Sunan Nasa’i; dan 6) Sunan Ibnu Majah. Sampai kini keenam kitab hadits itu masih beredar luas dan dipakai umat Islam di seluruh dunia sebagai referensi.

Berikut kami ketengahkan sepesifikasi dari keenam peringkat kitab hadits tersebut.
a) Kitab Shohih Bukhori (al-Jami' as-Shohih Bukhori), berisi 7.275 hadits yang merupakan seleksi dari 600.000 hadits. Kitab ini juga memuat fatwa sahabat dan tabi'in sebagai penjelasan terhadap hadits yang diketengahkan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa nilai Shohih Bukhori lebih tinggi dibanding Shohih Muslim. Alasan mereka karen a syarat yang ditetapkan oleh Imam Bukhori lebih ketat dibandingkan dengan syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim. Syarat yang dimaksud, di antaranya, Bukhori menetapkan liqoo (bertemunya antara rawi yang menyampaikan dengan rawi yang menerima). Sebaliknya bagi Imam Muslim, syarat tersebut cukuplah mu'asaroh (perawi yang menyampaikan dan perawi yang menerima itu hidup dalam satu masa).

b) Kitab Shohih Muslim (al-Jami' as-Shohih Muslim). Para ulama berselisih pendapat tentang jumlah hadits yang termuat dalam kitab ini. Muhammad Ajaj al- Khotib (guru besar hadits di Universitas Damsyik) menyatakan, hadits yang termuat dalam kitab ini berjumlah 3030 hadits tanpa pengulangan, dan jika dengan pengulangan berjumlah 10000. Menurut al-Khuli (seorang ulama dan ahli hadits di Mesir), Shohih Muslim berisi 4000 hadits jika tanpa pengulangan, sedangkan jika dengan pengulangan berjumlah 7.275.


Ulama wilayah Maghribi menilai peringkat Shohih Muslim lebih tinggi dari kitab Shohih Bukhori. Mengapa? Sebab walau persyaratan yang digunakan oleh Imam Muslim lebih longgar, namun kitab ini dipandang telah memenuhi syarat minimal. Sebaliknya persyaratan yang diterapkan oleh Imam Bukhori yang lebih ketat, mereka nilai berlebihan.

Kitab Shohih Muslim memiliki beberapa kelebihan dibandingkan Shohih Bukhori, yakni:
# imam Muslim lebih teliti dalam meriwayatkan dengan lafal yang diterimanya, sebab ia mencatatnya sewaktu menerima hadits;

# redaksi haditsnya sebagian besar diriwayatkan secara bi allafz (dengan lafal yang sama disampaikan oleh Nabi Muhammad saw). Sebaliknya redaksi Imam Bukhori sebagian besar disampaikan secara bi al-ma'na (menyampaikan maksud atau makna dari yang disabdakan Muhammad Rosulullah saw). Itulah sebabnya jika terjadi perbedaan kalimat antara hadits Bukhori dan Muslim, sebagian besar ulama lebih memilih redaksi yang digunakan oleh Muslim.

#  susunan Shohih Muslim lebih sistematis, karena hadits-haditsnya dihimpun berdasarkan bab-bab yang ada dalam kitab fiqih seperti akidah, hukum, kemasyarakatan, dan ibadah. Dengan demikian seseorang yang ingin meneliti hadits lebih mudah menelusurinya dalam Shohih Muslim.

Dalam menyusun kitab ini Imam Muslim menggunakan prinsip: ilmu jarh dan ta'dil (yaitu suatu ilmu yang dipakai menilai cacat tidaknya suatu hadits). Juga ia gunakan metode penerimaan riwayat (shighot at-tahammul), chaddasanaa (menyampaikan kepada kami), akhbaroni (mengabarkan kepada saya), akhbaronaa (mengabarkan kepada kami), dan qoola (ia berkata).

c) Kitab Sunan Abu Dawud memuat 4800 hadits, hasil seleksi dari 500000 hadits yang dihafal oleh Imam Abu Dawud. Kitab ini dinamakan kitab sunan, sebab mengemukakan penjelasan ketidakshohihan hadits-hadits. Itulah sebabnya kitab ini memuat hadits-hadits yang shohih, mendekati shohih, dan menyerupai shohih. Ciri yang menonjol dari karya Abu Dawud ini adalah kaya dengan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah hukum.

d) Kitab Hadits Sunan Tirmidzi (Jaami' at Tirmidzi). Disebut kitab sunan karena menjelaskan rawi dan derajat haditsnya. Sebagaimana kitab-kitab lain yang bernama jami', cakupan bahasannya meliputi masalah-masalah popular, antara lain masalah: keimanan (al-Aqidah); pemberi rezeki (ar-Rozzaaq); etika makan minum (Adab at-Ta'am wa asy-Syurb); hukum (al-Ahkam), serta tafsir, sejarah, dan biografi (at-Tafsiir wa at-Tariikh wa asSayr)

Pedoman pokok yang digunakan oleh Imam Tirmidzi menyeleksi hadits, yaitu apakah hadits tersebut dipakai ahli fikih sebagai hujjah atau tidak. Dengan demikian Tirmidzi tidak menyaring hadits berdasarkan shohih atau dhoif. Oleh sebab itu ia selalu menerangkan hadits yang dicantumkan dalam kitabnya.

