Penciptaan alam semesta menurut Al Quran

Penciptaan alam semesta menurut Al Quran - Alam Semesta Dan Isinya Dalam Al-Qur'an

Para Cendekiawan Barat telah mengakui tentang kelengkapan dan kesempurnaan isi Al-Qur'an. Edward Gibbon, ahli sejarah Inggris (1737-1794), di antaranya yang mengatakan, bahwa Al-Qur'an adalah sebuah kitab agama, yang membahas tentang masalah-masalah kemajuan, kenegaraan, perniagaan, peradilan, dan undang-undang kemiliteran dalam Islam. Isi Al-Qur'an sangat lengkap, mulai dari urusan ibadah, ketauhidan, sampai soal pekerjaan sehari-hari, mulai dari masalah rohani sampai hal-hal jasmani, mulai dari pembicaraan tentang hak-hak dan kewajiban segolongan umat sampai kepada pembicaraan tentang akhlak dan perangai serta hukum siksa di dunia.

Selain itu Al-Qur'an juga menerangkan tentang alam semesta dan seisinya."Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS. 16/ An-Nahl: 89). Bab ini khusus mengemukakan ayat-ayat Al-Qur'an tentang alam semesta yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakanlanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti". (QS. 2/ Al-Baqoroh: 164)

Langit, Matahari, Bulan, Dan Bintang

Al-Qur'an menegaskan bahwa langit merupakan atap yang terpelihara, "Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan, dan lain-lain). (QS. 21/Al-Anbiya': 32) Langit diluaskan. "Langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Kami benar-benar meluaskannya." (QS. 51/Adz Dzariyat: 47) Dan tidak terdapat keretakan sedikit pun di langit. "Apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikit pun." (QS. 50/Qof: 6)

Ada beberapa ayat Al-Qur'an yang menegaskan bahwa langit di atas sana terdiri dari tujuh tingkat. "Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit." (QS. 2/Al-Baqoroh: 29) "Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun, yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." (QS. 67/Al-Mulk: 2-3) "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?" (QS. 71/ Nuh: 15)

Pakar Islam asal Turki, Prof. Harun Yahya, menafsirkan tujuh lapis langit dengan menganologikan atmosfir sebagai wujud langit. Analogi tersebut sangat mungkin sebab secara ilmiah atmosfir juga terdiri dari tujuh lapis. Setiap lapisan atmosfir dari yang paling bawah hingga paling atas mempunyai batas-batas yang tegas. Selain itu tingkat suhu pada masing-masing atmosfir berbeda-beda.

Tujuh lapisan atmosfir yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Troposfir (atmosfir paling bawah), merentang di ketinggian 1618 km di wilayah tropis. Suhunya berkisar 57 derajat dibawah nol Celcius. Di atmosfir yang terdekat dengan bumi inilah perubahan-perubahan cuaca terjadi.

2. Stratosfir (atmosfirkedua). Letaknya di ketinggian 50 km dengan suhu berkisar 0 derajat celcius. Suhunya dalam lapisan atmosfir kedua ini tidak lebih tinggi dari itu sebab "didinginkan" sinar ultraviolet. Sewaktu proses pendinginan ini berlangsung, muncullah lapisan ozone yang sangat penting bagi kehidupan di bumi.

3. Mesosfir (atmosfir ketiga). Letaknya di ketinggian 80 km. Di sini suhunya bisa menurun hingga 73 derajat di bawah nol celcius.

4. Termosfir (atmosfir keempat). Suhunya mencapai 1232 derajat Celcius, kembali naik sesuai dengan ketinggian letaknya: 480 km.

5. Lonosfir (atmosfir kelima). Inilah atmosfir yang berperan penting dalam kelangsungan komunikasi di bumi. Sebab Ionosfir memantulkan kembali gelombang radio ke bumi.

6. Exosfir (atmosfir keenam). Letaknya yang di atas ketinggian 500 km menjadikannya menyatu dengan gas-gas antariksa. Molekul-melekul yang melesat dengan cepat memungkinkannya lepas dari gaya tarik bumi, lalu bertabrakan dengan molekul-molekul lain; dan

7. Magnetosfir (atmosfir ketujuh). Letaknya antara 3000 hingga 30.000 km, tepatnya di zona radiasi yang mengandung partikel-partikel ber-ion energi tinggi. Inilah zona yang disebut sabuk radiasi Van Allen. Mengapa lapisan ini dinamakan Magnetosfir? Sebab ion-ion dan patikel-partikel atom di bentangan ini nyaris sepenuhnya dikendalikan oleh lapangan magnetik bumi.

Berikut benda-benda penghias langit yang diterangkan dalam Al-Qur'an:

1. Matahari dan Bintang. "Dia juga menjadikan padanya (pada langit) matahari dan bulan yang bersinar." (QS. 25/ Al-Furqon: 61) "Di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? ." (QS. 71/Nuh: 16)
Sebelum para ilmuwan menemukan fakta bahwa matahari dan bulan mengitari porosnya, Al-Qur'an telah mengungkapkannya lebih dulu. "Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya), dan telah menundukkan malam dan siang bagimu." (QS. 14/Ibrohim: 33) "Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. 21/ Al-Anbiya': 33)

2. Bintang-gemintang. "Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang." (QS. 25/Al-Furgon: 61) Bintang-bintangitu sebagai hiasan. "Dan sungguh Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya." (QS. 15/Al-Hijr: 16) Bintang-bintang itu juga menjadi petunjuk jalan bagi manusia. "Dan Dialah yang menciptakan bintang-bintang bagimu supaya kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut." (QS. 6/Al-An'am: 97) "Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk (jalan)." (QS. 16/An-Nahl: 16)

3. Kilat dan petir. "Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS. 24/An-Nur: 43) "Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu yang menimbulkan ketakutan atau harapan, dan Dia menjadikan mendung." (QS. 13/Ar-Ro'du: 12) Maksudnya petir menakutkan manusia karena gema gemuruhnya, namun juga harapan bahwa hujan akan turun.

Tanda Baca AlQuran

Tanda Tanda Baca Dan Pencetakan AlQur'an

Dalam mushhaf Utsmani, penulisan Al-Qur'an memakai huruf-huruf kuufii. Yakni huruf yang berbentuk menyerupai garis lurus, tanpa titik dan baris. Penulisan Al-Qur'an tersebut saat itu tidaklah bermasalah bagi para sahabat, karena mereka selain fasih berbahasa Arab juga telah menghafalnya dengan lancar. Setelah banyak orang non-Arab memeluk Islam, timbullah kesulitan besar dalam membaca tulisan Al-Qur'an.

Karena itu salah seorang pemuka tabi'in yang bernama Abu Al-Aswad Ad-Duwali yang hidup pada zaman Muawiyah bin Abu Sufyan berinisiatif memberi tanda titik-titik sebagai tanda fatha, kasroh, dhommah, serta syaddah, sukun dan tanwin dalam Al-Qur'an.

Karena tanda-tanda baca itu belum banyak menolong orang awam, maka ditambahkan tanda titik untuk menandakan huruf tertentu oleh Yahya bin Ya'mur dan Nasir bin Asim pada masa Kholifah Abdul Malik bin Marwan. Dengan begitu mudah dibedakan antara huruf ba, ta, tsa, dan ya.

Tanda-tanda baca tersebut tetap dipakai sampai abad ke-4, permulaan Dinasti Abbasiyah.
Selanjutnya tanda fatha, kasroh, dhommah, serta syaddah, sukun dan tanwin berupa titik-titik yang dibuat oleh Abu Al-Aswad AdDuwali disempurnakan oleh Kholil bin Ahmad bin Amr bin Tamim al-Farihidi sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur'an yang beredar saat ini. Dan pada masa Kholifah Al-Ma'mun, para ahli giroah menambahkan lagi beberapa tanda dalam penulisan Al-Qur'an, seperti tanda ayat, tanda ibtida (memulai membaca) dan wagof berhenti membaca), Selain itu mereka juga menambahkan keterangan nama, tempat turunnya, dan jumlah ayat pada setiap awal surat, serta dilengkapi dengan tanda pemisah juz berikut penomorannya. Begitu seterusnya penulisan Al-Qur'an mengalami perbaikan secara bertahap hingga lengkap sebagaimana kita dapati sekarang ini.

Sampai abad ke-16 Al-Qur'an disalin dari diperbanyak dari mushhaf 'Utsmani dengan cara ditulis tangan. Baru pada tahun 1694 penggandaan Al-Qur'an dilakukan dengan menggunakan mesin cetak.

Pencetakan Al-Qur'an pertama kali dilakukan di Hamburg, Jerman, beberapa waktu setelah penemuan mesin cetak oleh Bangsa Eropa. Pencetakan Al-Qur'an oleh umat Islam sendiri baru dilakukan pada tahun 1787 dan diterbitkan di St. Petersburg, Rusia. Kemudian dicetak pula di Kazan (pada tahun 1828), di Persia (Iran) pada tahun 1838, dan di Istanbul (Turki) tahun 1877.

Fluegel, seorang orientalis berkebangsaan Jerman, pada tahun 1858 juga menerbitkan Al-Qur'an yang dilengkapi dengan pedoman (tanda-tanda baca) yang bermanfaat. Terkenallah Al-Qur'an itu dengan nama Edisi Fluegel dan banyak dijadikan rujukan kalangan orientalis dari berbagai generasi. Tetapi dalam Al-Qur'an terbitan Fluegel tersebut akhirnya ditemukan adanya kesalahan besar. Yakni penomoran ayat-ayatnya berbeda dengan sistem yang ada mushhaf Utsmani. Karena itulah sejak awal abad ke-20, pencetakan Al-Qur'an dilakukan di dunia Islam sendiri. Tentu saja dengan pengawasan yang sangat ketat oleh para ulama guna menghindari kesalahan cetak.

Al-Qur'an yang banyak beredar di dunia Islam dewasa ini, adalah cetakan edisi Mesir yang diprakarsai oleh Raja Fuad. Edisi Mesir tersebut ditulis berdasarkan Qiroah Nasir bin Asim yang diriwayatkan oleh Hafs dan diterbitkan pertama kali di Kairo tahun 1925. Lalu tahun 1947, atas prakarsa Sa'id Nursi seorang kaligrafi Turki terkemuka, pemerintah Turki mencetak Al-Qur'an memakai teknik cetak offset dengan huruf-huruf yang indah. Dan pencetakan Al-Qur'an dalam berbagai ukuran mulai dilakukan pada tahun 1976 di Berlin (Jerman) oleh percetakan yang dikelola pengikut Sa'id Nursi.

Pencetakan dan penerbitan Al-Qur'an di Indonesia haruslah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Untuk keperluan tersebut, pemerintah dan Kementerian agama membentuk suatu lembaga khusus yang bernama Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur'an yang bertugas, antara lain, mengoreksi dan mentashih setiap Al-Qur'an yang mau diterbitkan. Dengan adanya lembaga ini maka diharapkan Al-Qur'an yang diterbitkan dan diedarkan di Indonesia terjaga dari segala bentuk kekeliruan dan kesalahan.

Surat Dalam AlQuran

Surat Dalam AlQuran 
Surat-surat dalam Al-Qur'an tersebut terbagi dalam dua kelompok.

1. Surat Makkiyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Mekah (sebelum Nabi Muhammad hijrah). Jumlahnya 86 surat atau 19/ 30 dari isi Al-Qur'an. Ciri-ciri suratnya:

# ayat-ayatnya pendek-pendek;

# kebanyakan diawali dengan seruan "yaa ayyuhannas" (wahai manusia);

# umumnya menerangkan masalah keimanan, perintah, ancaman, pahala, dan kisah-kisah umat terdahulu agar dijadikan contoh bagi umat Muhammad saw.

2. Surat Madaniyyah, yakni yang ayat-ayatnya diturunkan di Madinah (setelah Nabi Muhammad hijrah). Jumlahnya 28 surat atau 11/30 dari isi Al-Qur'an. Ciri-cirinya:

# ayat-ayatnya panjang-panjang;

# kebanyakan diawali dengan seruan "yaa ayyuhalladzina aamanu" (wahai orang-orang yang beriman), dan

# pada umumnya menerangkan tentang peraturan bermasyarakat, ketatanegaraan, serta masalah-masalah keduniawian lainnya.

Al-Qur'an berisi 114 surat, dan terdiri dari 6236 ayat. Sebagian ulama mengatakan, jumlah ayat Al-Qur'an 6666. Jumlah kalimatnya menurut hitungan sebagian para ahli tercatat 74.437 dan hurufnya sebanyak 325.345.

Ditinjau dari panjang-pendeknya, surat-surat dalam Al-Qur'an dapat dikelompokkan menjadi empat bagian:

1. Assab'uththiwaal, yakni tujuh surat yang sangat panjang. Terdiri dari Al Baqoroh, Ali Imron, An-Nisa', Al-'Arof, Al-An'am, Al Maidah dan Yunus.

2. Al-Miuun, yakni surat-surat yang panjangnya lebih dari seratus ayat, seperti Hud, Yusuf, Mu'min, dan sebagainya.

3. Al-Matsani, yakni surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat, seperti Al-Anfal, Al-Hijr, dan sebagainya.

4. Al-Mufashshol, yakni surat-surat pendek, seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nas, dan sebagainya.

114 surat yang terdapat dalam Al-Qur'an, sebagai beriktu:

1. Al-Fatihah atau ummul Qur'an, surat Makiyyah, 7 ayat.
Penamaan "Al-Fatihah" (pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al-Qur'an.
Dinamakan juga "Ummul Qur'an" (induk Al-Qur'an) atau "Ummul Kitab" (induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al-Qur'an, serta menjadi inti sari bagi kandungan Al-Qur'an, dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap sholat. Disebut pula "As-Sab'ul matsany" (tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam sholat.

2. Al-Baqoroh (sapi betina), surat Madaniyah, 286 ayat.
Penamaan Al-Baqoroh karena di dalamnya terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Dinamai juga "Futshothul-Quran" (puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat lain. Disebut juga "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

3. Ali 'Imron (keluarga Imron), surat Madaniyah, 200 ayat.
Penamaan Ali 'Imron karena memuat kisah keluarga 'Imron yang di dalamnya disebutkan tentang kelahiran Isa as., persamaan kejadiannya dengan Nabi Adam as., kenabian dan beberapa mukjizatnya, serta disebut pula kelahiran Maryam, putri 'Imron, ibu nabi Isa as.
Surat Al-Baqoroh dan Ali 'Imron dinamakan "Az-Zahrowani" (dua yang cemerlang), karena kedua surat ini menyingkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh para Ahli Kitab, seperti kejadian dan kelahiran Nabi 'Isa as., kedatangan Nabi Muhammad saw. dan sebagainya.

4. An-Nisa' (wanita-wanita), surat Madaniyah, 176 ayat.
Penamaan An-Nisa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain. Surat lain yang banyak juga membicarakan tentang wanita adalah surat Ath-Tholaq. Dalam kaitan ini surat An Nisa' biasa disebut "Surat An-Nisa' AlKubro" (surat An-Nisa' yang besar), sedang surat Ath-Tholaq disebut "Surat An-Nisa' Ash-Shugro" (surat An-Nisa' yang kecil).

5. Al-Maidah (hidangan), surat Madaniyah, 120 ayat.
Penamaan Al-Maidah, karena memuat kisah para pengikut setia Nabi Isa as. yang meminta kepada beliau agar Allah SWT menurunkan untuk mereka Al-Maidah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112). Dinamakan juga "Al-uqub" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji setia terhadap Allah dan semua perjanjian yang mereka buat dengan sesamanya.

6. Al-An'am (binatang ternak), surat Makkiyah, 165 ayat
Penamaan Al An'aam karena di dalamnya disebut kata "An-'am" dalam hubungan dengan adat-istiadat kaum musyrikin, yang menurut mereka binatang-binatang ternak itu dapat dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Juga dalam surat ini disebutkan hukum-hukum yang berkenaan dengan binatang ternak itu.

7. Al-'Arof (tempat tertinggi), surat Makkiyah, 206 ayat
Penamaan Al-'Arof karena perkataan "Al-'Arof" terdapat dalam ayat 46 yang mengemukan tentang keadaan orang-orang yang berada di atas Al- 'Arof yaitu: tempat yang tertinggi di batas surga dan neraka.

8. Al-Anfal (rampasan perang), surat Madaniyah, 75 ayat.
Penamaan Al-Anfal karena selain kata "Al-Anfal" terdapat pada awal surat ini dan pokok persoalan yang dibahas juga tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya.

Menurut riwayat Ibnu Abbas ra. surat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar Kubro yang terjadi pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena perang itulah yang menentukan jalan sejarah perkembangan Islam. Pada waktu umat Islam dengan kekuatan kecil, untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan perlengkapan yang cukup. Dan dalam peperangan ini umat Islam memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit.

9. At-Taubah (pengampunan), surat Madaniyah, 129 ayat
Penamaan At-Taubah karena kata "At-Taubah" berulang kali disebut dalam surat ini. Dinamakan juga dengan Baro'ah yang berarti berlepas diri. Maksudnya adalah pernyataan pemutusan hubungan, sebab kebanyakan pokok pembicaraannya tentang pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.

10. Yunus (nama nabi), surat Makkiyah, 109 ayat
Dinamakan Yunus karena sebagian besar isi surat ini menceritakan kisah Nabi Yunus as. dan para pengikutnya yang teguh imannya.

11. Huud (nama nabi), surat Makkiyah, 123 ayat
Penamaan Hud karena berkaitan dengan adanya kisah Nabi Hud as. dan kaumnya. Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah Nabi yang lain, seperti kisah Nuh as., Sholeh as., Ibrohim as., Luth as., Syu'aib as., dan Musa as.

12. Yusuf (nama nabi), surat Makkiyah, 111 ayat
Surat ini dinamakan Yusuf karena titik berat dan isinya mengenai riwayat Nabi Yusuf as. Riwayat tersebut salah satu di antara cerita-cerita gaib yang diWahyukan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai mukjizat bagi beliau, sedang beliau sebelum diturunkan surat ini tidak mengetahuinya.

Menurut riwayat Al-Baihaqi dalam kitab "Ad-Dalail" bahwa segolongan orang Yahudi masuk agama Islam sesudah mereka mendengar cerita Yusuf as. ini. Karena sesuai dengan cerita-cerita yang mereka ketahui.

13. Ar Ro'du (petir/guruh), surat Makkiyah, 43 ayat
Penamaan Ar-Ro'du karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya", menunjukan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah SWT. Dan lagi sesuai dengan sifat Al-Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia. Isi yang terpenting dari surat ini adalah bahwa bimbingan Allah kepada mahluk-Nya berkaitan erat dengan hukum sebab akibat.

Bagi Allah SWT tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman. Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

14. Ibrohim (nama nabi), surat Makkiyah, 52 ayat
Penamaan Ibrohim, karena surat ini memuat do'a Nabi Ibrohim as., (ayat 35 s/d 41). Do'anya antara lain: pemohonan agar keturunannya mendirikan sholat, dijauhkan dari menyembah berhala serta agar Mekah dan sekitarnya menjadi daerah yang aman dan makmur. Do'a Nabi Ibrohim as. ini diperkenankan oleh Allah SWT sebagaimana telah terbukti kota Mekah dan sekitarnya aman sejak dahulu sampai sekarang . Do'a tersebut beliau panjatkan ke hadirat Allah SWT usai membangun Ka'bah bersama puteranya Ismail as., di dataran tanah Mekah yang tandus.

15. Al-Hijr (batu gunung/nama sebuah pegunungan), surat Makkiyah, 99 ayat
Nama surat ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya, yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai 84. Mereka telah dimusnahkan Allah SWT karena mendustakan Nabi Sholeh as. dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah kaum lainnya yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth as. dan kaum Syu'aib as. Dari semua kisah itu dapat diambil pelajaran bahwa orang-orang yang menentang ajaran para rosul akan mengalami kehancuran.

16. An-Nahl (lebah), surat makkiyah, 128 ayat
Penamaan An-Nahl karena dalam ayat 68 terdapat firman Allah SWT, yang artinya: "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".

Lebah adalah mahluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia. Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al-Qur'anul Karim. Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat dari bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69). Sedang Al-Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat (lihat QS. 10/Yunus: 57 dan QS. 17/Al-Isro': 82). Surat ini dinamakan juga An-Ni'am (nikmat-nikmat) karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hambaNya.

17. Al-Isro' (memperjalankan di malam hari), surat Makkiyah, 111 ayat
Penamaan Al-Isro berkaitan dengan peristiwa Isro' Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis tercantum pada ayat pertamanya. Penuturan cerita Isro' pada permulaan surat ini, mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad saw. beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan "Bani Israil" (keturunan Israil) berhubung dalam ayat 2 sampai 8 dan akhir surat ini ayat 101 sampai 104, Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah SWT. Dihubungkannya kisah "Isro" dengan riwayat Bani Israil pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

18. Al-Kahfi (gua), surat Makkiyah, 110 ayat
Nama Al-Kahfi dan "Ashhabul Kahfi" (penghuni-penghuni gua) diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini, (ayat 9 - 26), tentang beberapa orang yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain cerita tersebut, dalam surat ini terdapat pula beberapa kisah yang kesemuanya mengandung l'tibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Banyak hadits Rosulullah saw. yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

19. Maryam (ibu Nabi Isa), surat Makkiyah, 98 ayat
Penamaan Maryam karena dalam surat ini terdapat kisah Maryam, Ibu Nabi Isa as. yang serba ajaib. Yakni melahirkan putra Isa as., tanpa pernah "bercampur" dengan lelaki manapun sebelumnya. Kelahiran Isa as. tanpa bapak merupakan suatu bukti kekuasaan Allah SWT. Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu terkabulnya doa nabi Zakaria as. agar beliau dianugerahi seorang putra sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita. Padahal usia beliau kala itu sudah sangat tua dan istri beliau seorang yang mandul, yang menurut ilmu biologi tidak mungkin dapat mengandung.

20. Thoha, surat Makkiyah, 135 ayat
Nama Thoha diambil dari kata serupa pada ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, dimana huruf-huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukan hal-hal yang sangat penting diketahui. Demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf "thoha" dalam surat ini. Allah mengatakan bahwa Al-Qur'an merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, pencipta semesta alam. Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa orang nabi akibat-akibat yang akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkariNya, baik di dunia maupun di akhirat.

21. Al-Anbiya' (nabi-nabi), surat Makkiyah, 112 ayat
Penamaan Al-Anbiya (nabi-nabi), karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surat Al-Anbiya' menegaskan bahwa manusia lalai dalam mengahadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekah terhadap wahyu yang dibawa nabi Muhammad saw. Karena itu Allah menegaskan kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa tetapi mereka adalah manusia pembawa wahyu yang pokok ajarannya adalah Tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah, Tuhan Penciptanya. Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Kemudian dikemukan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surat itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Nabi

Muhammad saw. supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat terdahulu.

22. Al-Hajj (haji), surat Madaniyah, 78 ayat
Penamaankarena surat ini mengemukan hal-halyang berhubungan dengan ibadah haji seperti ihrom, thowaf, sa'i, wuquf di Arofah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji. Ditegaskan pula bahwa ibadah haji telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrohim as. dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrohim as. bersama puteranya Ismail as.

23. Al-Mu'minun (orang-orang yang beriman), surat Makkiyah, 118 ayat
Dinamai Al-Mu'minun, karena permulaan surat ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mukmin yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketentraman jiwa mereka di dunia.

24. An-Nur (cahaya), surat Madaniyah, 64 ayat
Nama An-Nur, diambil dari kata "An-Nur" yang terdapat pada ayat 35. Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang-benderang menerangi alam semesta. Surat ini sebagian besar memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

25. Al-Furqon (pembeda), surat Makkiyah, 77 ayat
Nama Al-Furgon, diambil dari kata "Al-Furqon" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud dengan Al-Furgon dalam ayat ini ialah Al-Qur'an, karena membedakan antara yang haq dengan yang batil. Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esa-an Allah SWT dengan kebatilan kepercayaan syirik.

26. Asy-Syu'aro' (para penyair), surat Makkiyah, 227 ayat
Nama Asy-Syu'aro diambil dari kata "Asy-Syu'aro" yang terdapat pada ayat 224, yaitu pada bagian terakhir surat ini, dikala Allah SWT secara khusus menyebutkan kedudukan penyair-penyair. Para penyair itu mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan para rosul. Mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat. Mereka suka memutar-balikkan lidah dan mereka tidak mempunyai pendirian. Selain itu perbuatan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ucapkan. Sifat-sifat yang demikian tidaklah terdapat pada rosul-rosul.

27. An-Naml (semut), surat Makkiyah, 93 ayat
Penamaan An Naml, diambil dari kata "An Naml" (semut) pada ayat 18 dan 19, di mana raja semut menyuruh anak buahnya agar masuk sarangnya masing-masing, supaya tidak terinjak Nabi Sulaiman,,as. dan tentaranya yang akan melewati tempat itu. Mendengar perintah raja semut kepada anak buahnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan takjub atas keteraturan kerajaan semut itu. Beliau juga mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan nikmat kepadanya, berupa kerajaan, kekayaan, memahami ucapan-ucapan binatang, mempunyai tentara yang terdiri atas jin, manusia, burung, dan sebagainya. Nabi Sulaiman as. yang telah diberi Allah nikmat yang besar itu tidak takabur dan sombong. Dan sebagai seorang hamba Allah, ia memohon agar Allah memasukkannya kepada golongan orang-orang yang saleh.

Allah SWT menyebut binatang semut dalam surat ini agar manusia mengambil pelajaran dari kehidupan semut itu. Semut adalah binatang yang hidup berkelompok di dalam tanah, membuat lobang dan ruang yang bertingkat-tingkat sebagai rumah dan gudang tempat menyimpan makanan musim dingin. Kerapian dan kedisiplinan yang terdapat dalam kerajaan semut ini, dinyatakan Allah dalam ayat ini dengan bagaimana rakyat semut mencari perlindungan segera agar jangan terinjak oleh Nabi Sulaiman as. dan tentaranya, setelah mendapat peringatan dari rajanya. Secara tidak langsung Allah mengingatkan juga kepada manusia agar dalam berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mementingkan pula kemaslahatan bersama dan sebagainya. Rakyat semut memiliki organisasi dan kerja sama yang baik pula.

28. Al-Qoshosh (cerita), surat Makkiyah, 88 ayat
Nama Al-Qoshosh, diambil dari kata "Al-Qoshosh" pada ayat 25, yang berarti "cerita". Ayat ini menerangkan, setelah Nabi Musa as. bertemu dengan Nabi Syu'aib as. ia mengisahkan cerita yang berhubungan dengan dirinya sendiri, yakni pengalamannya dengan Fir'aun karena membunuh seorang dari bangsa Qibti tanpa disengaja. Syu'aib as. menjawab bahwa Musa as. telah selamat dari pengejaran orang-orang zalim.

Turunnya ayat 25 ini amat besar artinya bagi Nabi Muhammad saw. dan para sahabat yang melakukan hijrah ke Madinah, yang menambah keyakinan mereka, bahwa akhirnya orang-orang Islamlah yang menang, sebab ayatini menunjukkan bahwa barang siapa yang berhijrah (berpindah) dari tempat musuh untuk mempertahankan keimanan, pasti akan berhasil dalam perjuangannya menghadapi musuh-musuh agama. Kepastian kemenangan bagi kaum muslimin itu ditegaskan pada bagian akhir surat ini yang mengandung isyarat bahwa setelah hijrah ke Madinah kaum muslimin akan kembali ke Mekah sebagai pemenang dan penegak agama Allah.

Surat Al-Qoshosh ini adalah surat yang paling lengkap memuat cerita Nabi Musa as., sehingga menurut suatu riwayat, surat ini dinamai pula surat Musa.

29. Al-'Ankabut (laba-laba), surat Makkiyah, 69 ayat
Nama Al-'Ankabut diambil dari kata "Al-'Ankabut" yang terdapat pada ayat 41, di mana Allah mengumpamakan para penyembah berhala itu, dengan laba-laba yang percaya pada kekuatan rumahnya sebagai tempat ia berlindung dan tempat menjerat mangsanya. Padahal kalau dihembus angin dan ditimpa oleh sesuatu yang kecil saja, rumah itu akan hancur. Begitu pula halnya dengan kaum musyrikin yang percaya kepada kekuatan sesembahan mereka sebagai tempat berlindung dan tempat meminta sesuatu yang mereka inginkan, padahal sesembahan mereka itu tidak mampu sedikit pun menolong mereka dari azab Allah waktu di dunia, seperti yang terjadi pada kaum Luth, kaum Syu'aib, kaum Saleh, dan lain-lain. Apalagi menghadapi azab Allah di akhirat nanti, sesembahan mereka pasti tidak bisa melindungi mereka.

30. Ar-Rum (bangsa Romawi), surat Makkiyah, 60 ayat
Dinamakan Ar-Rum karena pada permulaan surat ini, yaitu ayat 2,3, dan 4 terdapat pemberitaan bangsa Romawi yang pada mulanya dikalahkan oleh bangsa Persia, tetapi setelah beberapa tahun kemudian kerajaan Ruum dapat menuntut balas dan mengalahkan kerajaan Persia.

Ini adalah salah satu mukjizat Al-Qur'an, yaitu memberitakan hal-hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Dan juga suatu isyarat bahwa kaum muslimin yang demikian lemahnya di waktu itu akan menang dan dapat menghancurkan kaum musyrikin. Isyarat ini terbukti pertama kali pada perang Badar.

31. Luqman, surat Makkiyak, 34 ayat
Dinamai Luqman karena pada ayat 12 disebutkan bahwa "Luqman" telah diberi oleh Allah nikmat dan ilmu pengetahuan Oleh sebab itu is bersyukur kepada-Nya. Dan pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasehat-nasehat Luqman kepada anaknya.

32. As-Sajdah (sujud), surat Makkiyah, 30 ayat
Dinamakan As-Sajdah berhubung pada surat ini terdapat ayat sajdah (ayat 15), Yang mana kita disunatkan bersujud setelah membacanya atau mendengarkannya. Sujud ini dinamakan sujud Tilawah.

33. Al-Ahzab (golongan-golongan), surat Madaniyah, 73 ayat
Dinamakan Al-Ahzab karena dalam surat ini terdapat beberapa ayat (yakni ayat 9-27) yang berhubungan dengan peperangan Al-Ahzab. Yakni peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi, kaum munafik, dan orang-orang Musyrik terhadap orang-orang mukmin di Madinah. Kala itu mereka mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian orang beriman putus asa dan menyangka bahwa mereka akan kalah.

Ini adalah suatu cobaan dari Allah SWT untuk menguji sampai di mana keteguhan iman mereka. Akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacaubalau dan melarikan diri.

34. Saba' (suku Saba'), surat Makkiyah, 54 ayat
Dinamakan Saba' karena di dalamnya terdapat kisah Kaum Saba'. Saba' adalah nama suatu kabilah 'Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma'rib. Mereka berhasil membangun suatu bendungan raksasa yang bernama "bendungan Ma'rib", sehingga negeri mereka subur dan makmur. Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum Saba' lupa dan ingkar kepada Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat kepada mereka. Mereka juga mengingkari seruan para rosul. Karena keingkaran mereka, Allah menimpakan azab berupa "sailul 'arim" (banjir besar) akibat bobolnya bendungan Ma'rib. Setelah bendungan Ma'rib bobol negeri Saba' menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.

35. Fathir (pencipta), surat Makkiyah, 45 ayat
Nama Fathir (pencipta) diambil dari kata "Fathir" pada ayat pertama surat ini. Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah-lah Pencipta langit dan bumf, malaikat-malaikat, serta semesta alam sebagai bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.

Surat ini dinamakan juga Malaikat karena dalam ayat pertama disebutkan bahwa Allah telah menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-Nya yang memiliki beberapa sayap.

36. Ya-sin, surat Makkiyah, 83 ayat.
Dinamai Ya Sin karena dimulai dengan huruf "Ya Sin". Hanya Allah yang mengetahui makna kedua huruf tersebut.

37. Ash-Shoffat (yang bershof-shof), surat Makkiyah, 182 ayat.
Nama Ash-Shoffat diambil dari kata "Ash-Shoffat" pada permulaan surat ini. Ayat ini mengemukakan bagaimana para malaikat yang bersih jiwanya, tidak dapat digoda oleh setan, berbaris di hadapan Tuhannya.

38. Shod, surat Makkiyah, 88 ayat.
Dinamakan Shod karena surat ini diawali huruf "Shod". Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al-Qur'an untuk menunjukkan bahwa: 1) Al-Qur'an itu suatu kitab yang agung; 2) barang siapa mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat; dan 3) menunjukkan bahwa Al- Qur'an adalah mukjizat Nabi Muhammad saw., yang mengatakan kebenarannya dan ketinggian ahlaknya.

39. Az-Zumar (rombongan-rombongan), surat Makkiyah, 75 ayat
Nama Az-Zumar diambil dari kata "Az-Zumar" yang terdapat pada ayat 71 dan 73 surat ini. Kedua ayat itu menerangkan keadaan manusia di hari kiamat setelah mereka dihisab, pada waktu itu mereka terbagi atas dua rombongan, satu rombongan di bawa ke neraka dan satu rombongan lagi di bawa ke surga. Masing-masing rombongan memperoleh balasan dari apa yang mereka kerjakan di dunia dulu.
Surat ini dinamakan juga Al-Ghurof (kamar-kamar) berhubung perkataan ghitrof yang terdapat pada ayat 20, di mana diterangkan keadaan kamar-kamar dalam surga yang diperoleh orang-orang yang bertakwa.

40. Al-Mu'min (orang beriman), surat Makkiyah, 85 ayat.
Nama Al-Mu'min diambil dari kata "mu'min" yang terdapat pada ayat 28. Ayat itu menerangkan tentang salah seorang dari kaum Fir'aun yang telah beriman kepada Nabi Musa as. dengan menyembunyikan keimanannya. Setelah mendengar keterangan dan melihat mukjizat yang dikemukan oleh Nabi Musa as. hati kecil orang ini mencela Fir'aun dan kaumnya yang tidak mau beriman kepada Nabi Musa as. Padahal telah dikemukakan keterangan dan mukjizat yang diminta mereka.

Dinamakan pula Ghofir (yang mengampuni), karena ada hubungannya dengan kalimat "Ghofir" yang ada pada ayat 3. Ayat itu mengingatkan bahwa "Maha Pengampun" dan "Maha Penerima Taubat" adalah sebagian dari sifat-sifat Allah. Oleh karena itu hamba-hamba Allah tidak usah khawatir terhadap perbuatan-perbuatan dosa yang terlanjur mereka lakukan. Semuanya itu akan diampuni Allah asal benar-benar memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya dan berjanji tidak akan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa itu lagi.

41. Fushshilat (yang dijelaskan), surat Makkiyah, 54 ayat.
Dinamakan Fushshilat karena ada hubungannya dengan kata "Fushshilat" yang terdapat pada permulaan surat ini, yang berarti yang "dijelaskan". Maksudnya ayat-ayatnya diperinci dengan jelas tentang hukum-hukum, keimanan, janji, dan ancaman, budi pekerti, kisah, dan lain sebagainya.
Dinamakan juga dengan "Haa Mlim" dan "As Sajdah" karena surat ini dimulai dengan "Haa Miim" dan dalam surat ini terdapat ayat sajdah.

42. Asy-Syuro (musyawarah), surat Makkiyah, 53 ayat.
Dinamakan Asy-Syuro diambil dari kata "Syuro" yang terdapat pada ayat 38. Dalam ayat tersebut diletakkan salah satu dari dasar-dasar pemerintahan Islam, yaitu musyawarah.
Dinamai juga "Ha Mim 'ain sin qof' karena surat ini dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah itu.

43. Az-Zukhruf (perhiasan), surat Makkiyah, 89 ayat.
Nama Az-Zukhruf diambil dari kata "Az-Zukhru' yang terdapat pada ayat 35. Orang-orang yang musyrik mengukur tinggi rendahnya derajat seorang dari perhiasan dan harta bendanya. Menurut mereka, karena Muhammad saw. adalah seorang anak yatim lagi miskin, ia tidak pantas diangkat Allah sebagai rosul dan nabi. Pangkat rosul dan nabi itu harus diberikan kepada orang yang kaya. Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseorang, karena harta itu merupakan hiasan kehidupan duniawi, bukan berarti kesenangan akhirat.

44. Ad-Dukhoon (kabut), surat Makkiyah, 59 ayat.
Nama Ad-Dukhon diambil dari kata "Dukhon" yang terdapat pada ayat 10 surat ini.
Menurut riwayat Bukhori, orang-orang kafir Mekah dalam menghalang-halangi agama Islam dan menyakiti serta mendurhakai Nabi Muhammad saw. sudah melewati batas. Karena itu Nabi memohon agar Allah menurunkan azab, sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang durhaka masa Nabi Yusuf as. yaitu musim kemarau yang panjang. Doa Nabi itu dikabulkan Allah, sampai orang-orang kafir itu memakan tulang dan bangkai, karena kelaparan. Mereka selalu menengadah ke langit mengharap pertolongan Allah. Tetapi tidak satu pun yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka.

Akhirnya mereka datang kepada Nabi Muhammad saw agar beliau memohon kepada Allah supaya menurunkan hujan. Setelah Allah mengabulkan do'a Nabi, dan hujan diturunkan, mereka kembali kafir seperti semula. Oleh sebab itu Allah menyatakan bahwa nanti mereka akan diazab dengan azab yang pedih.

45. Al-Jatsiyah (yang berlutut), surat makkiyah, 37 ayat.
Nama "Al-Jatsiyah" diambil dari kata "Jatsiyah" yang terdapat pada ayat 28. Ayat tersebut menerangkan tentang keadaan manusia pada hari kiamat. Saat seluruh makhluk berkumpul di Padang Mahsyar menunggu keputusan Allah SWT terhadap perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

46. Al-Ahqof (bukit-bukit pasir), surat Makkiyah, 35 ayat.
Nama "Al-Ahqof' diambil dari kata "Al-Ahqof' yang terdapat pada ayat 21 surat ini.

47. Muhammad (Nabi Muhammad), surat Madaniyah, 29 ayat.
Surat ini dinamakan juga dengan "Al-Qibti" (peperangan), karena sebagian besar surat ini mengutarakan tentang peperangan dan pokok-pokok hukumnya, serta bagaimana seharusnya sikap orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir.

48. Al-Fath (kemenangan), surat Madaniyah, 29 ayat.
Nama Al-Fath diambil dari kata "Fat-han" yang terdapat pada ayat pertama. Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad saw. dalam peperangan-peperangannya.

49. Al-Hujurot (kamar-kamar), surat Madaniyah, 18 ayat.
Nama "Al-Hujurot" diambil dari kata "Al-Hujurot" yang terdapat pada ayat 4 surat ini. Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad saw. yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama istrinya. Memanggil Nabi Muhammad dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketentraman beliau.

50. Qof, surat Makkiyah, 45 ayat.
Dinamai Qofkarena surat ini dimulai dengan huruf Hijaiyah"Qof"

51. Adz Dzaariyaat (angin yang menerbangkan), surat Makkiyah, 60 ayat.
Nama Adz-Dzariyat diambil dari kata "Adz-Dzariyat" yang terdapat pada ayat pertama. Allah bersumpah dengan angin, mega, bahtera, dan malaikat yang menjadi sumber kesejahteraan dan pembawa kemakmuran. Hal ini mengisyaratkan inayat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

52. Ath-Thur (gunung), surat Makkiyah, 49 ayat.
Nama Ath-Thur diambil dari kata "Ath-Thur" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud "gunung" di sini adalah gunung Thursina yang terletak di Semenanjung Sinai, tempat Nabi Musa as. menerima wahyu secara langsung dari Allah SWT.

53. An-Najm (bintang), surat Makkiyah, 62 ayat.
Nama An-Najm diambil dari kata "An-Najm" yang terdapat pada ayat pertama. Allah bersumpah dengan "An-Najm" (bintang) karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam itu amat besar manfaatnya bagi manusia sebagai pedoman bagi manusia dalain melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim, dan sebagainya.

54. Al-Qomar (bulan), surat Makkiyah, 55 ayat.
Nama Al-Qomar diambil dari kata "Al-Qomar" yang terdapat pada ayat yang pertama. Pada ayat ini diterangkan tentang terbelahnya bulan sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw.

55. Ar-Rohman (Yang Maha Pemurah), surat Makkiyah, 78 ayat.
Nama Ar-Rohman diambil dari kata "Ar-Rohman" yang terdapat pada ayat pertama. Ar-Rohman adalah salah satu dari nama Allah. Sebagian besar dari surat ini menerangkan kepemurahan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 96 ayat.
Nama Al-Waqi'ah diambil dari kata "Al-Waqi'ah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

57. Al-Hadid (besi), surat Madaniyah, 29 ayat.
Namadiambil dari kata "Al-Hadid" yang terdapatpada ayat 25 surat ini.

58. Al-Mujadilah (wanita yang mengajukan gugatan), surat Madaniyah, 22 ayat.
Dinamakan Al-Mujadilah karena pada awal surat ini disebutkan bantahan seorang perempuan, menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa'labah, terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya. Hal ini diajukan kepada Nabi Muhammad Rosulullah saw. dan dia menuntut supaya beliau memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu. Dinamai juga Al-Mujadalah yang berarti "perbantahan"

59. Al-Hasyr (pengusiran), surat Madaniyah, 24 ayat.
Nama Al-Hasyr diambil dari kata "Al-Hasyr" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran salah satu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

60. Al-Mumtahanah (perempuan yang diuji), surat Madaniyah, 13 ayat.
Nama Al-Mumtahanah diambil dari kata "Famtahinuuhunna" yang berarti "maka ujian mereka", yang terdapat pada ayat 10 surat ini.

61. Ash-Shof (barisan), surat Madaniyah, 14 ayat.
Dinamakan Ash-Shof karena pada ayat 4 surat ini terdapat kisah "Shoffan" yang berarti "satu barisan". Ayat ini menerangkan apa yang diridhoi Allah sesudah menerangkan apa yang dimurkai-Nya. Pada ayat 3 diterangkan bahwa Allah murka kepada orang yang hanya pandai berkata tetapi tidak melaksanakan ucapannya. Dan ayat 4 menerangkan bahwa Allah menyukai orang yang mempraktekkan apa yang diucapkannya yaitu orang-orang yang berperang pada jalan Allah pada satu barisan.

62. Al-Jumu'ah (Hari Jum'at), surat Madaniyah, 11 ayat.
Nama surat Al-Jumu'ah diambil dari kata "Al-Jumu'ah" yang terdapat pada ayat 9.

63. Al Munafikun (orang-orang munafik), surat Madaniyah, 11 ayat. Surat ini dinamai Al-Munafiqun yang artinya orang-orang munafiq, karena surat ini mengungkapkan sifat-sifat orang munafik.

64. At-Taghobun (hari dinampakkan kesalahan-kesalahan), surat Madaniyah, 18 ayat.
Nama At-Taghobun diambil dari kata "at-taghobun" yang terdapat pada ayat ke 9.

65. At-Tholaq (talak/cerai), surat Madaniyah, 12 ayat.
Dinamakan surat At-Tholaq karena kebanyakan ayat-ayatnya mengenai masalah talak, dan persoalan lain yang berhubungan dengan masalah itu

66. At-Tahrim (mengharamkan), surat Madaniyah, 12 ayat.
Dinamakan surat At-Tahrim karena pada awal surat ini terdapat kata "tuharrim" yang berasal dari kata At-tahrim yang berarti "mengharamkan".

67. Al Mulk (kerajaan), surat Makkiyah, 30 ayat.
Nama Al-Mulk diambil dari kata "Al-Mulk" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya kerajaan atau kekuasaan. Surat ini disebut juga dengan "Tabaarok" (Maha Suci).

68. Al-Qolam (Pena/firman), surat Makkiyah, 52 ayat.
Nama Al-Qolam diambil dari kata Al-Qolam yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini dinamai pula dengan surat "Nun" (huruf "nun").

69. Al-Haqqoh (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 52 ayat.
Nama "Al-Haaqqoh" diambil dari kata "Al-Haaqqoh" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "hari kiamat".

70. Al-Ma'arij (tempat-tempat naik), surat Makkiyah, 44 ayat.
Kata Al-Ma'arij yang menjadi nama surat ini adalah bentuk jamak dari "Mi'raj" yting terdapat pada ayat 3, artinya "tempat naik". Sedang para ahli tafsir memberi arti bermacam-macam, di antaranya adalah "langit", nikmat karunia, dan derajat, atau tingkatan yang diberikan Allah SWT. kepada ahli surga.

71. Nuh (nabi Nuh), surat Makkiyah, 28 ayat.
Dinamakan surat Nuh karena seluruh surat ini menjelaskan tentang dakwah dan do'a Nabi Nuh as.

72. AI Jin (jin), surat Makkiyah, 28 ayat.
Nama Al-Jin diambil dari kata "Al-jin" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa jin sebagai mahluk halus telah mendengar pembacaan Al-Qur'an dan mereka mengikuti ajaran Al-Qur'an tersebut.

73. Al-Muzzammil (yang berselimut), surat Makkiyah, 20 ayat.
Nama Al-Muzzammil diambil dari kata "Al-Muzzammil" yang terdapat pada ayat pertama. Yang dimaksud dengan "orang yang berselimut" ialah Nabi Muhammad saw.

74. Al-Muddatstsir (yang berselubung), surat Makkiyah, 56 ayat.
Nama Al-Muddatstsir diambil dari kata "Al-Muddatstsir" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

75. Al-Qiyaamah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 40 ayat.
Nama Al-Qiyamah diambil dari kata "Al-Qiyamah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

76. Al-Insan (manusia), surat Madaniyah, 31 ayat.
Nama Al-Insan diambil dari kata "Al-Insan" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

77. Al-Mursalat (Malaikat-malaikat yang diutus), surat Makkiyah, 50 ayat.
Nama Al-Mursalat diambil dari kata "Al-Mursalat" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

78. An-Naba' (berita besar), surat Makkiyah, 40 ayat.
Nama An-Naba diambil dari kata "An-kaba'" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Dinamakan juga "Amma yatasaa aluun" (Tentang apakah mereka saling bertanya?) yang diambil dari kalimat yang sama pada ayat 1.

79. An-Nazi'at (Malaikat-malaikat yang beralih cepat), surat Makkiyah, 46 ayat.
Nama An-Naazi'at diambil dari kata "An-Naazi'at" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Dinamakan pula "AsSahiroh" yang diambil dari ayat 14, dan disebut juga "AthThommah" diambil dari ayat 34.

80. 'Abasa (bermuka masam), surat Makkiyah, 42 ayat.
Nama 'Abasa diambil dari kata 'Abasa yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Menurut riwayat, suatu ketika Rosulullah saw. berbicara dengan para pemuka Quraisy yang beliau harapkan agar masuk Islam. Pada waktu itu datanglah Ibnu Ummu Maktum, seorang sahabat yang buta yang mengharap agar Rosulullah saw. membacakan kepadanya ayat Al-Qur'an yang telah diturunkan Allah. Tetapi Rosulullah saw. bermuka masam dan memalingkan muka dari Ibnu Ummu Maktum yang buta itu. Maka Allah SWT menurunkan surat ini sebagai teguran atas sikap beliau terhadap Ummu Maktum.

81. At-Takwir (menggulung), surat Makkiyah, 29 ayat.
Nama At-Takwir adalah kata asal (mushdar) dari kata kerja "kuwwirot" (digulung) yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

82. Al-Infithor (terbelah), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama surat ini berasal dari kata "unfathorot" (terbelah) yang terdapat pada ayat pertama.
83. Al-Muthoffifin (orang-orang yang curang), surat Makkiyah, 36 ayat.
Nama surat ini diambil dari kata "Al-Muthoffifin" yang terdapat pada ayat pertama.

84. Al-Insyiqoq (terbelah), surat Makkiyah, 25 ayat.
Nama Al-Insyiqoq diambil dari kata "Insyiqooq" yang terdapat pada permulaan surat ini, yang pokok katanya ialah "insyiqooq".

85. Al-Buruuj (bintang-bintang), surat Makkiyah, 22 ayat.
Nama Al-Buruj diambil dari kata "Al-Buruj" yang terdapat pada ayat 1.

86. At-Thoriq (yang datang di malam hari), surat Makkiyah, 17 ayat.
Nama Ath-Thoriq diambil dari kata "Ath-Thoriq" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

87. Al-'Alaa (yang paling tinggi), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama Al-'Ala diambil dari kata "Al-'Ala" yang terdapat pada ayat pertama.

88. Al-Ghosyiyah (kejadian yang dahsyat), surat Makkiyah, 26 ayat.
Nama Ghosyiyah diambil dari kata "Al-Ghosyiyah" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya peristiwa yang dahsyat, tapi yang dimaksud adalah hari kiamat

89. Al Fajr (fajar), surat Makkiyah, 30 ayat.
Nama Al-Fajr diambil dari kata "Al-Fajr" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya "fajar".

90. Al-Balad (negeri), surat Makkiyah, 20 ayat.
Nama Al-Balad diambil dari kata "Al-Balad" yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah kota Mekah.

91. Asy-Syams (matahari), surat Makkiyah, 15 ayat.
Nama Asy-Syams diambil dari kata "Asy-Syams" yang terdapat pada ayat permulaan surat ini.

92. Al-Lail (malam), surat Makkiyah, 21 ayat.
Namadiambil dari kata "Al-Lail" yang terdapat padaayat pertama surat ini.

93. Adh Dhuha (waktu matahari naik sepenggalan), surat Makkiyah, 11 ayat.
Nama Adh-Dhuha diambil dari kata "Adh-Dhuha" yang terdapat pada ayat pertama.

94. Al Insyiroh (kelapangan), surat Makkiyah 8 ayat.
Surat ini dinamakan juga Alam-Nasyroli (Bukankah Kami telah melapangkan), diambil dari kata "Alam Nasyroh" yang terdapat pada ayat pertama.

95. At-Tin (buah tin), surat Makkiyah, 8 ayat.
Nama At-Tin diambil dari kata "At-Tin" yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya buah tin.

96. Al-Alaq (segumpal darah), surat Makkiyah, 19 ayat.
Nama Alaq (segumpal darah), diambil dari kata "Alaq" yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dengan "Iqro" atau "Al-Qolam".

97. Al Qodr (kemuliaan), surat Makkiyah, 5 ayat.

98. Al-Bayyinah (bukti yang nyata), surat Makkiyah, 8 ayat.

99. Az Zalzalah (kegoncangan), surat Madaniyah, 8 ayat.

100. Al-'Adiyat (kuda perang yang berlari kencang), surat Makkiyah, 11 ayat.

101. Al-Qori'ah (Hari Kiamat), surat Makkiyah, 11 ayat.

102. At-Takatsur (bermegah-megah), surat Makkiyah, 8 ayat.

103. Al-'Ashr (masa), surat Makkiyah, 3 ayat.

104. Al-Humazah (pengumpat), surat Makkiyah, 9 ayat.

105. Al-Fil (gajah), surat Makkiyah, 5 ayat.

106. Al-Quraisy (suku Quraisy), surat Makkiyah, 4 ayat.

107. Al-Ma'un (barang-barang yang berguna), surat Makkiyah, 7 ayat.

108. Al-Kautsar (nikmat yang banyak), surat Makkiyah, 3 ayat.

109. Al-Kafirun (orang-orang kafir), surat Makkiyah, 6 ayat.

110. An-Nashr (pertolongan), surat Madaniyah, 3 ayat.

111. Al-Lahab (gejolak api), surat makkiyah, 5 ayat.

112. Al-Ikhlash (keesaan Allah), surat Makkiyah, 4 ayat.

113. Al-Falaq (waktu subuh), surat Makkiyah, 5 ayat.

114. An-Nas (manusia), surat Makkiyah, 6 ayat.

Sejarah pembukuan Al Qur'an

Sejarah pembukuan Al Qur'an - Pembukuan Dan Penggandaan Al-Qur'an

Zaid bin Tsabit ra. menceritakan bahwa suatu ketika ia mendatangi rumah Abu Bakar ra. untuk memenuhi panggilan beliau. Di sana telah hadir pula Umar bin Khoththob ra. Pertemuan itu sengaja diadakan berkaitan dengan usulan Umar bin Khoththob ra. "Sesungguhnya orang-orang yang hafal Al- Qur'an telah banyak yang mati syahid dalam Perang Yamamah. Saya khawatir akan banyak pula orang-orang yang hafal Qur'an lainnya meninggal dunia dalam setiap medan pertempuran, sehingga mengakibatkan sebagian dari Qur'an itu hilang. Karena itu saya mengusulkan agar engkau memerintahkan pengumpulan Qur'an dalam satu buku".

Abu Bakar ra. menjawab, "Bagaimana mungkin saya akan berani melakukan sesuatu yang belum pernah diperbuat oleh Rosulullah saw?"

"Demi Allah," sumpah Umar. "Itu sesuatu hal yang baik".
Abu Bakar tidak langsung mengabulkan usulan Umar tersebut. Sebagai orang yang sangat hati-hati, beliau pertimbangkan baik dan buruknya secara matang. Umar sendiri tidak berhenti mendesaknya untuk membukukan Al-Qur'an. Akhirnya Abu Bakar dapat menerima usulan Umar tersebut. Lalu beliau berkata kepada Zaid, "Sesungguhnya engkau seorang pemuda yang cerdas, dan kami tidak menaruh curiga kepada engkau. Engkau biasa menuliskan wahyu atas perintah Rosulullah saw. Karena itu periksalah ayat-ayat Qur'an dan kumpulkan semuanya".

"Demi Allah," Zaid bersumpah. "Kalau saya diberi tugas memindahkan sebuah bukit di antara bukit-bukit yang ada, niscaya terasa lebih ringan bagi saya dibandingkan dengan tugas mengumpulkan Al-Qur'an".

Zaid juga bertanya kepada Abu Bakar ra. dan Umar bin Khoththob ra. "Bagaimana engkau berdua melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Rosulullah saw.?

"Demi Allah, hal itu sangat baik," tegas Abu Bakar.
Setelah beberapa kali didesak oleh Abu Bakar, akhirnya Zaid sependapat dengan kedua sahabat terdekat Rosulullah saw. tersebut.

Zaid bin Tsabit mengumpulkan ayat-ayat Qur'an itu dari tulisan-tulisan yang tercecer pada pelepah-pelepah kurma, kertas-kertas, dan batu-batu. Juga dari hafalan beberapa sahabat lainnya. Setelah ayat-ayat Qur'an itu dituliskannya dalam satu buku, ia menyerahkannya kepada Abu Bakar ra. untuk menyimpannya. Sesudah beliau meninggal Qur'an itu disimpan oleh Umar ra. Setelah Umar wafat Qur'an itu disimpan oleh Hafshoh binti Umar. (Atsar Riwayat Bukhori dan Tirmidzi)
Amirul Mukminin Abu Bakar Ash Shiddiq menunjuk Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan

Al-Qur'an karena beberapa alasan:
# ia salah seorang juru tulisnya yang terkenal;
# ia memiliki kecerdasan dan ilmunya berlimpah, dan sangat cermat;
# ia banyak menuliskan wahyu untuk Rosulullah saw. sewaktu beliau masih hidup; dan
# sering menuliskan balasan surat-surat yang sampai kepada Nabi saw. dengan bahasa yang telah dipelajarinya khusus surat-menyurat.

Sejak zaman Nabi Muhammad Rosulullah saw. hingga masa kekholifahan Abu Bakar, Al-Qur'an yang beredar di kalangan sahabat masih terpisah-pisah. Sebagian di antara para sahabat ada yang menghafalnya, dan juga ada yang mencatatnya. Pencatatan itu ada yang dilakukan di pelepah kurma, di lembaran kulit, dan lempengan batu. Ayat-ayat yang mereka tulis sesuai dengan yang mereka dengar dari Nabi saw.

Sebagai langkah awal, Zaid bin Tsabit ra. mengumumkan, "Barangsiapa yang pernah menerima ayat-ayat Al-Qur'an dari Rosulullah saw., maka hendaklah ia mendatangkannya kepadaku." Dalam menghimpun Al-Qur'an ini, Zain bin Tsabit tidak sekadar hanya melalui tulisan dan apa yang didengarnya saja, namun mengadakan persaksian dua orang sahabat selain dengan hafalannya sendiri.
Selanjutnya Zaid bin Tsabit menghimpun ayat-ayat Al-Qur'an dengan menuliskannya pada suhuf-suhuf (lembaran-lembaran). Lembaran-lembaran itu kemudian disimpan oleh Kholifah Abu Bakar ra. hingga beliau wafat. Selanjutnya berpindah tangan ke Kholifah Umar bin Khoththob ra. hingga beliau wafat.

Pada Masa Kholifah Utsman ra. suhuf-suhuf itu dipindahkannya ke beberapa mush-haf. Anas ra. menceritakan, bahwa Hudzaifah ibnul Yaman (saat itu bertugas menjadi Panglima Perang untuk membuka Kota Armenia dan Adzerbaijan bersama-sama penduduk Syam dan Irak) terkejut mendapati perselisihan di antara para sahabat dalam membaca Al-Qur'an. Lalu ia datang menghadap Kholifah Utsman. "Ya Amirul Mukminin, tanggulangilah umat ini sebelum mereka berselisih pendapat dalam Kitabullah seperti perselisihan yang terjadi di kalangan umat Yahudi dan umat Nasrani."

Maka Kholifah Utsman mengirimkan utusan kepada Hafshoh dengan membawa pesan: "Kirimkanlah kepadaku lembaran-Iembaran Al-Qur'an yang ada padamu. Kami akan menukilnya ke dalam mush-haf-mush-haf. Setelah itu akan kami kembalikan lagi kepadamu."

Setelah lembaran-lembaran itu sampai di tangan Kholifah Utsman, beliau memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin Ash, dan Abdur Rohman bin Harits ibnu Hisyam untuk menyalinnya ke dalam mush-haf. Beliau juga berpesan kepada golongan Kabilah Quraiys yang tiga orang tersebut: "Jika kalian berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai sesuatu dari Al-Qur'an, maka tuliskanlah oleh kalian dalam dialek Quraisy, karena sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan dengan dialek mereka.

Karena Al-Qur'an itu ditulis dalam bentuk mush-haf (bundelan naskah) pada masa Kholifah Utsman bin Affan ra., maka terkenal dengan sebutan mush-haf Utsman dan dijadikan standar Al-Qur'an hingga dewasa ini. Kala itu Al-Qur'an ditulis sebanyak enam mush-haf lalu dikirim ke Mekah, Kufah, Basroh, Syam, dan Madinah. Sedangkan satu mush-haf lagi disimpan sebagai arsip. Lalu beliau memerintahkan agar semua lembaran AL-Qur'an dan mush-haf selain hasil salinan Zait bin Tsabit dan tiga sahabat lainnya harus dibakar.

Setelah Kholifah Utsman terbunuh, Mush-haf Al-Qur'an yangsimpan diambil oleh Bani Umayya dan di bawa ke Andalusia saat Kerajaan Islam berpindah ke Andalus. Selanjutnya Mush-haf Al-Qur'an itu, diduga disimpan di Masjid Kordova, kemudian dibawa ke Fez, Maroko.

Zaib bin Tsabit mengungkapkan, "Aku kehilangan satu ayat dari surat Al- Ahzab ketika kami sedang menyalinnya ke dalam mush-haf, padahal aku pernah mendengarnya langsung dari Rosulullahsaw. ketika beliau sedang membacakannya. Maka kami segera mencarinya dan ternyata kami dapat menjumpainya pada Khuzaimah bin Tsabit Al-Anshori. Yakni firman-Nya: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah." (yakni surat Al-Ahzab ayat 23) (Atsar Riwayat Bukhori dan Tirmidzi).

Pengertian Wahyu Al Qu'an

Pengertian wahyu - Cara Al-Qur'an Diwahyukan

Al-Qur'an diturunkan, secara keseluruhan, dalam kurun waktu selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.

Penyampaiannya melalui Malaikat Jibril as. dengan cara:

1. Malaikat Jibril meresapkan wahyu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini Nabi tidak melihat kehadiran Jibril, namun merasakan menerima wahyu dari Allah SWT.

2. Malaikat Jibril Menampakkan diri kepada Nabi Muhammad saw berupa seorang lelaki tampan, dan menyampaikan firman Allah sampai Nabi hafal benar.

3. Wahyu yang datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng, yang dirasakan oleh Nabi Muhammad saw. sebagai cara yang paling berat. Tidak jarang sampai kening beliau berkeringat, meski turunnya wahyu itu pada musim hujan.

4. Malaikat Jibril menampakkan diri sebagaimana wujud sebenarnya, dan mengajarkan firmanAllah SWT.

Allah SWT sengaja menurunkan ayat-ayat Al-Qur'an secara berangsur-angsur. "Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap". (QS. 17/Al-Isro': 106)
Dan orang-orang kafir berkata: "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?"

Demikianlah agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. 25/ Al-Furqon: 32)

Dengan demikian tujuan diturunkannya ayat-ayat Al-Quran secara berangsur-angsur adalah:

1. agar mudah dihafal, dimengerti, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

2. banyak ayat-ayat yang diturunkan merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat/perbuatan.

3. ayat-ayat diturunkan karena ketika itu terdapat peristiwa yang tidak dapat dipecahkan oleh Nabi Muhammad saw sehingga menunggu turunnya petunjuk dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

Ayat-ayat Al-Qur'an yang pertama diturunkan adalah ayat 1 sampai 5 surat al-Alaq sewaktu Nabi Muhammad berkholwat (menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT). Sedangkan ayat terakhir yang diturunkan, adalah ayat 3 dari Surat Al-Maidah diturunkan di Padang Arofah sewaktu Nabi Muhammad menjalankan ibadah Haji Wada'.

Fungsi al-qur'an

Fungsi Al-Qur'an
Ada beberapa tujuan diturunkannya Al-Qur'an.

1. sebagai bukti berasal dari Allah SWT. Dan apabila engkau (Muhammad) tidak membacakan satu ayat kepada mereka, mereka berkata, "Mengapa tidak engkau buat sendiri ayat itu?" Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. (Al-Qur'an) ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman". (QS. 7/Al-A'rof: 203) Orang kafir beranggapan bahwa Al-Qur'an itu adalah karangan Nabi Muhammad saw, sehingga apabila wahyu tidak turun, maka mereka meminta kepada beliau untuk mengarang ayat. Tentu saja hal ini merupakan ejekan mereka kepada Nabi Muhammad.

2. sebagai pembenar kitab-kitab suci sebelumnya, yakni Taurot, Zabur, dan Injil. "Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu Kitab (Al-Qur'an) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya." (QS. 35/Fathir: 31)

3. sebagai pelajaran dan penerangan. "Al-Qur'an itu tidak lain adalah pelajaran dan kitab yang jelas." (QS. 36/Ya Sin: 69)

4. sebagai pembimbing yang lurus. "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok, sebagai bimbingan yang lurus." (QS. 18/ Al-Kahfi: 1-2) Yang dimaksud "Dia tidak menjadikannya bengkok" adalah tidak ada dalam Al-Qur'an makna yang berlawanan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran.

5. sebagai pedoman hidup bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi yang meyakininya. "Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (QS. 45/Al- Jatsiyah: 20)

6. sebagai peringatan. "Al-Qur'an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam" (QS. 68/Al-Qolam: 52)

7. sebagai petunjuk dan kabar gembira. "Kami turunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). (QS. 16/An-Nahl: 89)

8. sebagai obat penyakit jiwa. "Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman". (QS. 10/Yunus: 57)

Fungsi lain Al-Qur'an yang tidak kalah penting, adalah sebagai bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., dan bukti bahwa semua ayatnya benar-benar dari Allah SWT. Sebagai bukti kedua fungsinya yang terakhir paling tidak ada dua aspek dalam Al-Qur'an itu sendiri, yakni:
# Isi/kandungannya yang sangat lengkap dan sempurna;
# Keindahan bahasanya dan ketelitian redaksinya; Kebenaran berita-berita gaibnya; dan
# Isyarat-isyarat ilmiahnya.

1. Isi/kandungan Al-Quran

Isi Al-Qur'an mencakup dan menyempurnakan pokok-pokok ajaran dari kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu (Taurot, Injil, dan Zabur). Sebagian ulama mengatakan, bahwa Al-Qur'an mengandung tiga pokok ajaran: a) keimanan; b) akhlak dan budi pekerti; dan c) aturan tentang pergaulan hidup sehari-hari antar sesama manusia. Sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa Al-Qur'an berisi dua peraturan pokok: a) peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT; dan b) peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan dengan alam sekitarnya.

Kelengkapan dan kesempurnaan isi Al-Qur'an ini diakui juga oleh para pakar Barat, di antaranya oleh Edward Gibbon. Ahli sejarah Inggris (1737-1794) ini mengatakan. "Al-Qur'an adalah sebuah kitab agama, yang membahas tentang masalah-masalah kemajuan, kenegaraan, perniagaan, peradilan, dan undang-undang kemiliteran dalam Islam. Isi Al-Qur'an sangat lengkap, mulai dari urusan ibadah, ketauhidan, sampai soal pekerjaan sehari-hari, mulai dari masalah rohani sampai hal-hal jasmani, mulai dari pembicaraan tentang hak-hak dan kewajiban segolongan umat sampai kepada pembicaraan tentang akhlak dan perangai serta hukum siksa di dunia.

"Karena itu amat besar perbedaan Al-Qur'an dengan Bibel. Bibel tidak mengandung aturan-aturan yang bertalian dengan keduniaan. Yang terdapat di dalamnya hanyalah cerita-cerita untuk kesucian diri. Bibel tidak dapat mendekati Al-Qur'an, karena Al-Qur'an itu tidak hanya menerangkan sesuatu yang bertalian dengan amalan keagamaan, tetapi juga mengupas asas politik kenegaraan. Al-Qur'anlah yang menjadi sumber peraturan negara, sumber undang-undang dasar, memutuskan suatu perkara yang berhubungan dengan kehartaan maupun kejiwaan."

2. Keindahan Bahasa Dan Ketelitian Redaksi Al-Qur'an
Banyak pakar baik dari Arab sendiri maupun dari Barat yang mengakui keindahan bahasa Al-Qur'an.  
Berikut kami kutipkan beberapa pendapat mereka:
a. George Sale yang merintis penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris menulis dalam kata pengantar terjemahannya, antara lain. "... Al-Qur'an ditulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang indah dan paling tinggi yang tidak dapat ditiru oleh pena manusia. Oleh karena itu, Al-Qur'an mukjizat yang besar. Berbekal mukjizat Al-Qur'an Muhammad muncul menguatkan tugas sucinya.

Dengan mukjizat itu beliau menantang ribuan sastrawan Arab yang cakap untuk menciptakan satu ayat saja yang dapat dibandingkan dengan gaya Al-Qur'an. Pada bagian lain kata pengantarnya, ia menulis. "Sangat luar biasa dampak kekuatan kata-kata (Al-Qur'an) yang dipilih dengan baik dan ditempatkan dengan seninya, yang dapat menumbuhkan gairah dan rasa kagum orang yang membacanya."

b. Musthofa Shodiq Ar-Rofi'ie, seorang sastrawan Arab yang masyhur mengakui, antara lain. "Tuhan menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa ini (Arab) dengan susunan tersendiri, membuat orang tidak berdaya menirunya, baik susunan (ayat-ayatnya) yang pendek maupun yang panjang. ...Karena dia adalah pembersihan bahasa dari kekotorannya."

c. Dr. Thoha Husein, sarjana Mesir yang sangat terkenal di dunia Barat mengakui. "Kata-kata terbagi tiga, yakni puisi, prosa, dan Qur'an. Akan tetapi Qur'an memiliki gaya tersendiri, bukan puisi dan bukan prosa. Qur'an adalah Qur'an. Ia tidak tunduk pada aturan prosa dan puisi. Ia memiliki irama sendiri yang dapat dirasakan pada susunan lafalnya dan urutan ayatnya."

Tentu saja hanya orang yang memahami bahasa Arab yang dapat merasakan keindahan bahasa Al-Qur'an. Sebagaimana ditegaskan oleh Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur'an, bahwa tidak mudah untuk mengetahui keindahan bahasa Al-Qur'an khususnya bagi kita yang tidak memahami dan tidak memiliki "rasa bahasa" Arab. Sebab keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar. Namun demikian, menurut M. Quraish Shihab ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Qur'an yang dapat membantu pemahaman aspek pertama ini.

"Seperti diketahui, seringkali Al-Qur'an "turun" secara spontan, guna menjawab pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian setelah Al-Qur'an rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisa serta perhitungan terhadap redaksi-redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan antara keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang bertolak belakang.

Untuk membuktikan adanya keseimbangan kata yang digunakan dalam Al-Qur'an, Dr. M. Quraish
Shihab mengambil contoh dari Al-I' jaz Al-Adabiy li Al-Qur'an Al-Karim karya Abdurrozaq Nawfal.

Beberapa di antaranya, adalah:

a. Keseimbangan kata yang bertolak belakang.

- Kata al-hayah (hidup) dan al-maut (mati), masing-masing disebut 145 kali.

- Kata al-naf' (manfaat) dan al-madhorroh (mudarat), masing-masing disebut 50 kali.

- Kata al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing disebut 4 kali.

- Kata as-sholihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing disebut 167 kali.

- Kata al-Thuma'ninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq(kesempitan/kekesalan), masing-masing disebut 13 kali.

- Kata ar-rohbah (cemas/takut) dan al-roghbah (harap/ingin), masing-masing disebut 8 kali.

- Kata al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definitif, masing-masing disebut 17 kali.

- Kata al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk Indifinitif, masing-masing disebut 8 kali.

- Kata al-shoyf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin) masing-masing disebut 1 kali.

b. Keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya (dua kata yang artinya sama).

-Al-harts dan al-Ziro'ah (membajak/bertani), masing-masing disebut 14 kali

-Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing disebut 27 kali

-Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing disebut 49 kali.

-Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing disebut 16 kali.

c. Keseimbangan antara jumlah kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.

- Al-infak (infak) dengan al-ridho (kerelaan), masing-masing disebut 73 kali

-Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasanah (penyesalan), masing-masing disebut 12 kali

-Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahroq (neraka / pembakaran), masing-masing 154 kali

-Al-Zakah (zakat/penyucian) dengan al-barokat (kebajikan yang banyak), masing-masing disebut 32 kali.

- Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghodb (murka), masing-masing disebut 26 kali

d. Keseimbangan jumlah kata dengan kata penyebabnya.

- Kata al-isrof (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesagesaan), masing-masing disebut 23 kali

- Kata al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing disebut 25 kali

- Kata al-asro (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing disebut 6 kali

- Kata al-salam (kedamaian) dan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali

e. Disamping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali sebanyak hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yang berarti "bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

2) Al-Qur'an menjelaskan bahwa langit ada "tujuh".

3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rosul (rosul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rosul dan pembawa berita tersebut, yakni 518 kali.

3. Kebenaran berita-berita gaibnya, salah satunya tentang Fir'aun.

Dalam Surat Yunus dikisahkan tentang Fir'aun yang tenggelam di laut merah sewaktu mengejar-ngejar Nabi Musa as. Ditegaskan pula bahwa "Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu (Fir'aun), agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami." (QS. 10/Yunus: 92) Yang diselamatkan Allah SWT adalah tubuh kasar Fir'aun yang memimpin pengejaran terhadap Nabi Musa as.

Firman Allah SWT benar adanya. Ahli purbakala, Loret pada tahun 1896 menemukan satu mumi di lembah raja-raja Luxor Mesir, yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah mengejar Nabi Musa as. Tubuh Fir'aun itu dibalsem dan tetap dalam keadaan utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di Museum Kairo. Siapa pun yang berkunjung ke sana dapat menyaksikannya.

4. Isyarat-isyarat ilmiahnya.

Dalam Al-Qur'an banyak isyarat-isyarat ilmiah. Diuraikan oleh Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya "Membumikan" Al-Qur'an bahwa banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Qur'an. Misalnya diisyaratkan bahwa "Sinar matahari bersumber dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan adalah pantulan (dan cahaya matahari)" (perhatiakan QS. 10/Yunus: 5). Atau bahwa jenis kelamin anak adalah hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanyalah bagaikan "lading" (QS. 2/Al-Baqoroh: 223), dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya belum diketahui manusia, kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya, kalau bukan dari Dia, Allah SWT. Tuhan yang Maha Mengetahui.

Keistimewaan Al Qur'an

Keistimewaan Al Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab suci yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril as. "Dan sungguh (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)". (QS. 26/ Asy-Syu'aro: 192-193) "Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki 'Arsy,". (QS. 81/ At-Takwir: 19-21) "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula memelihara-Nya (QS. 15/ Al-Hijr: 9) Ayat yang terakhir inilah yang memberi jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Qur'an sepanjang masa. Dan memang sudah terbukti semua usaha pemalsuan ayat-ayat Al-Qur'an oleh orang-orang yang memusuhi Islam selama ini selalu dapat digagalkan.

Kitab Suci umat Islam ini memiliki beberapa nama:

1. Adz-Dzikru (Peringatan). "Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah." (QS. 3/Ali Imron: 58)

2. Al-Kitab atau Kitabullah. "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa" (QS. 2/ Al-Baqoroh: 2) Makna takwa di sini adalah mengikuti segala perintah Allah SWT, dan menjauhi segala larangan-Nya.

3. Al-Qur'an. "Bulan Romadhon adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). QS. 2/ Al-Baqoroh: 185)

4. Al-Furqon (pembeda). "Dia menurunkan Al-Furqon (pembeda antara yang benar dan yang salah ). Sungguh orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat". (QS. 3/ Ali Imron: 4) "Maha suci Allah yang telah menurunkan Furqon kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)." (QS. 7/Al-Furqon: 1)

5. Huda (petunjuk). "Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar huda (petunjuk, yakni Al-Qur'an), kami beriman kepadanya. Maka barangsiapa beriman kepada Tuhan, maka tidak perlu ia merasa takut atau berdosa." (QS. 72/ Al-Jin: 13)

Sebagai seorang muslim, kita wajib mempelajari Al-Qur'an. Allah SWT berfirman, "Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran". (QS. 38/Shod: 29) Tentu saja cara mempelajarinya adalah dengan membacanya, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajari (manusia) dengan kalam (pena)." (QS. 96/ Al-'Alaq: 1-4) Yang dimaksud kalam dalam ayat tersebut adalah sarana tulisan dan bacaan sebagai kunci ilmu dan pengetahuan agama.

Sebelum membaca Al-Qur'an kita dianjurkan berlindung kepada Allah SWT, "Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk". (QS. 16/An-Nahl: 98) Membacanya juga dilarang tergesa-gesa, "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (QS. 73/ Al-Muzammil: 4). Dan jika ada orang yang membaca Al-Qur'an dalam suatu pertemuan, kita dianjurkan mendengarkannya. "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah supaya kamu mendapat rahmat". (QS. 7/Al-A'rof: 204) Jadi jika dibacakan Al-Qur'an kita wajib mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik di dalam sholat maupun di luar sholat. Kecuali dalam sholat berjama'ah, makmum boleh membaca surat Al-Fatihah sendiri atau mendengarkan saja ketika imam membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

Membaca Al-Qur'an ini terhitung ibadah yang utama. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Seutama-utama ibadah ummatku adalah membaca Al-Qur'an." (HR. Abu Nua'im). Dengan demikian apabila kita ingin melakukan ibadah yang utama setelah melaksanakan ibadah yang wajib, maka bacalah Al-Qur'an. Pahala membacanya cukup besar, sebagaimana ditegaskan dalam hadits,

"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an), maka baginya pahala satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu digandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak bermaksud (mengatakan) Alif Laam Miimsatu huruf, melainkan alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf" (HR. Tirmidzi)

Yang dimaksud membaca Al-Qur'an bukan sekadar melafalkannya di lisan saja. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Bacalah Al-Qur'an tentang sesuatu yang melarangmu (dari perbuatan maksiat), dan jika dia tidak dapat mencegahmu (dari berbuat maksiat) maka kamu tidak membacanya." (HR. Thobroni) Jelaslah bahwa yang dimaksudmembaca Al-Qur'an adalah selain mengucapkannya di lisan, juga harus menghayati, dan mengamalkan isinya.

Mempelajari Al-Qur'an adalah suatu kewajiban, dan jika sudah menguasainya, maka kita dituntut mengajarkan kepada sesamamuslim yang masih awam. Dalam hal mempelajari Al-Qur'an ini, ada dua tingkatan:
a) hanya belajar membaca lafadz-lafadznya dalam bahasa Arab; dan
b) mempelajari Al-Qur'an berikut arti (terjemahan) dan maksudnya.

Kini sudah saatnya setiap muslim tidak hanya pandai membaca dan menghafal Al-Qur'an, melainkan juga wajib memahami maknanya dengan baik dan benar. Dan orang yang mau belajar Al-Qur'an, lalu mengajarkannya kepada orang lain itulah orang yang terbaik. Muhammad Rosulullah saw. bersabda, "Orang yang paling baik di antara kalian ialah orang yang belajar Al-Qur'an danmengajarkannya (kepada orang lain)." (HR. Bukhori, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Sejarah Kitab Injil

Sejarah Kitab Injil
Injil adalah kitab yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Isa as. (Yesus Kristus), putra dari Maryam. Firman Allah SWT. "Dan Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebenarnya, yaitu Taurot. Dan Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurot, dan sebagai petunjuk serta pengejaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. 5/ Al-Maidah: 46)

Kata Injil semula berasal dari bahasa Yunani euangelion yang berarti kabar gembira. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab menjadi Injil. Makna dari kabar gembira yang dimaksud adalah karena Nabi Isa as. menggembirakan para umatnya dengan berita akan kedatangan Muhammad saw sebagai utusan Allah SWT yang terakhir untuk seluruh alam. Nabi Isa as. mengajarkan Injil kepada para pengikutnya hanya selama tiga tahun. Tepatnya sejak usia 30 sampai usia 33 tahun. Lalu is diangkat/diselamatkan oleh Allah SWT dari pengejaran kaum Yahudi yang ingin menyalibnya.

Dalam berdakwah Isa almasih dibantu oleh dua belas orang muridnya yang dalam Islam dikenal dengan sebutan Hawariyyun (murid-murid Nabi Isa yang sangat setia). Mereka ialah:
1) Andreas
2) Simon Petrus
3) Barnabas
4) Matius
5) Yahya bin Zabdi
6) Ya'kub bin Zabdi
7) Thadeus
8) Yahuda
9) Bartholomeus
10) Pilipus
11) Ya'kub bin Alpius
12) Yahuda Iskariot

Isi yang terkandung dalam Injil ini berbeda dengan kitab-kitab terdahulu. Kitab Taurot mengajarkan tentang Tauhid (ke-Esa-an Allah SWT), dan Kitab Zabur mengajarkan puji-pujian (zikir dan doa) kepada Allah SWT, sedangkan Injil mengajarkan tentang pembersihanjiwa-raga dari kekotoran (nafsu duniawi). Dengan kata lain, Injil mengajak manusia untuk hidup zuhud, yakni pola hidup yang tidak mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi.

Sebagai umat Islam kita wajib mempercayai bahwa Injil merupakan kitab dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Akan tetapi umat Kristen berpendapat lain. Menurut mereka, Injil adalah kisah atau laporan yang disusun oleh para pengikut Isa Almasih tentang kehidupan Isa Almasih, termasuk tentang pengajarannya kepada Bani Israil atau Bangsa Yahudi agar mereka beragama secara benar.

Penting untuk kita ketahui, bahwa Injil yang beredar sekarang ini berbeda dengan aslinya. Kalau begitu dari manakah Injil yang ada saat ini? Tidak lain karya orang-orang Yahudi yang ditulis beberapa waktu lamanya setelah Nabi Isa as. wafat. Pada mulanya beredar puluhan Injil, namun dalam Synodes (muktamar gereja-gereja) di Nicaea, yaitu suatu tempat di Asia Kecil, dekat Konstantinopel pada tahun 325 M yang diadakan oleh Kaisar Constantinus, diputuskan hanya empat injil yang sah.

1. Injil Matius karya Santo Matius yang disebut juga Lewi anak Alpius, seorang Yahudi yang mula-mula bekerja sebagai pegawai pemungut pajak.

2. Injil Markus karya Markus bin Maryam. Sesungguhnya Markus adalah nama gelar, sedangkan namanya sendiri adalah Yohana atau Yahya. Semula ia seorang beragama Yahudi, kemudian masuk Kristen di tangan Petrus. Riwayat lain mengatakan bahwa penulis Injil Markus adalah guru markus, ialah Petrus.

Markus adalah kemenakan dari Barnabas, yang juga penulis Injil. Berdua mereka mengembara (untuk berdakwah) mengabarkan Injil ke Roma, Afrika Utara dan akhirnya menetap di Mesir. Ia meninggal dunia karena dibunuh oleh para penyembah berhala pada tahun 62 M.

Markus, menurut Ibnu Batrik yang juga penulis Masehi, tidak mengakui ketuhanan Yesus. Pahamnya ini diikuti oleh pemeluk Nasrani di daerah dakwahnya seperti Afrika Utara, Mesir, dan Habsy. Itulah sebabnya Najasi, Raja Habsyi pada masa Nabi Muhammad saw. juga percaya sepenuhnya bahwa Isa anak Maryam bukanlah Tuhan, melainkan nabi dan rosul sebagaimana nabi-nabi dan rosul-rosul Tuhan yang lain.

3. Injil Lukas dikarang oleh Lukas, seorang tabib kelahiran Antiokia, Yunani. Sumber lain mengatakan, bahwa ia seorang tukang gambar. Ia murid Paulus, dan keduanya tidak pernah bertemu dengan Yesus. Dengan demikian baik Yahya maupun Paulus bukanlah murid Yesus.

4. Injil Yahya. Menurut Encyclopedia Britanica, Injil Yahya ditulis pada tahun 100 M dan Kitab wahyunya tahun 96 M oleh seorang ketua Gereja bernama Yahya atau John the Presbyter yang tinggal di Episus. Jelaslah bahwa Injil Yahya bukan karya Yahya bin Zabid — Murid Yesus, sebab ia terbunuh pada tahun 70 M.

Prof. Stadlein menegaskan bahwa Injil Yahya dikarang oleh seorang mahasiswa dari perguruan Iskandariyah pada abad kedua masehi. Pendapat inilah yang cukup beralasan. Mengapa? Injil Yahya mengajarkan ketuhanan Yesus, di mana ajaran tersebut mula-mula datang dari mazab Iskandariyah yang kemudian disahkan oleh Kongres Nicea pada tahun 325 M semasa Kaisar Constantinus.
Yang jelas Injil Yahya sengaja ditulis untuk menegaskan tentang ketuhanan Yesus. Tentang sejarah penulisan Injil Yahya ini lebih lengkap dan jelas diterangkan dalam buku Kuliah Aqidah Lengkap karya Drs. Humaidi Tatapangarsa (terbitan Bina Ilmu, Surabaya).

Bahwa Injil Yahya mengajarkan ketuhanan Yesus memang dapat dimaklumi, sebab ia ditulis oleh pengarangnya memang untuk tujuan itu atas desakan dari orang-orang disekitarnya.

Seorang penulis Masehi dari Libanon, jerjis Zuwen mengatakan: "Sesungguhnya Syirbantus dan Abisu beserta pengikut mereka di waktu mengajarkan agama Masehi berpendapat bahwa Al-Masih tidak lain adalah seorang manusia dan dia tidak ada sebelum ibunya Maryam. Oleh karena itu pada tahun 96 berkumpullah semua pendeta Asia dan lain-lain di tempat Yahya. Mereka mengharapkan agar Yahya menulis tentang Al-Masih dan menyerukan sebuah Injil yang belum ditulis oleh ahli-ahli Injil yang lain. Lalu ditulisnya dengan cara tersendiri tentang ketuhanan Al-Masih."

Penulis Masehi lainnya, Yusuf Al-Dubai Al-Khouri menerangkan pula. "Sesungguhnya yahya mengarang Injilnya pada penghabisan hidupnya atas permohonan pendeta-pendeta Asia.

Penyebabnya adalah karena di sana terdapat beberapa golongan yang mengingkari ketuhanan Al-Masih. Mereka meminta kepadanya agar ditegaskan ketuhanan Al-Masih itu dan disebutkan apa-apa yang ditinggalkan oleh Matius, Markus dan Lukas dalam Injil-injil mereka."

Jadilah Injil Yahya adalah satu-satunya Injil, di antara keempat Injil, yang diakui sah oleh kalangan gereja, yang secara tegas mengajarkan ketuhanan Yesus.

Injil-injil selain yang keempat itu dinyatakan sebagai injil Apocrypha (injil-injil yang tidak sah, yang dilarang terbit dan harus dimusnahkan). Injil-injil yang dinyatakan tidak sah tersebut, antara lain:
1. Injil Andreas
2. Injil Apeles
3. Injil Barnabas
4. Injil Duabelas
5. Injil Ebionea
6. Injil Ibrani
7. Injil Marcion
8. Injil Maria
9. Injil Mathias
10. Injil Nicodemus
11. Injil Orang-orang Mesir
12. Injil Philip
13. Injil Thomas
14. Injil Yakobus
15. Injil Yudas Iskariot

Sebagai umat Islam, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi keempat Injil (karya Matius, Markus, Lukas, dan Yahya) yang ada sekarang ini? Umat Islam cukuplah mempercayai bahwa Allah SWT pernah menurunkan Kitab Injil kepada nabi Isa as. Akan tetapi Injil yang murni atau benar-benar berisi kumpulan firman Allah SWT kini sudah tidak ada lagi. Maka kita sebagai umat Islam dilarang mempercayai isi keempat Injil tersebut.

Ditegaskan dalam Ensiklopedi Islam Indonesia karya Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: Djambatan, 1992.

Berdasarkan keterangan Al-Qur'an dan dengan menganalogikan Injil dengan Al-Qur'an, maka umat Islam memandang bahwa Injil yang seharusnya menjadi pegangan umat Kristen haruslah satu versi seperti Al- Qur'an; ia haruslah merupakan himpunan murni firman-firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Isa Al-Masih dan kemudian ia sampaikan kepada para pengikutnya. Injil itu seharusnya berbahasa Aramea, karena Nabi Isa Al-masih dan kaumnya berbahasa Aramea.

Di antara semua Injil yang tersebut di atas, baik yang sah maupun tidak, sesungguhnya Injil Barnabas yang menarik perhatian, terutama bagi umat Islam. Isi Injil Barnabas banyak persamaannya dengan yang diberitakan dalam Al-Qur'an. Sebab dalam kitab tersebut, antara lain, diterangkan juga:

1) Yesus tidak disalib, yang disalib sebenarnya Yudas Iskariot yang telah diserupakan oleh Tuhan, baik rupa maupun suaranya, dengan rupa dan suara Yesus. Sedang Yesus sendiri loncat bersama malaikat dan terus diangkat ke hadirat Allah SWT (Pasal 215, 216, dan 217).

2. Yesus bukan anak Allah, bukan pula Tuhan, tetapi seorang rosul (utusan) Allah

3. Bahwa putra Nabi Ibrohim as. yang akan disembelih karena perintah Allah SWT adalah Ismail, bukan Ishaq seperti yang tersebut dalam Perjanjian lama yang ada sekarang ini.

4. Mesias (yang dimaksudkan di sini "pembebas dunia" atau "juru selamat" ) atau Almasih yang dinanti-nantikan itu bukan Yesus akan tetapi Muhammad — nabi dan rosul Allah yang terakhir.

Hanya saja, yang patut disesalkan, Injil Barnabas oleh Pihak Gereja digolongkan sebagai Injil yang tidak sah, sehingga ditarik dari peredaran dan dimusnahkan. Tetapi pada tahun 1709, Cremer Toland, seorang penasihat Raja Prusia menemukan naskah tertua Injil Barnabas dalam bahasa Italia yang semula tersimpan rapi di perpustakaan seorang terkemuka di Amsterdam. Dari naskah berbahasa Itali itulah dibuat terjemahannya ke bahasa lain seperti bahasa Inggris, Sepanyol dan Arab.

Penerjemahan Injil Barnabas dari bahasa Itali ke Bahasa Arab dilakukan oleh Dr. Kholil Sa'adah pada tahun 1908, dan dimuat dalam majalah Al-Manar terbitan Mesir. Dari Injil Barnabas berbahasa Arab itulah, Husein Abubakar dan Abubakar Basymeleh menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Isi Kitab Zabur

Isi Kitab Zabur
Kitab Zabur adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Dawud as. "Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud." (QS. 17/Al Isro': 55)

Kata zabur (bentuk jamaknya zubur) berasal dari zabara-yazburuzabr yang berarti menulis. Makna aslinya adalah kitab yang tertulis. Zabur dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan mazmuur (jamaknya mazamir), dan dalam bahasa Ibroni disebut mizmor. nyanyian rohani yang dianggap suci)
Kitab Zabur berisi kumpulan mazmur, yakni nyanyian rohani yang dianggap suci (Inggris: Psalm) yang berasal dari Nabi Dawud as. 150 nyanyian yang terkumpul dalam kitab ini berkisah tentang seluruh peristiwa dan pengalaman hidup Nabi Dawud as. mulai dari mengenai kejatuhannya, dosanya, pengampunan dosanya oleh Allah, suka-cita kemenangannya atas musuh Allah, kemuliaan Tuhan, sampai kemuliaan Mesias yang akan datang. Dengan demikian jelaslah bahwa kitab ini sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat (peraturan agama), karena Nabi Dawud as. diperintahkan oleh Allah SWT mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa as.

Secara garis besarnya, nyanyian rohani yang disenandungkan oleh Nabi Dawud as. terdiri dari lima macam:
# ratapan dan doa individu;
# ratapan-ratapan jamaah;
# nyanyian untuk raja;
# nyanyian liturgy kebaktian untuk memuji Tuhan; dan
# nyanyian perorangan sebagai rasa syukur.

Nyanyian pujian dalam Kitab Zabur antara lain, Mazmur: 146

1) besarkanlah olehmu akan Allah. Hai Jiwaku pujilah Allah.

2) maka aku akan memuji Allah seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada Tuhanku selama aku ada.

3) janganlah kamu percaya pada raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan.

4) maka putuslah nyawanya dan kembalilah ia kepada tanah asalnya dan pada hari itu hilanglah segala daya upayanya.

5) maka berbahagialah orang yang memperoleh Ya'qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada Tuhan Allah.

6) yang menjadikan langit, bumi dan Taut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya.

7) yang membela orang yang teraniaya dan yang memberi makan orang yang lapar. Bahwa Allah membuka rantai orang yang terpenjara.

8) dan Allah membukakan mata orang buta, Allah menegakkan orang yang tertunduk, dan Allah mengasihi orang yang benar.

9) bahwa Allah akan berkerajaan kelak sampai selama-lamanya dan Tuhanmu, hai Zion! Zaman berzaman. Besarkanlah Allah olehmu.

Mazmur (nyanyian rohani yang dianggap suci) itulah yang kini dimuat dalam Perjanjian Lama.

Menurut Dr. F.L. Bakker, pendeta Kristen dari Belanda dan penulis buku Sejarah Kerajaan Allah (judul aslinya: Geschiedenis der Gods Openbaring) dari 150 nyanyian rohani dalam Perjanjian Lama itu, hanya 73 di antaranya yang berasal dari Nabi Dawud as. (yakni mazmur 3-9, 11-32, 34-41, 51-65, 68-70, 86, 101, 103, 108-110, 122, 124, 131, 138-145). Selebihnya adalah mazmur dari putra-putra Korah (yaitu mazmur: 42, 44-49, 84, 85, 87, 88), mazmur Asaph (50, 73-83), mazmur Ma'a lot (120-134), dan mazmur Haleluyah (104-106, 111-113, 115-117, 135, 146-150),

Contoh Dakwah Islam - Artikel Populer