Sunan Tirmidzi memiliki beberapa keistimewaan, antara lain:
# pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam hadits pokok, baik isinya yang semakna maupun yang berbeda;
# banyak memberikan catatan perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqih (fuqoha) tentang istinbat hadits pokok dan menyebutkan beberapa hadits yang berbeda dalam hal itu serta memberikan penilaiannya;
# setiap hadits yang dimuat dalam kitab tersebut disebutkan nilainya dengan jelas, bahkan nilai perawinya yang dianggap penting;
# Imam Tirmidzi menggunakan istilah khusus, dan yang paling populer adalah istilah hasan shohih yang mengundang kontroversi di kalangan ulama.

e) Kitab Hadits Sunan Nasa'i (Sunan as-Sugroo atau Sunan al-Mujtabaa), memuat 5761 hadits hasil seleksi dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitab as-Sunan al-Kubro karya Imam Nasa'i sebelumnya. Isi as-Sunan al-Kubro diseleksi kembali karena tidak hanya memuat hadits-hadits hasan dan shohih, melainkan juga mengemukakan hadits-hadits dhoif.

f) Kitab Hadits Sunan Ibnu Majah. Sebenarnya sebagian ulama mengeluarkan kitab ini dari Kutubus Sittah (keenam peringkat kitab hadits) karena selain memuat hadits shohih dan hasan, juga memuat hadit dhoif dan hadits mungkar (hadits yang sangat lemah)

'Ulama yang pertama kali memasukkan Sunan Ibnu Majah ke dalam kelompok Kutubus Sittah adalah Abu al-Fadhol Muhammad bin Tahir al-Maqdisi. Sebagian ulama berpendapat al-Muwaththo' karya Imam Malik yang pantas sebagai kitab yang keenam, bukan Sunan Ibnu Majah. Ada juga yang mengusulkan bahwa kitab yang keenam adalah Sunan Ad-Darimi (Kitab yang berisi kumpulan hadits yang disusun oleh Imam Ad-Darimi). Pandangan Abu al-Fadhol Muhammad bin Tahir al-Maqdisi memasukkan Sunan Ibnu Majah dalam Kutubus Sittah didukung sepenuhnya oleh Hafidz Abdul Ghoni al-Maqdisi dalam kitabnya Ikmal (pelengkap). Alasan mereka lebih memilih Sunan Ibnu Majah dibanding kitab hadits lainnya, karena kitab ini memuat dan menginformasikan hadits-hadits yang tidak terdapat dalam lima kitab lainnya.

Meskipun keenam kitab hadits tersebut dijadikan pegangan oleh para ulama, bukan berarti tidak menuai kritik. Kritik yang ditujukan kepada Shohih Bukhori, salah satunya adalah adanya hadits mu'allaq (menggantung, yakni hadits yang terputus sanadnya). Tetapi para ulama membelanya bahwa Bukhori dalam hal ini menggunakan lafal mabnii ii al-majhuul (kalimat pasif). Jadi Bukhori sengaja memuat hadits dhoif hanya sebagai pendukung.

Shohih Muslim juga menuai kritik, karena dinilai memiliki beberapa kelemahan, antara lain:
# sebagian kecil haditsnya mu'allaq, suatu hadits dimana salah satu atau lebih sanadnya dibuang pada permulaannya dengan kata lain terputus sanadnya;

# terdapat hadits mursal, yaitu hadits yang dalam sanadnya tidak terdapat sahabat. Dengan kata lain diriwayatkan oleh tabi'in langsung dari Nabi Muhammad saw.

# terdapat periwayatan hadits dari perawi-perawi yang dinilai lemah.

Salah satu kritik yang ditujukan kepada Sunan Abu Dawud adalah masih adanya hadits-hadits dhoif. Lalu kritik yang terlontar untuk Sunan Tirmidzi adalah dipandang kurang ketat dalam menetapkan syarat (menentukan kualitas) hadits. Hanya Sunan anNasa'i yang mendapat kritik cukup ringan, yakni beberapa hadits di dalamnya sering diulang. Dan kritik yang diperoleh kitab Sunan Ibnu Majah juga karena memuat hadits dhoif, dan bahkan hadits mungkar.

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer